TRIBUN-TIMUR.COM, PINRANG — Menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Pinrang Sulawesi Selatan ditemukan terdapat ulat hidup.
Ulat tersebut ditemukan bercampur dalam sayur pepaya kacang hijau.
Temuan itu terjadi pada menu MBG Jumat (4/9/2026) di Kelurahan Penrang.
Penerima manfaatnya merupakan ibu hamil, ibu menyusui dan balita atau kelompok 3B.
Menurut Plt Lurah Penrang, Asrul B Panrita, makanan belum sempat dikonsumsi.
Makanan langsung difoto setelah penerima manfaat menemukan ulat di dalam sayur.
Temuan tersebut kemudian dilaporkan kepada kader Posyandu yang membagikan makanan.
Menu MBG hari itu terdiri dari nasi, telur bumbu balado, tempe crispy dan apel.
Baca juga: Viral Beda Menu dan Foto Makanan Berulat di Penrang Pinrang
Selain itu, terdapat sayur pepaya muda kacang hijau dalam paket makanan tersebut.
Pihak Kelurahan Penrang menyebut terdapat tiga SPPG yang memasok makanan ke wilayahnya.
Ketiganya yakni SPPG Penrang, Macorawalie 1 dan Macorawalie 4.
Asrul mengatakan informasi menu SPPG Macorawalie 4 diperoleh melalui Penyuluh KB.
Menu dari SPPG Macorawalie 4 pada hari tersebut berupa sayur pepaya muda kacang hijau.
Makanan yang ditemukan berulat juga berupa olahan sayur pepaya.
"Betul ada (ulatnya). Belum sempat dimakan (balitanya), langsung difoto lalu dikirimkan ke kader yang membagi," kata Asrul.
Dinas Kesehatan Pinrang kini memeriksa makanan yang dilaporkan tersebut.
Namun, Kepala SPPG Macorawalie 4, Muhammad Nur Mahmud belum memastikan makanan itu berasal dari dapurnya.
"Saya tidak bisa langsung mengiyakan bahwasanya ini menu saya," ujar Nur Mahmud kepada Tribun-Timur.com, Senin (7/9/2026).
Nur Mahmud mempertanyakan waktu laporan yang diterimanya sekitar pukul 14.00 Wita.
Menurutnya, makanan dimasak sekitar pukul 04.30 Wita dan disalurkan pukul 09.30 Wita.
Ia menyebut laporan tersebut diterima sekitar empat setengah jam setelah makanan disalurkan.
Nur Mahmud juga mempersoalkan wadah makanan dalam foto yang beredar.
Menurutnya, makanan MBG seharusnya tetap berada dalam wadah resmi selama proses penyaluran.
"Pada ompreng kan ada larangan untuk dibawa pulang, tapi foto yang beredar itu dirantang," katanya.
Ia mengatakan kondisi tersebut membuat pihaknya belum bisa memastikan asal makanan.
"Tidak ada komponen bahwasanya itu menu MBG, tidak ada omprengnya," tuturnya.
Nur Mahmud juga memastikan dapurnya menerapkan quality control dalam proses produksi.
Pemeriksaan dilakukan sejak bahan baku diterima hingga makanan selesai diolah.
Tahapannya meliputi pemeriksaan bahan, pencucian, persiapan dan pengolahan.
Relawan juga diwajibkan menggunakan sarung tangan, celemek dan pelindung rambut.
Sebelum makanan didistribusikan, dilakukan uji organoleptik oleh ahli gizi.
"Sebelum didistribusikan juga ada uji organoleptik dari ahli gizi untuk memastikan makanan aman," ucapnya.
Meski demikian, temuan ulat pada makanan penerima manfaat tetap menjadi persoalan yang perlu dievaluasi.
Apalagi sasaran penerima manfaat merupakan ibu hamil, ibu menyusui dan balita.
SPPG Macorawalie 4 menyatakan akan melakukan evaluasi terhadap seluruh relawan.
Pengawasan quality control juga akan diperketat setelah adanya temuan tersebut.
"Paling pertama evaluasi besar-besaran untuk setiap relawan untuk lebih teliti," tegas Nur Mahmud.(*)