Jalur Tikus Jadi Celah Masuk TN Way Kambas, TNI Dorong Pos Pemantau di Desa Penyangga
taryono September 07, 2026 11:19 PM

Tribunlampung.co.id, Lampung Timur - Banyaknya jalur tidak resmi atau "jalur tikus" yang menjadi akses keluar-masuk kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) membuat pengawasan di wilayah perbatasan dinilai perlu diperketat.

Baca juga: BMKG: Sebaran Abu Vulkanik Akibat Erupsi GAK Mencapai Sumatera Selatan

TNI mendorong pembangunan pos-pos pemantau di titik strategis setiap desa penyangga untuk menekan aktivitas ilegal di kawasan konservasi tersebut.

Warga desa penyangga TNWK, Heri Suseno, mengatakan akses menuju kawasan hutan cukup luas sehingga tidak seluruh pergerakan masyarakat dapat terpantau. Kondisi itu, menurutnya, membuat jalur-jalur alternatif menjadi celah bagi pihak yang ingin masuk ke kawasan tanpa melalui akses resmi.

"Saya menyambut baik usulan dari pihak TNI agar disiapkan pos pemantau di setiap desa penyangga TNWK. Akses masuk hutan ini sangat luas dan sering dijangkau melalui jalur-jalur 'tikus' atau jalur bawah, sehingga pengawasan ketat di batas desa memang sangat diperlukan," tegas Heri, Senin (7/9/2026).

Heri yang kerap mencari ikan di sekitar kawasan konservasi itu mengaku melihat langsung perubahan kondisi hutan di bagian dalam TNWK. Ia menyebut sejumlah area yang sebelumnya memiliki banyak pohon besar kini tampak lebih terbuka dan didominasi semak belukar serta rawa-rawa.

"Saya sering keluar masuk hutan untuk mencari ikan. Ternyata di tengah hutan itu kondisinya lebih lapang ketimbang kebun di belakang rumah saya. Pohonnya bisa dihitung dengan jari karena mayoritas sudah menjadi semak belukar dan rawa-rawa," ungkapnya.

Menurut Heri, berkurangnya tutupan pohon di kawasan tersebut tidak terlepas dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berulang setiap musim kemarau. Ia juga menyoroti ulah oknum masyarakat yang tidak bertanggung jawab sebagai salah satu persoalan yang memperparah kondisi kawasan.

Kerentanan tersebut kemudian menjadi perhatian jajaran TNI. Ketua Satgas Karhutla Mabes TNI Khusus Lampung Timur, Brigjen TNI Tommy Arief Susanto, menegaskan penanganan karhutla di kawasan hutan kini tidak lagi hanya berkaitan dengan persoalan lingkungan lokal.

Tommy menyebut kerusakan hutan yang terus berulang dalam kurun waktu 10 tahun terakhir telah menjadi persoalan serius. Menurutnya, keberadaan hutan tropis Indonesia, termasuk TNWK, memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan menahan laju pemanasan global (global warming).

"Dampak kerusakan vegetasi kini juga semakin terasa melalui ketidakpastian pola musim dan cuaca ekstrem," ujarnya.

"Es di kutub mulai mencair dan musim makin sulit kita prediksi. Tahu-tahu kita bilang kemarau malah hujan, atau sebaliknya hujan tapi kemaraunya sangat panjang. Ini semua teguran bagi kita manusia untuk lebih mensyukuri dan menjaga kelestarian alam," imbau Tommy.

Karena itu, pemulihan TNWK tidak hanya diarahkan pada penanaman kembali kawasan yang mengalami kerusakan, tetapi juga penguatan sistem pengamanan di sekitar desa penyangga.

Program tersebut mencakup reboisasi secara masif menggunakan tanaman keras lokal untuk menutup area yang telah gundul sekaligus mengembalikan fungsi ekosistem alami.

Di sisi pengamanan, pembangunan pos-pos pemantau di desa penyangga diharapkan dapat mempersempit ruang gerak pelaku aktivitas ilegal melalui jalur-jalur tidak resmi. Pengawasan juga akan diperkuat dengan patroli di batas kawasan.

Upaya berikutnya dilakukan melalui pencegahan karhutla dengan memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak membuka maupun membersihkan lahan menggunakan api. Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi potensi munculnya titik api (hotspot), terutama saat memasuki musim kemarau.

Tommy menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga kawasan konservasi. Warga desa penyangga, TNI, dan pengelola TNWK diharapkan dapat membangun sistem pengawasan yang berjalan secara berkelanjutan.

"Rangkaian upaya ini akan bermuara pada penguatan sinergi komunitas, di mana kolaborasi aktif antara warga desa penyangga, jajaran TNI, dan pengelola TNWK diandalkan untuk membangun sistem patroli serta pengawasan batas wilayah yang berkelanjutan," tutupnya.

(Tribunlampung.co.id / Fajar Ihwani Sidiq)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.