Hujan Abu Vulkanis Anak Krakatau, Dokter Tirta Bagikan Cara Aman Membersihkannya
taryono September 07, 2026 11:19 PM

Tribunlampung.co.id, Jakarta - Saat wilayah tempat tinggal diguyur abu vulkanis akibat erupsi Gunung Anak Krakatau, masyarakat disarankan tidak memperlakukannya seperti debu biasa.

Baca juga: Pembunuhan Kakak-Adik Diduga Direncanakan, Rendi dan Andika Siapkan 2 Pisau Sejak Malam

Warga sebaiknya mengenakan masker dan pelindung mata, mengurangi aktivitas di luar ruangan, serta berhati-hati ketika membersihkan abu yang menempel di tubuh maupun masuk ke dalam rumah.

Imbauan tersebut disampaikan influencer sekaligus tenaga medis Dokter Tirta Mandira Hudhi. Berdasarkan pengalamannya saat menangani dampak erupsi Gunung Kelud dan Gunung Merapi, ia mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan membersihkan material vulkanis.

Dokter Tirta menjelaskan, paparan abu secara berulang dapat mengganggu saluran pernapasan. Karena itu, penggunaan masker menjadi penting terutama bagi masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah ketika udara masih dipenuhi abu.

"Karena abunya itu kalau terhirup terlalu sering ke dalam saluran pernapasan itu bisa menyebabkan reaksi alergi dan bisa menyebabkan gangguan saluran pernapasan pada atas bahkan pada kondisi parah bisa menyebabkan bronkitis," jelasnya melalui akun Instagram miliknya.

Sebagai gantinya, abu dapat dibasahi terlebih dahulu menggunakan air sebelum dibersihkan. Cara tersebut membantu mengurangi abu yang beterbangan saat proses pembersihan berlangsung.

"Kalau kena muka itu segeralah gunakan facial wash yang proper. Jangan langsung kegesek karena bisa baret-baret serius coy," pesannya.

Selain menjaga kebersihan tubuh dan lingkungan rumah, masyarakat yang berada di wilayah terdampak juga dianjurkan membatasi kegiatan luar ruangan. Aktivitas seperti olahraga dapat dialihkan ke dalam ruangan hingga kondisi udara kembali lebih aman.

Sebaran abu tersebut terjadi di tengah peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau sejak Jumat (4/9/2026) malam. Erupsi menerus tercatat sekitar pukul 23.07 WIB dan disertai kemunculan lava fountain atau lontaran lava pijar dari kawah aktif.

Material vulkanis yang terangkat ke atmosfer kemudian terbawa angin menuju sejumlah wilayah. Abu dilaporkan telah mencapai kawasan Sukabumi, Karawang, hingga Jabodetabek, selain sejumlah daerah di sekitar Selat Sunda termasuk Lampung.

Kondisi tersebut membuat masyarakat di wilayah yang mengalami hujan abu perlu memperhatikan kualitas udara dan jarak pandang. Paparan abu dalam jumlah banyak, terutama jika terhirup, dapat mengganggu kesehatan sehingga penggunaan masker dan pembatasan aktivitas di luar ruangan menjadi langkah pencegahan.

Gunung Anak Krakatau saat ini masih berstatus Level II atau Waspada. Masyarakat juga diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif untuk menghindari potensi lontaran material vulkanik maupun bahaya lain selama erupsi berlangsung.

Perkembangan aktivitas gunung dan arah pergerakan abu masih perlu dipantau karena sebarannya dapat berubah mengikuti dinamika erupsi serta kondisi angin di atmosfer.

sumber: Tribundepok.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.