Kisah WNI Asal Lampung Terjebak di Hong Kong saat Anak Krakatau Erupsi | SAKSI KATA
TRIBUN-VIDEO — Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengganggu penerbangan menuju Jakarta.
Kondisi tersebut membuat dua warga negara Indonesia (WNI) asal Lampung, Fitri Wijayawan dan Adi Candra, harus mencari rute alternatif untuk dapat segera kembali ke Tanah Air.
Keduanya semula dijadwalkan terbang dari Hong Kong menuju Jakarta pada 5 September 2026.
Mereka bahkan telah berada di dalam pesawat dan menjalani proses boarding.
Namun, setelah sekitar empat jam menunggu, pesawat belum juga berangkat.
Menurut informasi yang disampaikan pilot, penerbangan mereka kemudian dibatalkan akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.
“Nah, setelah tiba di Hong Kong itu, kami sudah boarding, sudah masuk ke dalam pesawat. Sekitar masuk empat jam, tapi ternyata pesawat belum juga berangkat. Dan ternyata dapat kabar bahwasannya di Lampung sedang terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau,” ujar Adi melalui sambungan zoom kepada Tribunnews, dalam program Saksi Kata, Senin (7/9/2026).
Pembatalan tersebut membuat keduanya kembali ke Hong Kong dan harus mencari penginapan.
Menurut Fitri, maskapai hanya memberikan fasilitas hotel untuk satu malam.
“Kami harus pesan hotel lagi karena hak maskapai cuma kasih kita free satu stay di sana. Jadi kita harus cari cara, gimana caranya kita bisa cepat ke Indonesia,” ucapnya.
Keluarga di Lampung Ikut Cemas
Gangguan penerbangan tersebut membuat keluarga mereka di Lampung khawatir.
Apalagi, keluarga di kampung halaman ikut merasakan dampak abu vulkanik.
“Untuk pihak keluarga saya di Lampung itu cukup panik. Karena rumah kita lumayan dekat ya sama kondisi tersebut,” kata Fitri.
Menurut dia, keluarga mengabarkan kondisi di Lampung masih berdebu.
Warga juga diimbau menggunakan masker karena abu vulkanik menyebabkan mata terasa perih.
“Sekarang itu imbauan dari warga Lampung untuk pakai masker. Karena matanya perih kena debu. Lalu sudah pada ditumpukin debu-debu vulkaniknya,” ujarnya.
Meski demikian, Fitri mengatakan dirinya tidak terlalu panik karena sebagai warga Lampung, ia pernah mengalami kondisi serupa.
“Kita sebagai warga Lampung, hal ini pernah terjadi sebelumnya. Jadi sebenarnya tidak terlalu panik. Cuma paniknya itu justru kalau kita mau traveling, kita keluar negeri. Itu terganggu sekali dan kita tidak bisa memaksa juga karena fenomena alam tidak bisa kita duga,” katanya.
Tetap Tenang dan Ikuti Informasi
Fitri mengingatkan masyarakat yang menghadapi gangguan perjalanan akibat bencana alam agar tetap tenang dan aktif memantau informasi terbaru.
Menurut dia, keputusan harus diambil dengan cepat karena situasi penerbangan dapat berubah sewaktu-waktu.
“Kalau dari aku pribadi kalau dalam kondisi kayak gini kita harus tetap tenang sih, biar kita gampang ngambil keputusan. Karena kalau kita salah di langkah dikit aja itu bakalan fatal,” katanya.
Ia juga meminta masyarakat mengumpulkan informasi sebanyak mungkin dan memilah informasi yang perlu diprioritaskan.
“Dan kita harus benar-benar dapat banyak informasi sih, biar kita bisa filter. Mana nih yang harus kita prioritaskan. Itu aja sih. Dan sama berdoa dan berusaha sih intinya,” ujar Fitri.
Adi menambahkan, masyarakat yang berada di luar negeri perlu tetap terhubung dengan keluarga serta mengikuti informasi dan imbauan pemerintah.
“Yang pasti harus tetap terhubung sama keluarga. Terus sama informasi imbauan dari pemerintah. Terus aturan-aturan antarnegara juga, biar kalau terjadi apa-apa kita tetap dapat kompensasi ataupun perlindungan dari negara,” katanya.
Simak kisah perjalanan dan wawancara lengkapnya hanya di YouTube Tribunnews!