Cerita Ghalib Lahidjun: dari Aktivis hingga Terpilih Anggota DPRD Provinsi Gorontalo
Fadri Kidjab September 07, 2026 11:47 PM

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Perjalanan politik Ghalib Lahidjun tidak dimulai dari ambisi untuk menjadi seorang politisi.

Jauh sebelum duduk sebagai anggota DPRD Provinsi Gorontalo, Ghalib lebih dulu dikenal sebagai aktivis mahasiswa yang banyak terlibat dalam advokasi masyarakat.

Berbagai pengalaman selama menjadi mahasiswa, mulai dari memimpin Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), terlibat dalam organisasi kepemudaan, hingga mengadvokasi masyarakat yang menolak aktivitas pertambangan, menjadi bagian dari perjalanan panjangnya menuju dunia politik.

Ghalib mengaku justru lingkungan dan keadaanlah yang membentuk dirinya hingga akhirnya memilih politik sebagai jalan perjuangan.

Dalam sebuah kesempatan siniar Tribun Podcast yang dipandu jurnalis TribunGorontalo.com, Sandri Mooduto, Ghalib menceritakan bagaimana sederet pengalamannya.

Berikut TribunGorontalo.com merangkum tanya-jawab Ghalib di Tribun Podcast:

Bang Ghalib kini menjalani peran ganda sebagai politisi sekaligus anggota DPRD. Dengan kesibukan yang begitu padat, bagaimana cara menjaga kesehatan dan membagi waktu dengan keluarga?

Saya dulu pernah berdiskusi dengan Bang Akbar Tanjung, politisi senior. Beliau bilang, kalau sudah menjadi politisi itu harus senantiasa standby dalam keadaan berdiri, duduk, bahkan tidur. Jadi kalau orang sungguh-sungguh terjun ke dunia politik, jiwa dan raganya harus betul-betul ditumpahkan di situ.

Tapi dalam mengatur waktu, keluarga juga tidak boleh dilupakan. Bagaimanapun sebagai ayah dari anak-anak dan suami dari istri, tanggung jawab sebagai orang tua tetap harus dijalankan. Termasuk menjaga kesehatan. Hal-hal sederhana saja, misalnya olahraga. Tidak harus lari, bisa jalan atau jalan cepat.

Kemudian makanan juga harus diatur. Orang yang aktif berorganisasi biasanya ada dua masalah, lupa makan atau makan sembarangan. Dulu ketika masih kuliah, makanan sehari-hari itu mi. Kalau meningkat sedikit, nasi kuning.

Sekarang harus mulai diatur. Apalagi kegiatan politik dan kegiatan masyarakat sangat banyak. Kadang ada kegiatan partai, ada pekerjaan di kantor, ada undangan masyarakat seperti Maulid Nabi.

Kadang keluarga juga merasa kurang waktu. Anak mau menerima rapor, sementara ada kegiatan politik. Ini memang dilema yang harus dijalani. Tidak ada rumus pasti. Tinggal bagaimana mencari cara yang paling pas untuk membagi waktu.
Apakah sejak kecil sudah punya cita-cita menjadi seorang politisi?

Politisi itu unik. Dia tidak seperti pekerjaan yang sudah bisa direncanakan sejak kecil. Kalau orang dari kecil bercita-cita menjadi polisi, tentara, dokter, atau guru, sejak awal sudah dilatih menuju cita-cita itu. Kalau politisi tidak sekadar pekerjaan. Dia harus terbawa oleh jiwa. Saya sendiri masih terus belajar untuk bisa mencapai derajat sebagai politisi yang bagus.

Waktu kecil saya ikut orang tua yang berprofesi sebagai guru. Karena itu kami berpindah-pindah. Pernah tinggal di Dumoga, kemudian di Bolaang Mongondow Selatan, termasuk di Toluaya dan Molibagu. Di sana saya hidup bersama teman-teman yang orang tuanya petani dan nelayan.

Yang menarik, dulu di wilayah Sulawesi Utara ada daerah yang cukup rawan konflik. Acara apa pun kadang ada yang berkelahi. Saya waktu itu menjadi bagian dari anak-anak muda yang bukan gemar berkelahi, tetapi justru gemar bernegosiasi supaya keadaan aman. Mungkin itu menjadi cikal bakal kemampuan saya dalam bernegosiasi. Karena dalam politik, salah satu kemampuan penting adalah kemampuan bernegosiasi. Saya sejak kecil terbiasa hidup di tengah berbagai perbedaan, baik agama, budaya, maupun latar belakang masyarakat.

Mungkin itu menjadi modal ketika kemudian masuk ke dunia politik.

Bagaimana perjalanan dari seorang aktivis mahasiswa hingga akhirnya bisa menginjakkan kaki di kursi DPRD Provinsi Gorontalo?

Saya kuliah di Universitas Gorontalo. Aktivitas organisasi saya cukup banyak, baik intra maupun ekstra kampus. Saya pernah menjadi Presiden BEM Universitas Gorontalo selama dua periode. Saya juga aktif di berbagai paguyuban karena identitas asal daerah saya cukup beragam. Saya pernah aktif di paguyuban Buol, Bolaang Mongondow Selatan, Bone Bolango, dan lainnya. Kemudian saya aktif di HMI.

Walaupun saya HMI, senior-senior saya mengajarkan agar jangan terbatas pada warna bendera. Karena itu saya juga sering berdiskusi dengan senior-senior PMII dan IMM.

Saya belajar banyak dari berbagai organisasi. Dulu ketika menjadi Presiden BEM, kami bahkan membuat posko pengaduan masyarakat di depan kampus. Masyarakat bisa melaporkan kekerasan aparat maupun kesalahan kebijakan pemerintah.

Saya kuliah yang seharusnya empat tahun, selesai delapan tahun. Bukan karena tidak mampu menyelesaikan kuliah, tetapi karena banyak persoalan masyarakat yang kami advokasi.

Salah satu yang paling lama adalah mengadvokasi masyarakat yang menolak perusahaan tambang di wilayah Bolaang Mongondow Selatan. Hampir dua tahun kami mendampingi masyarakat dengan dukungan teman-teman WALHI Manado, Jaringan Advokasi Tambang, dan YLBHI Manado.

Dari situ kemudian ada senior politik yang melihat pengalaman tersebut. Almarhum Pak Rustam Akili kemudian mengajak saya masuk Partai Golkar. Setelah selesai menjadi Presiden BEM, saya masuk menjadi pengurus Golkar.

Karena pengalaman organisasi, saya kemudian mulai dilibatkan dalam berbagai agenda strategis. Sampai akhirnya ketika ada momentum politik, saya dipercaya menjadi juru bicara pemenangan Rusli Habibie dan Idris Rahim. Setelah pasangan itu menang, saya kemudian menjadi juru bicara gubernur. Jadi memang prosesnya panjang dan tidak direncanakan sejak awal untuk menjadi anggota DPR.

Apa yang membuat seseorang bisa bertahan di dunia organisasi dan politik?

Menurut saya, semua organisasi itu sama. Kalau kita lihat, niat pendiriannya tentu bagus. Masalahnya bukan pada organisasi, tetapi pada individu yang berorganisasi. Kalau orang berorganisasi hanya memikirkan target-target jangka pendek, tentu organisasi tidak akan berjalan maksimal. Tetapi kalau berorganisasi sungguh-sungguh untuk mengembangkan potensi, memperbanyak diskusi, membaca, memperluas jaringan, dan kemampuan analisis, saya yakin manfaatnya akan besar.

Saya dulu mendapat nasihat dari senior bahwa seorang organisatoris harus punya beberapa kemampuan. Pertama, kemampuan berpikir. Kedua, kemampuan berbicara.

Apa yang ada di kepala harus mampu ditransformasikan sehingga orang lain bisa memahami dan ikut mendukung.

Ketiga, kemampuan mengeksekusi. Jangan hanya pintar berdebat dan menyusun gagasan dalam rapat, tetapi ketika pelaksanaan tidak jalan. Keempat, kemampuan menyusun konsep. Sekarang sudah lebih modern. Ada PowerPoint, ada berbagai teknologi, dan bahkan bisa menggunakan AI. Kalau empat kemampuan itu dimiliki, saya kira luar biasa.

Mengapa memilih Partai Golkar sebagai kendaraan dalam berpolitik?

Pertama karena senior-senior saya banyak di Golkar. Kedua, kalau kita melihat politik di DPR, kemampuan partai dalam menunjukkan kekuatan politik juga penting.

Saya pernah punya teman yang pintar, idealis, dan sangat sayang kepada rakyat, tetapi hanya memiliki satu kursi. Akhirnya dia harus bergabung dengan fraksi lain untuk memperjuangkan sesuatu.

Karena itu saya selalu bilang kepada konstituen, ketika memilih anggota DPR, pertama lihat kemampuan personalnya. Banyak orang partainya kuat tetapi personality-nya lemah. Sebaliknya, ada orang hebat tetapi partainya lemah. Jadi dua-duanya penting, personal dan kekuatan partai.

Saya melihat Golkar di Gorontalo dari pemilu ke pemilu menjadi salah satu kekuatan politik utama di tingkat provinsi. Kekuatan politik itulah yang kemudian bisa menjadi modal bagi politisi untuk memperjuangkan harapan konstituen.

Siapa sosok yang paling berpengaruh dalam membentuk karakter politik Anda selama ini?

Setiap zaman ada tokohnya. Ketika masih kuliah, ada senior yang menjadi mentor. Ketika masuk dunia politik, tentu tokoh sentralnya adalah Rusli Habibie. Proses saya masuk Golkar pada 2009. Sebelumnya almarhum Pak Rustam Akili yang mengajak saya masuk Golkar. Kemudian Rusli Habibie banyak memberikan pembinaan, nasihat, dan membangun kesadaran politik saya. Selain itu ada juga senior-senior lain seperti Ibu Idah Syahidah dan Bu Wag.

Karakter yang paling saya pelajari adalah disiplin, integritas, konsisten, rajin, dan ulet. Sepintar apa pun orang, kalau integritasnya rusak, pada akhirnya orang tidak akan percaya.

Pak Rusli juga pernah memberikan nasihat kepada saya. Kalau kita berjuang dengan bermain setengah lalu menang, setelah menang harus bermain satu. Kalau saat berjuang bermain satu lalu menang, setelah menang harus bermain dua. Artinya, setelah mendapatkan amanah, kerja harus lebih maksimal.
Apa perbedaan paling besar antara masa-masa menjadi aktivis dulu dengan saat ini ketika duduk sebagai anggota DPRD?

Perbedaannya jauh. Dulu ketika masih di kampus, kita membela kepentingan rakyat dan kepercayaan publik terhadap aktivis cukup besar. Tetapi perjuangan itu tidak dibiayai negara. Modalnya hanya semangat.

Sekarang di DPR, kita dibiayai negara. Ada gaji, tunjangan, perjalanan dinas, dan sebagainya. Tetapi tantangannya adalah kepercayaan publik terhadap politisi.

Persepsi publik terhadap politisi sering kali buruk. Karena itu saya selalu mengatakan, perjalanan dinas jangan hanya dilihat dari anggarannya. Lihat juga kinerjanya.

Misalnya, pada 2025 saya melakukan perjalanan dinas ke Jakarta sebanyak 12 kali dengan anggaran sekitar Rp120 juta. Saya tidak setuju kalau perjalanan dinas DPR langsung dihilangkan.

Yang harus dilakukan adalah melihat apa yang dihasilkan dari perjalanan tersebut. Dalam perjalanan itu, kami mendorong lahirnya dua perda, yakni Perda Kepemudaan dan Perda Pengarusutamaan Gender. Kami juga mengadvokasi persoalan guru, termasuk persoalan data antara Dapodik dan EMIS. Ada persoalan yang memang harus dikonsultasikan langsung ke kementerian karena menyangkut perbedaan kebijakan antarlembaga.

Bagaimana cara memanfaatkan perjalanan dinas agar memberikan manfaat konkret bagi masyarakat?

Saya selalu berusaha memanfaatkan perjalanan dinas untuk mencari jaringan dan membawa manfaat tambahan kepada masyarakat. Contohnya masyarakat di Dungaliyo yang meminta tower telekomunikasi karena ada beberapa desa yang sulit mendapatkan jaringan.

Saya memanfaatkan jaringan yang saya punya dan akhirnya tower telekomunikasi senilai sekitar Rp1,4 miliar dibangun. 

Ada juga jalan tani yang kita perjuangkan melalui CSR BUMN. Kemudian bantuan kendaraan pengangkut sampah untuk beberapa kelurahan di Limboto. Ada juga bantuan pemasangan meteran listrik gratis bagi masyarakat di sejumlah wilayah.

Jadi perjalanan dinas itu bagi saya bukan hanya rapat lalu kembali ke hotel. Kalau hanya rapat, tidur di hotel, dan jalan-jalan di mal, tentu merugikan. Tetapi kalau kesempatan itu dimanfaatkan untuk membangun jejaring dan membawa manfaat bagi masyarakat, menurut saya itu bagian dari kinerja. Namun saya tidak bisa memastikan apakah anggota DPRD lainnya melakukan hal yang sama. Silakan ditanyakan kepada masing-masing anggota.

Bagaimana perhatian terhadap pembangunan sektor kepemudaan di Gorontalo saat ini?

Setelah Perda Kepemudaan ditetapkan, saya mendorong agar pemerintah daerah membantu membiayai pengkaderan organisasi kepemudaan. Selama ini organisasi ekstra kampus seperti HMI, PMII, dan lainnya banyak melakukan pengkaderan dengan biaya sendiri. Padahal, pengkaderan tersebut ikut berkontribusi terhadap peningkatan Indeks Pembangunan Pemuda.

Saya juga mendorong adanya Rencana Aksi Daerah Pelayanan Kepemudaan. Di Yogyakarta, hampir semua OPD memiliki program yang berorientasi pada pelayanan kepemudaan.

Misalnya, Dinas Pertanian punya program pemuda tani, kemudian ada program pemuda tangguh bencana, dan lainnya. Jadi urusan pemuda tidak hanya menjadi tanggung jawab Dinas Pemuda dan Olahraga. Kalau kita hanya menaruh anggaran besar di satu dinas, belum tentu efektif. Tetapi kalau program kepemudaan tersebar di berbagai OPD sesuai kewenangan masing-masing, dampaknya bisa lebih besar.

Yang lebih penting lagi, kita perlu punya desain besar pembangunan kepemudaan. Saat ini urusan pemuda belum memiliki desain besar yang jelas di daerah. Padahal. pemuda adalah masa depan. Kalau kita tidak punya desain tentang pemuda mau dibawa ke mana, berarti kita juga belum memiliki gambaran yang jelas tentang masa depan daerah.

Karena itu, saya berharap seluruh kabupaten dan kota di Gorontalo memiliki perda kepemudaan, rencana aksi daerah, dan visi pembangunan kepemudaan.

Selama ini pemuda sering sibuk mengurusi persoalan tambang, persoalan politik, dan persoalan lainnya. Tetapi urusan pemudanya sendiri justru belum banyak didorong. Ini yang harus kita ubah bersama. 

Tonton full wawancara eksklusif TribunGorontalo.com bersama Ghalieb Lahadjun:

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.