Antara Haru dan Gregetan, Dua Alumni Ini Saksi Sejarah Debut SMA Progresif Bumi Sholawat di DBL
Pipit Maulidya September 08, 2026 12:32 AM

SURYA.co.id - Atmosfer Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North pada Jumat (4/9) terasa sangat emosional bagi Arjuna Dwikiaji Putra Wardhana dan Muhammad Marvel Nasrullah.

Bagaimana tidak? Dua alumni SMA Progresif Bumi Sholawat Sidoarjo ini akhirnya melihat almamater tercinta menginjakkan kaki di lantai kayu DBL Arena—sebuah mimpi yang dulu sempat mereka perjuangkan namun belum sempat mereka rasakan sebagai pemain.

Perasaan campur aduk menyelimuti keduanya. Bangga karena sekolah mereka akhirnya "pecah telur" di kompetisi basket pelajar terbesar tanah air, namun terselip rasa penasaran karena status mereka kini sudah bukan lagi siswa, melainkan penonton di tribun.

Perjuangan Panjang dari Balik Pondok

Keinginan untuk membawa nama Bumi Sholawat ke panggung DBL sebenarnya sudah menggebu sejak Arjuna dan Marvel masih berstatus student-athlete. Namun, tantangan besar harus mereka hadapi kala itu karena status sekolah yang berbasis pondok pesantren.

“Cukup senang sih. Soalnya dari tahun-tahun sebelumnya memang sudah ingin ikut, tapi belum bisa karena berbasis pondok. Akhirnya sekarang kepala sekolah sudah membolehkan, jadi cukup senang,” ungkap Arjuna mengenang masa-masa ia mencoba melobi pihak sekolah.

Senada dengan Arjuna, Marvel mengakui bahwa jalan menuju DBL tidaklah instan. Dibutuhkan waktu bertahun-tahun hingga akhirnya restu itu turun. “Sudah lama mengajukan untuk ikut DBL, tapi masih belum terlaksana,” tambahnya.

'Gregetan' di Tribun dan Hubungan Erat dengan Junior

Meski sudah lulus tahun ini, ikatan batin Arjuna dan Marvel dengan tim basket sekolah tak luntur. Mereka bahkan sering menghabiskan waktu bermain basket bersama adik kelasnya setelah lulus. Arjuna bahkan mengaku memiliki kedekatan khusus dengan beberapa pemain seperti Almer, Ladio, dan Rifqi karena pernah menjadi teman sekamar (roommate).

Kedekatan inilah yang membuat Arjuna merasa sangat emosional saat menonton dari tribun. Ia seolah ingin melepas sepatu ketsnya dan melompat ke lapangan untuk membantu tim.

“Banget. Gregetan banget. Rasanya kayak pengin ikut main,” ujar Arjuna jujur.

Menghadapi 'Demam Panggung' di Laga Perdana

Debut SMA Progresif Bumi Sholawat memang tidak berjalan mulus secara skor. Mereka harus mengakui keunggulan SMAN 5 Surabaya dengan skor akhir 7-37. Namun, bagi para alumni, hasil bukanlah segalanya dalam sebuah penampilan perdana.

Marvel menilai kekalahan tersebut merupakan hal yang wajar mengingat mentalitas di panggung sebesar DBL Arena membutuhkan proses adaptasi yang kuat.

“Karena ini pertama kali mereka masuk DBL, mereka masih demam panggung karena pertama kali main di event yang besar. Tapi enggak apa-apa, nice try, bro,” pesan Marvel menyemangat juniornya.

Sebelum laga dimulai, kedua alumni ini pun sempat menitipkan pesan agar para pemain bermain lepas. “Jangan takut-takut kalau main. Jangan nervous,” tegas mereka.

Harapan Besar untuk Masa Depan Basket Bumi Sholawat

Kekalahan di laga debut ini dipandang sebagai batu loncatan. Arjuna dan Marvel berkomitmen untuk terus memberikan dukungan bagi perkembangan basket di almamaternya.

Mereka ingin memastikan bahwa tongkat estafet perjuangan ini terus berlanjut ke musim-musim berikutnya.

“Alumni-alumni, terutama yang basket, memang saling support. Kami ingin terus mendukung Bumi Sholawat. Masih ada event-event selanjutnya. Masih ada tahun depan. Bismillah bisa lolos DBL lagi,” pungkas Marvel dengan nada optimis.

Perjalanan SMA Progresif Bumi Sholawat di kancah basket pelajar baru saja dimulai. Dengan dukungan alumni yang solid, pengalaman di musim 2026 ini akan menjadi modal berharga untuk kembali lebih kuat di masa depan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.