Horor Macet Ketapang, Sopir Truk Tempuh 5 Km Selama 22 Jam, Menderita Kurang Tidur & Pemborosan BBM
Sudarma Adi September 08, 2026 01:14 AM

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Aflahul Abidin

TRIBUNJATIM.COM, BANYUWANGI - Para sopir truk tronton merasakan perjalanan yang melelahkan saat menghadapi kemacetan di jalan menuju Pelabuhan Ketapang, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Perjalanan yang hanya berjarak 5 kilometer (km) di Ketapang ditempuh dengan waktu hampir setara dengan perjalanan seribu km dari Jakarta-Banyuwangi.

Juniardi (40) masih tertahan di kantong parkir Bulusan, Ketapang, Senin (7/9/2026) sore. Sopir truk tronton yang membawa muatan paket itu sudah bosan menunggu jadwal naik kapal untuk menyebrang ke Bali.

Juniardi berangkat bersama sopir pengganti dari Jakarta pada Sabtu sore sekitar pukul 17.00 WIB.

Baca juga: Ramalan Cuaca Jatim Selasa 8 September 2026, Banyuwangi Hujan Ringan, Kota Batu Berkabut

Ratusan paket yang ia bawa hendak dibawa ke Denpasar, Bali. Perjalanan dari Jakarta hingga pintu masuk Kabupaten Banyuwangi bisa dibilang lancar.

"Full tol, jadi cepat," kata dia.

Pada Minggu sekitar pukul 18.00 WIB, Juniardi telah sampai di perbatasan Situbondo-Banyuwangi. Itu artinya perjalanan yang harus ditempuh dari Jakarta-Banyuwangi sekitar 25 jam.

Sekitar pukul 19.00 WIB, kendaraannya telah terjebak macet di daerah sekitar Watudodol, Kecamatan Wongsorejo.

Mulai dari sana, perjalanan amat lambat. Ia harus mengantre bersama ratusan truk lainnya.

Jalan kendaraan begitu pelan. Baru jalan beberapa meter, truk harus berhenti. Begitu terus hingga ia sampai di area parkir Bulusan esok harinya sekitar pukul 05.00 WIB.

Uang Jalan Habis dan Badan Mengalami Kelelahan Parah

Artinya, perjalanan yang harus ditempuh untuk jarak 5 km mencapai 22 jam. Hanya berselisih tiga jam dengan waktu yang dihabiskan untuk menempuh jarak lebih dari seribu km Jakarta-Banyuwangi.

"Setelah sampai Bulusan, masih menunggu lebih dari 10 jam, dan belum tahu kapan bisa menyebrang," lanjut pria asal Kabupaten Lamongan itu.

Juniardi sebenarnya sudah tahu bahwa kemacetan akan terjadi di Ketapang.

Informasi lalu lintas biasa ia dapat dari teman sesama sopir. Meski sudah siap dengan risiko tesebut, ia toh tetap mengeluh.

"Badan capek kurang tidur, uang berkurang, bahan bakar nambah," kata dia.

Sopir lain, Mudano, pun merasakan kecapekan yang sama.

Ia terjebak macet di jam-jam yang sama dengan Juniardi. Yang membuat semakin kesal, Mudano bukan sekali ini saja terjebak macet di jalur menuju Ketapang.

"Saya seminggu bisa tiga kali dari Surabaya ke Bali membawa pakan ternak. Sudah beberapa kali kena macet," ujar dia.

Mudano berangkat dari Surabaya Minggu (6/9/2026) sore dan sampau di Banyuwangi sekitar pukul 18.00 WIB.

Waktu tempuh itu jauh lebih pendek dibanding saat ia harus melewati kemacetan di jalur Ketapang yang hanya berjarak sekitar 5 km.

"Capek kalau macet terus. Perjalanan kurang tidur, lapar juga," kata dia. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.