Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela menyatakan, konsentrasi gas sulfur dioksida (SO2) di Kota Bandar Lampung bertahan pada kategori Tidak Sehat mencapai 210 hingga 223 mikrogram/meter kubik, selama lebih dari 72 jam.
Baca juga: Dampak Abu Vulkanik GAK, Itera Sebut Kualitas Udara Tidak Sehat
Perubahan mutu udara perkotaan tersebut dipicu oleh faktor pola hembusan angin ke arah barat laut dan utara yang membawa material gas vulkanik pasca-empat kali erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK).
Meskipun aktivitas erupsi berdurasi 10 hingga 19 detik di gunung berstatus Level III (Siaga) tersebut telah selesai, sebaran gas polutan masih mengendap di atmosfer kota.
Menanggapi situasi ini, Pemerintah Provinsi Lampung membagikan masker medis secara masif serta menerjunkan armada untuk menyiram jalan raya demi meminimalisasi risiko paparan racun udara pada warga.
Selain itu, masyarakat diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, membatasi ruang ventilasi rumah, serta menjauhi radius berbahaya tiga kilometer dari kawah aktif GAK.
Kondisi tersebut disampaikan langsung oleh Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela saat memimpin pemantauan kondisi kebencanaan di Pusdalops BPBD Provinsi Lampung.
"Di Bandar Lampung, konsentrasi SO2 masih berada pada kategori Tidak Sehat, yakni 210 hingga 223 mikrogram/meter kubik, tanpa penurunan berarti dan telah berlangsung lebih dari 72 jam. Namun, untuk kondisi debu partikulat di Bandar Lampung saat ini sudah kembali membaik," ujar Jihan Nurlela, saat press rilis di Pusdalops BPBD Provinsi Lampung pada Selasa (8/9/2026).
Sementara di Kabupaten Lampung Selatan, konsentrasi SO2 berada pada kategori sangat rendah dan aman di angka 39,6 mikrogram/meter kubik.
Kendati sempat terjadi lonjakan debu hingga kategori Tidak Sehat pada dini hari, kondisi tersebut bersifat lokal dan bukan dipicu oleh gas vulkanik.
Perbedaan dampak kualitas udara di kedua wilayah ini sepenuhnya dipengaruhi arah angin serta posisi geografis terhadap sumber erupsi GAK.
Berdasarkan data gabungan Pusdalops BPBD Provinsi Lampung, BMKG, dan PVMBG, aktivitas erupsi GAK terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 50 milimeter.
Gunung api tersebut tercatat empat kali erupsi pada rentang pukul 05.08 WIB hingga 11.34 WIB sebelum akhirnya mereda.
Guna menekan dampak buruk paparan gas dan abu vulkanik terhadap kesehatan masyarakat, Pemprov Lampung merespons cepat dengan meluncurkan sejumlah aksi penanganan darurat.
"Hari ini kami telah membagikan masker gratis di beberapa titik wilayah terdampak, terutama kawasan yang berdekatan dengan radius Gunung Anak Krakatau."
"Kami juga mengerahkan petugas untuk melakukan penyiraman jalan di sejumlah wilayah guna mengikat dan mengurangi paparan debu," jelas Jihan.
Mengingat arah embusan angin dapat berubah sewaktu-waktu, lanjut Jihan, pemantauan kualitas udara di Bandar Lampung dan Lampung Selatan terus dilakukan secara intensif.
Pemprov Lampung mengimbau warga untuk mengenakan masker saat terpaksa beraktivitas di luar rumah, menutup celah ventilasi tempat tinggal, serta menunda aktivitas olahraga outdoor.
Pengunjung dan wisatawan juga dilarang keras mendekati area Gunung Anak Krakatau dalam radius aman tiga kilometer dari kawah.
(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto)