Kasus ISPA di Rejang Lebong Capai 1.326 Kasus pada Agustus 2026, September Diprediksi Masih Tinggi
Hendrik Budiman September 08, 2026 04:40 PM

 

Laporan Wartawan TribunBengkulu.com, M Rizki Wahyudi

TRIBUNBENGKULU.COM, REJANG LEBONG - Kualitas udara di Kabupaten Rejang Lebong selama musim kemarau menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai.

Ini karena dapat meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Kondisi tersebut menjadi perhatian Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Rejang Lebong, terlebih setelah sejumlah wilayah juga terdampak asap kiriman akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah di Sumatera. 

Kepala Dinkes Rejang Lebong, drg Asep Setia Budiman, didampingi Kasi P2PM, Titin Julita, mengatakan masyarakat perlu memperhatikan kondisi udara selama musim kemarau.

Paparan asap dan debu dapat memengaruhi kondisi saluran pernapasan masyarakat.

Karena itu, Dinkes mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama saat melakukan aktivitas di luar rumah.

Baca juga: Asyik Main Kano di Danau Mas Harun Bastari, Motor Pengunjung Malah Digondol Maling

"Kualitas udara menjadi salah satu faktor penyebab kasus ISPA, apalagi tercampur asap dan debu, ini yang perlu kita waspadai bersama,"sampai Asep kepada TribunBengkulu.com pada Selasa (8/9/2026).

Kasus ISPA Agustus Capai 1.326, September Diprediksi Masih Tinggi

Berdasarkan data Dinkes Rejang Lebong, tercatat 1.326 kasus ISPA sepanjang Agustus 2026.

Kasus tersebut terdiri dari 247 kasus pada balita, 223 kasus anak-anak, 193 kasus remaja, 515 kasus dewasa dan 148 kasus lansia.

Kelompok dewasa menjadi kelompok dengan jumlah kasus terbanyak, yakni mencapai 515 kasus.

Dinkes Rejang Lebong memperkirakan kasus ISPA pada September 2026 juga masih akan cukup tinggi, seiring kondisi musim kemarau dan perubahan kualitas udara yang terjadi di sejumlah wilayah.

"Untuk September, kita memperkirakan angkanya masih cukup tinggi karena kondisi cuaca dan udara sejauh ini,"lanjutnya. 

Kondisi udara yang kurang baik dapat meningkatkan risiko gangguan pada saluran pernapasan.

Risiko tersebut perlu lebih diperhatikan oleh masyarakat yang sebelumnya memiliki gangguan atau penyakit pada organ pernapasan.

"Kami anjurkan menggunakan masker, terutama saat beraktivitas di luar rumah, mari mewaspadai gangguan saluran pernapasan,"katanya.

Kabut asap akibat karhutla juga disebut dapat menjadi faktor tambahan yang berpotensi memperburuk kondisi saluran pernapasan.

Masyarakat diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan seperti batuk, sesak napas, sakit tenggorokan atau gangguan pernapasan lainnya yang tidak kunjung membaik.

"Segera ke faskes jika mengalami gangguan pada saluran pernapasan,"imbaunya.

21 Puskesmas Disiagakan

Mengantisipasi kemungkinan meningkatnya keluhan gangguan pernapasan, Dinkes Rejang Lebong memastikan fasilitas pelayanan kesehatan tetap siap memberikan penanganan kepada masyarakat.

Sebanyak 21 puskesmas yang tersebar di 15 kecamatan telah disiapkan untuk memberikan pelayanan.

Kesiapan juga dilakukan di RSUD Rejang Lebong, rumah sakit swasta hingga sejumlah klinik kesehatan.

Asep memastikan ketersediaan obat-obatan dan oksigen menjadi salah satu hal yang diperhatikan untuk menghadapi kemungkinan peningkatan pasien dengan gangguan pernapasan.

"Apabila terdapat pasien yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, fasilitas kesehatan juga disiapkan untuk melakukan rujukan ke rumah sakit sesuai kondisi pasien,"tutup Asep.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.