SERAMBINEWS.COM - Arab Saudi menuduh kelompok Houthi Yaman melancarkan serangkaian serangan terhadap sejumlah lokasi sipil dan fasilitas ekonomi di wilayah kerajaan tersebut.
Serangan itu disebut menyebabkan sedikitnya 73 warga sipil dan penduduk terluka, termasuk perempuan dan anak-anak.
Situasi tersebut terjadi ketika pertempuran antara kelompok Houthi dan pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi kembali meningkat.
Dikutip Serambinews melalui Aljazeera (8/9/2026), serangan Houthi disebut menyasar sejumlah wilayah di bagian selatan Arab Saudi.
Juru bicara koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, mengatakan serangan mengenai lokasi sipil dan ekonomi di Abha, Khamis Mushait, Jizan, dan Najran.
Namun, al-Maliki tidak menjelaskan secara rinci kapan seluruh serangan tersebut terjadi.
Baca juga: Ancaman Kelompok Bersenjata di Iran Meningkat di Tengah Perang dengan AS dan Israel
Al-Maliki menggambarkan serangan tersebut sebagai bentuk "eskalasi berbahaya" dan pelanggaran terhadap kedaulatan Arab Saudi.
Menurutnya, serangan tersebut secara langsung membahayakan warga negara maupun penduduk yang tinggal di wilayah kerajaan.
Ia menegaskan koalisi pimpinan Arab Saudi akan mengambil langkah operasional yang dianggap perlu untuk menghadapi serangan tersebut.
Koalisi juga disebut akan menargetkan sumber ancaman yang berasal dari kelompok Houthi.
Pernyataan tersebut menunjukkan meningkatnya ketegangan antara Arab Saudi dan Houthi setelah konflik yang selama beberapa tahun terakhir relatif mereda.
Kementerian Energi Arab Saudi juga mengeluarkan pernyataan terpisah mengenai serangan tersebut.
Menurut kementerian, beberapa fasilitas dan instalasi sektor energi di wilayah selatan kerajaan terdampak pada Selasa pagi.
Serangan tersebut dilaporkan melukai sejumlah warga sipil dan penduduk.
Beberapa lokasi juga mengalami kebakaran setelah serangan.
Kondisi tersebut menyebabkan sejumlah operasi di fasilitas terkait harus dihentikan sementara.
Belum diketahui secara rinci jenis fasilitas energi yang terdampak maupun berapa besar kerusakan yang ditimbulkan.
Pihak Houthi belum memberikan tanggapan langsung mengenai tuduhan Arab Saudi tersebut.
Houthi Sebelumnya Tuduh Saudi Serang Penjara
Sebelum tuduhan dari Arab Saudi muncul, Houthi juga melontarkan tuduhan terhadap Riyadh.
Kelompok tersebut menuduh Arab Saudi melakukan serangan udara terhadap sebuah penjara di al-Hazm, Provinsi al-Jawf, Yaman bagian utara.
Houthi mengklaim sedikitnya tujuh orang tewas dalam serangan tersebut.
Kelompok itu menyatakan serangan yang mereka sebut sebagai agresi Saudi tidak akan dibiarkan tanpa balasan.
Hingga laporan tersebut disampaikan, pemerintah Arab Saudi belum memberikan komentar mengenai tuduhan serangan terhadap penjara tersebut.
Yaman telah berada dalam konflik berkepanjangan sejak kelompok Houthi merebut ibu kota Sanaa pada 2014.
Pengambilalihan Sanaa kemudian mendorong Arab Saudi membentuk koalisi militer untuk melakukan intervensi di Yaman pada tahun berikutnya.
Konflik tersebut berlangsung selama bertahun-tahun dan menimbulkan korban jiwa serta krisis kemanusiaan besar.
Pertempuran antara pihak-pihak yang bertikai sebagian besar mereda setelah gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2022.
Namun, ketegangan kembali meningkat setelah pecahnya perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Februari 2026.
Perkembangan terbaru menunjukkan konflik Yaman kembali memasuki fase yang lebih berbahaya.
Permusuhan antara Houthi dan pihak yang didukung Arab Saudi kembali meningkat pada Juli.
Saat itu, Houthi meluncurkan rudal dan pesawat tanpa awak atau drone ke arah Bandara Internasional Abha di Arab Saudi.
Serangan tersebut dilakukan setelah sebelumnya terjadi serangan terhadap Bandara Sanaa.
Pada bulan yang sama, Houthi juga mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi.
Kelompok tersebut kemudian mulai menyerang kapal-kapal yang memiliki hubungan dengan Arab Saudi di kawasan Laut Merah.
Perkembangan tersebut menimbulkan kekhawatiran karena Laut Merah merupakan salah satu jalur pelayaran penting yang menghubungkan perdagangan antara Asia, Timur Tengah, Afrika, dan Eropa.
Gangguan terhadap jalur tersebut dapat berdampak terhadap perdagangan dan distribusi barang internasional.
Pada Kamis, Houthi dilaporkan melancarkan serangan besar dengan tujuan memperluas wilayah kekuasaannya.
Kelompok tersebut berupaya bergerak dari wilayah barat Taiz dan selatan Hodeidah menuju kota pelabuhan al-Makha atau Mocha.
Wilayah tersebut memiliki posisi strategis karena berada dekat Selat Bab al-Mandeb.
Selat Bab al-Mandeb merupakan salah satu jalur laut penting di Laut Merah yang menjadi penghubung antara Laut Merah dan Teluk Aden.
Pertempuran awalnya terkonsentrasi di wilayah barat Taiz dan selatan Hodeidah.
Namun, konflik kemudian meluas ke sejumlah provinsi lainnya.
Wilayah yang kini terdampak antara lain al-Dhalea, Marib, al-Jawf, dan al-Bayda.
Pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi berupaya memperluas kekuatan militernya dan meningkatkan tekanan terhadap Houthi.
Meningkatnya pertempuran memberikan dampak besar terhadap masyarakat sipil Yaman.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO memperkirakan sekitar 1.078 orang telah tewas atau terluka sejak 24 Agustus.
Selain korban jiwa dan luka-luka, lebih dari 21.000 orang dilaporkan mengungsi sejak Kamis.
Jumlah tersebut menunjukkan bagaimana eskalasi konflik kembali memaksa masyarakat meninggalkan rumah mereka untuk mencari tempat yang lebih aman.
Situasi ini juga menambah beban kemanusiaan di Yaman yang telah menghadapi dampak konflik selama lebih dari satu dekade.
Jika pertempuran terus meluas, jumlah korban dan pengungsi berpotensi meningkat.
Serangan terhadap fasilitas sipil dan energi juga dapat memperburuk kondisi masyarakat karena mengganggu layanan dasar dan aktivitas ekonomi.
Meningkatnya serangan Houthi ke wilayah Arab Saudi serta perluasan pertempuran di Yaman kini menjadi tanda bahwa konflik yang sempat mereda kembali memasuki periode ketegangan tinggi.
(Serambinews.com/Sri Anggun Oktaviana)