TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI – Tim 11 Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga (TEP-Unair) mendorong Kampung Membowi, Distrik Wasirawi, Kabupaten Manokwari, sebagai pilot project penanaman hidroponik.
Langkah ini diambil karena masyarakat yang didominasi transmigran lokal menghadapi keterbatasan lahan subur untuk pertanian.
Ketua Tim 11 TEP-Unair, Dr. Corie Indria Prasasti, S.KM., M.Kes., menjelaskan bahwa teknologi hidroponik hadir sebagai solusi atas keterbatasan tersebut.
“Dengan hidroponik, warga dapat menanam berbagai jenis tanaman sekaligus menghemat penggunaan air dibanding metode tradisional,” ujarnya.
Corie menambahkan, hidroponik lebih mudah dikembangkan, dirawat, hingga panen, sehingga menciptakan peluang ekonomi baru bagi desa.
Baca juga: Warga Kampung Aurmios Belajar Hidroponik dari TEP-Unair: Solusi Pertanian Ramah Lingkungan
Produk seperti sawi, pakcoy, dan selada memiliki nilai jual tinggi di pasar organik.
“Teknologi ini juga mendukung kesehatan masyarakat dengan menyediakan pangan bergizi, sekaligus mengurangi risiko stunting,” jelasnya.
Menurut Corie, hidroponik tidak hanya memberi manfaat teknis, tetapi juga mendorong perubahan sosial.
Perempuan dapat berperan aktif dalam ekonomi keluarga, sementara desa menjadi lebih sehat dan mandiri.
“Inovasi ini mengubah pola pikir bertani, memberi kontrol atas sumber daya, serta memastikan keberlanjutan produksi pangan yang ramah lingkungan,” tambahnya.
Ia menekankan hidroponik sebagai alternatif menghadapi dampak perubahan iklim, seperti panas berkepanjangan dan keterbatasan air yang menghambat pertumbuhan tanaman.
Baca juga: Manokwari Sambut Kedatangan Ratusan Peserta Ekspedisi Patriot 2026 UNAIR
Teknologi sederhana ini diharapkan menjadi model pemberdayaan masyarakat yang bisa diterapkan di Membowi maupun kawasan transmigrasi lain di Prafi.
Sementara itu, Kepala Distrik Wasirawi, Simon Meidodga, mengapresiasi program TEP-Unair.
“Tim ini melaksanakan program baik di Kampung Membowi dan Aurmios. Saya menitipkan mereka kepada warga karena menjalankan tugas dari Kementerian Transmigrasi,” katanya.
Simon berharap kolaborasi antara pemerintah distrik, kampung, puskesmas, dan Tim 11 TEP-Unair menghasilkan dampak nyata.
“Kita harus mendukung program pemerintah agar pengembangan kawasan berjalan baik,” pungkasnya.