Harga Daging Ayam di Medan masih Mahal, Pedagang Kuliner Menjerit
Randy P.F Hutagaol September 08, 2026 06:54 PM

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Harga daging ayam di Kota Medan belum menunjukkan tanda-tanda kembali ke harga normal. Memasuki pekan kedua September 2026, harga komoditas yang banyak digunakan masyarakat ini masih bertahan di kisaran Rp46.000 hingga Rp48.000 per kilogram.

Pantauan di Pasar Tradisional Kampung Lalang, Selasa (8/9/2026), harga sejumlah kebutuhan pokok cenderung tidak banyak berubah dibandingkan pekan sebelumnya.

Namun, tingginya harga daging ayam menjadi salah satu yang paling dikeluhkan, terutama oleh pelaku usaha kuliner.

Sebelum mengalami kenaikan, harga ayam biasanya berada di kisaran Rp26.000 hingga Rp28.000 per kilogram. Kini, harga tersebut tak kunjung kembali ke level normal.

Tata (37), pengusaha kuliner rumahan di Medan, mengaku harus menelan pil pahit karena keuntungan usahanya semakin tipis.

Sejumlah menu yang dijualnya, seperti dimsum, misop hingga soto ayam, sangat bergantung pada daging ayam sebagai bahan baku utama.

“Jualan saya ada dimsum, misop, kadang soto ayam juga. Semua bahannya ya ayam. Harga ayam melambung gitu, kadang sebenarnya bingung bagi keuntungannya mana, harga jual juga nggak mungkin dinaikkan,” ujar Tata, Selasa (8/9/2026).

Menurutnya, menaikkan harga jual bukan pilihan mudah karena harus mempertimbangkan daya beli dan respons pelanggan.

Di sisi lain, mempertahankan harga jual di tengah mahalnya bahan baku membuat margin keuntungan semakin kecil.

Tata akhirnya memilih menyiasati kondisi tersebut dengan mengganti sebagian menu yang dijual.

“Ya jadinya kadang saya ubah menu juga. Minggu depan saya buka menu ikan, menghemat anggaran belanja lah,” katanya.

Berdasarkan data harga pangan rata-rata Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Medan yang diperbarui pada Selasa (8/9/2026), harga daging ayam tercatat Rp46.100 per kilogram. Harga tersebut bahkan mengalami kenaikan Rp300.

Selain ayam, harga daging sapi tercatat masih tinggi yakni Rp143.421 per kilogram. Sementara beras berada di angka Rp15.850 per kilogram, gula pasir Rp18.400 per kilogram, dan minyak goreng Rp20.361 per liter.

Untuk kelompok bumbu dapur, harga cabai rawit berada di angka Rp59.714 per kilogram atau turun Rp429. Cabai merah juga mengalami penurunan Rp334 menjadi Rp50.333 per kilogram.

Harga bawang merah tercatat Rp29.095 per kilogram, turun Rp476, sedangkan bawang putih masih bertahan Rp30.810 per kilogram.

Sementara telur ayam tercatat Rp26.850 per 15 butir, jagung Rp8.722 per kilogram, dan kedelai Rp15.533 per kilogram.

Daging Ayam dan Beras Masih Mahal

Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, turut menyoroti harga daging ayam yang masih bertahan mahal di tengah pergerakan sejumlah harga pangan pada September.

Menurut Gunawan, kondisi harga pangan saat ini masih berpotensi memberikan tekanan terhadap inflasi Sumatera Utara.

“Seperti yang sudah-sudah diproyeksikan, inflasi di Sumut masih dalam tren naik pada bulan September ini. Sejauh ini komoditas cabai dan gula pasir sudah menyumbang inflasi. Sementara daging ayam dan beras masih bertahan mahal,” ujar Gunawan.

Ia juga mengingatkan adanya potensi kenaikan sejumlah kebutuhan masyarakat sepanjang September. Kondisi tersebut menurutnya perlu menjadi perhatian Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), terutama untuk mengantisipasi gangguan pasokan maupun distribusi.

“Dengan potensi kenaikan sejumlah harga kebutuhan masyarakat pada bulan September ini, saya mengimbau pemerintah khususnya TPID untuk mewaspadai potensi gangguan supply dan distribusi yang bisa memicu kenaikan harga lanjutan,” katanya.

Gunawan menilai harga pangan belakangan ini cukup rawan bergejolak. Produksi sejumlah komoditas pangan masih berhadapan dengan risiko faktor alam dan musim kemarau panjang.

“Faktor alam menjadi variabel yang sulit diproyeksikan dan memiliki daya rusak yang besar serta tentunya dapat memicu lonjakan inflasi. Saya melihat harga pangan belakangan ini rawan bergejolak, di tengah kombinasi bencana alam serta faktor musim yang mengancam kekeringan lahan pertanian,” pungkasnya.

(cr26/tribun-medan.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.