SURYA.CO.ID - Terungkap gelagat Rendi alias RS (27) setelah membunuh kakak beradik, Rani (18) dan Ayuhana (13), di Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.
Rendi yang notabene kekasih Rani, berlagak tak mengetahui apapun.
Saat keluarga sibuk mencari Rani dan Ayuhana yang menghilang sejak tahun 2021, Rendi berpura-pura tenang, ikut mencari keberadaan korban.
Tak hanya itu, saat keluarga menggelar pengajian meski jasad Rani dan Ayuhana belum ditemukan, Rendi tak pernah absen menghadiri pengajian dan tahlilan di rumah duka.
Hal ini diakui Helmi Nursidah (50), ibu korban saat diwawancara TribunSumsel.com pada Senin (7/9/2026).
Baca juga: Ternyata Kerangka Tubuh Kakak Beradik yang Dibunuh 5 Tahun Lalu Ditemukan 1 Km dari Rumah Keluarga
"Pas hilang itu melok (ikut) nyari juga dia. Yang dikagetkan seluruh warga dan keluarga ini, kita yasinan dia melok yasinan, kita tahlilan melok tahlilan. Seakan tidak terjadi masalah," kata Helmi.
"Dia datang cuma duduk bae (saja), melok yasinan. Wajahnya tenang, jadi seolah-olah bukan dia pelakunya," tuturnya lagi.
Sikap Rendi yang sangat tenang selama bertahun-tahun sama sekali tidak mengundang kecurigaan.
Apalagi setelah dicecar oleh keluarga korban, Rendi secara tegas menyatakan berani bersumpah bahwa dirinya tidak terlibat sama sekali dalam peristiwa menghilangnya sang kekasih dan adiknya.
Diakui Helmi, selama ini Rendi sudah dianggap seperti bagian dari keluarga sendiri.
"Memang sering ke rumah, akrab ke rumah. Bahkan sebelum kejadian itu kalau datang istilahnya apellah, makan minum di rumah," ujar Helmi.
Rendi yang sehari-hari bekerja sebagai kuli bangunan juga melanjutkan hidup seperti biasa.
Dia bahkan baru menikah dua minggu sebelum dibekuk petugas di wilayah Kenten, Kecamatan Talang Kelapa.
Ibu korban, Helmi, mengaku syok hingga pingsan saat tahu pembunuh anaknya Rendi.
"Semalam pas ketemu langsung, dak sadar lagi saya, kepengin ngantam (memukul). Geram sekali karena dia yang dipercaya, tidak menyangka sama sekali," ungkap Helmi.
Kesedihan Nursidah makin tak terbendung saat mengingat suaminya, yang juga ayah korban baru meninggal dua tahun lalu sepulang bekerja akibat kecelakaan.
Selama hidupnya, kata Nursidah, sang suami terus mencari keberadaan dua putri mereka yang saat itu tak kunjung diketahui keberadaannya.
"Bapaknya yang buat laporan polisi, tapi memang tidak ada hasil. Sampai bapaknya meninggal juga tidak ketemu," ucap Nursidah tak kuasa menahan tangis.
Atas perbuatan Rendi dan keterlibatan rekannya yang menyembunyikan kejahatan tersebut selama hampir lima tahun, pihak keluarga berharap aparat penegak hukum memberikan sanksi seberat-beratnya.
"Bila perlu nyawa balik nyawa, tengkorak pulang tengkorak. Kami minta hukumannya ditambah dan dijatuhi hukuman maksimal," tegas Helmi.
Saat ini, pihak kepolisian telah mengamankan Rendi beserta satu rekannya, Andika untuk menjalani proses hukum dan pemeriksaan lebih lanjut.
Rohani alias Otong, seorang warga setempat, yang awalnya berniat mencari kayu di area lahan kosong menjadi orang pertama mengungkap keberadaan kerangka kakak adik tersebut.
Ia tidak sengaja melihat kerangka sepeda motor Honda Legenda. Teringat ada tetangganya yang hilang membawa motor serupa.
Di dalam kamar rumah kosong yang berjarak sekitar 10 meter dari motor itulah, Otong bersama pihak RT menemukan kerangka manusia yang terkonfirmasi merupakan dua kakak-adik yang hilang.
"Motor itu masih di dekat wilayah itu lah, setelah itu kita telepon Pak Lurah kita, dan ke Pak Edi selaku kepolisian, dan keluarga langsung datang," ungkap Otong saat ditemui Tribunsumsel.com pada Senin (7/9/2026).
Suasana duka tak terbendung menyelimuti pihak keluarga. Tangis histeris pecah saat ibu korban mengetahui kabar penemuan tersebut.
"Enggak keruan lagi, sudah sekian lama itu enggak ketemu, ya tangis-tangis, nangis pastinya," ungkap Otong.
Sejak dilaporkan hilang pada 2021, pihak keluarga bersama tetangga telah melakukan pencarian besar-besaran ke berbagai lokasi jauh.
"Kita ngikut juga mencari, sampai ke Gasing, sampai ke jalur, sampai ke Talang Betutu, hampir diselusuri tidak ada," ujar Otong.
Otong mengaku tak menyangka lokasi penemuan kerangka kedua tetangganya itu ternyata hanya berjarak sekitar 1 kilometer dari rumah orang tua korban.
"TKP ini sebenarnya perumahan kosong yang sepi. Dari rumah korban itu jaraknya cuma sekitar 1 kilometer. Dulu sempat terlewat saat pencarian karena tidak menyangka sama sekali ada di situ," terangnya.
Lokasi penemuan kerangka di perumahan sepi tersebut sebenarnya merupakan area yang kerap dilewati korban saat berangkat sekolah.
Namun, lokasi rumah kosong itu sempat terlewat dari fokus pencarian awal.
"Waktu kehilangan pertama itu kan pergi sekolah, tujuannya tidak ke arah situ, emang kelewatan. Orang tua dan tetangga juga enggak nyangka di situ, padahal itu tempat yang biasa dia lewati," tambah Otong.
Berdasarkan keterangan kepolisian dari pengakuan tersangka yang telah ditangkap, kedua korban tewas dibunuh secara keji sebelum jasadnya ditinggalkan.
"Keterangan yang pelaku tadi itu bilangnya dipukul pakai kayu, yang satu lagi dibacok," kata Otong menirukan informasi yang diterimanya dari pihak kepolisian.
Dari keterangan tersangka Rendi yang diungkapkan polisi, rasa dendam yang tersimpan disebut menjadi pemicu pembunuhan tersebut.
"Adapun motif dari pembunuhan berdasarkan penyelidikan, dikarenakan pelaku utama dengan inisial RS merasa sakit hati atau dendam karena tidak direstui untuk menikah dengan korban bernama Rani," ujar pihak kepolisian mengungkap pengakuan tersangka Rendi, dalam press release di akun Instagram @polisi_banyuasin, dikutip TribunSumsel.com, Senin (7/9/2026).
Dari pengakuannya ke polisi, Rendi mengaku hubungan asmaranya dengan korban sudah terjalin beberapa waktu sebelum insiden berdarah itu terjadi.
Namun, penolakan dari pihak keluarga korban membuat hubungan tersebut kandas dan menyisakan rasa sakit hati mendalam pada diri pelaku.
"Hubungan pelaku dengan korban pernah berpacaran di tahun 2021, kemudian tidak direstui oleh keluarganya lalu menyimpan dendam terhadap korban," tambahnya.
Rasa dendam tersebut tidak hanya diarahkan kepada Rani, tetapi juga menyasar sang adik, Ayuhana.
Rendi bersama Andika (25) mengeksekusi niat jahat tersebut dengan pembagian peran yang terstruktur untuk memastikan kedua korban tidak dapat menyelamatkan diri.
"Kedua pelaku ini memiliki peran masing-masing, yaitu saudara RS ini merupakan pacar dari korban atas nama Rani. Jadi saudara RS sudah merencanakan pembunuhan karena adanya dendam sakit hati. Lalu pelaku berupaya untuk menghilangkan nyawa dari Rani dan Ayuhana," jelasnya.
Niat untuk menghilangkan nyawa tersebut diwujudkan dengan persiapan senjata tajam serta pemilihan lokasi eksekusi di sebuah rumah kosong yang telah dipersiapkan sebelumnya.
"Dari malam mereka sudah menyiapkan dua bilah pisau, lalu di pagi hari baru melancarkan aksinya," papar pihak kepolisian.
Perbuatan berdarah dingin yang didasari oleh motif dendam asmara ini mengarahkan para pelaku pada ancaman hukuman berat. Polisi menjerat mereka dengan Pasal 458 dan Pasal 459 KUHP yang mengatur tentang tindak pidana terhadap nyawa manusia (pembunuhan).