Baca juga: Miris! Tak Punya WC, Guru dan Siswa SDN 12 Kota Agung Lahat Terpaksa Buang Air di Kebun
SRIPOKU.COM, LAHAT — Persoalan minimnya fasilitas dasar di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 12 Kota Agung, Kabupaten Lahat, menuai sorotan tajam dan menjadi perhatian serius Komisi IV DPRD Lahat, Sumatera Selatan. Pasalnya, sekolah yang telah beroperasi selama empat dekade tersebut dilaporkan belum memiliki fasilitas sanitasi berupa toilet atau WC, baik untuk guru maupun siswa.
Sebelumnya, Kepala SDN 12 Kota Agung, Patianah, S.Pd., mengungkapkan bahwa sejak pertama kali dibangun pada tahun 1986 silam, sekolah yang dipimpinnya memang belum pernah dilengkapi fasilitas sanitasi dasar.
Selain ketiadaan WC, sekolah ini juga masih mengalami kekurangan fasilitas penunjang penting lainnya, seperti ruang guru yang memadai serta ruang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).
Menanggapi hal tersebut, Ketua Komisi IV DPRD Lahat, Nanda Pinola Harahap, S.K.M., M.M., mengaku pihaknya telah menerima banyak laporan terkait minimnya fasilitas dasar di sejumlah lembaga pendidikan di Kabupaten Lahat.
Menurut Nanda, upaya perbaikan sarana dan prasarana sekolah saat ini semakin menemui kendala akibat keterbatasan anggaran menyusul kebijakan efisiensi daerah.
“Kondisi ini bukan hanya di desa saja, bahkan sekolah di area kota ada yang tidak miliki WC. Tapi karena efisiensi, persentasenya semakin sedikit untuk perbaikan sekolah,” ujar Nanda, Selasa (8/9/2026).
Nanda menegaskan bahwa Komisi IV DPRD Lahat tidak akan menutup mata terhadap persoalan pelik yang menyangkut hak dasar dan kesehatan para pelajar tersebut.
Sebagai langkah konkret, pihaknya telah merencanakan agenda peninjauan langsung ke sejumlah sekolah yang dilaporkan mengalami masalah serupa.
“Kita prihatin dan tidak akan menutup mata. Ini hak dasar. Soal infrastruktur juga menyangkut kesehatan,” tegasnya.
Pihaknya turut mendorong Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lahat untuk segera melakukan pendataan ulang secara komprehensif dengan turun langsung ke lapangan.
Langkah ini dinilai krusial agar pemerintah daerah dapat menyusun skala prioritas secara akurat, mengingat adanya dilema di tengah keterbatasan anggaran, seperti dilema antara membangun WC atau menambah ruang kelas baru demi mengantisipasi lonjakan jumlah siswa yang kini dilarang mengikuti kegiatan belajar pada siang hari.
“Komisi IV memastikan, persoalan fasilitas dasar sekolah akan tetap dikawal. Setelah melakukan survei lapangan, kita juga telah menjadwalkan rapat dengar pendapat (RDP) dengan kementerian terkait untuk membahas persoalan sarana dan prasarana pendidikan,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala SDN 12 Kota Agung, Patianah, S.Pd., membenarkan kondisi memprihatinkan di sekolah yang dipimpinnya.
Meskipun berdiri sejak 1986 dan telah melahirkan banyak alumni sukses yang berkiprah sebagai anggota TNI, guru, dan berbagai profesi lainnya, fasilitas sanitasi di sekolah tersebut tak kunjung terbangun.
Saat ini, SDN 12 Kota Agung hanya memiliki enam ruang belajar, satu ruang guru, serta satu ruang perpustakaan untuk menunjang aktivitas 61 siswa aktif.
“Ya memang seperti itu kondisinya. Sekolah ini sudah banyak melahirkan alumni yang kini berkiprah di berbagai bidang seperti anggota TNI, guru, dan lainnya. Untuk jumlah siswa saat ini ada 61 orang,” tutur Patianah.
Di sisi lain, Bupati Lahat, Bursah Zarnubi, S.E., dikabarkan telah menerima laporan resmi dan mengetahui persis kondisi yang dialami oleh SDN 12 Kota Agung Lahat.
Melalui tanggapannya, Bupati menegaskan bahwa persoalan tersebut akan segera ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah.