Studi Ungkap Orang yang Merasa Hidupnya Bermakna Cenderung Lebih Rendah Risiko Depresi
Tiara Shelavie September 08, 2026 09:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Sebuah tinjauan besar terhadap penelitian psikologi menunjukkan bahwa orang yang merasa hidupnya memiliki makna cenderung mengalami tingkat depresi yang lebih rendah.

Mengutip psypost.org, temuan yang dipublikasikan dalam Journal of Affective Disorders tersebut menunjukkan bahwa rasa memiliki tujuan dapat berperan sebagai penyangga psikologis terhadap emosi negatif.

Namun, hubungan ini berbeda-beda tergantung latar belakang budaya, usia, dan kondisi kesehatan fisik seseorang, yang menunjukkan adanya kaitan kompleks antara filosofi pribadi dan kesejahteraan mental.

Para psikolog mendefinisikan makna hidup sebagai kemampuan seseorang untuk memahami berbagai pengalaman yang dialaminya serta menyadari bahwa keberadaannya memiliki nilai. Para ahli teori eksistensial berpendapat bahwa kehilangan makna merupakan salah satu akar munculnya gejala depresi.

Menurut pandangan ini, manusia membutuhkan filosofi atau prinsip yang dapat menjadi pedoman dalam menghadapi kesulitan.

Sebaliknya, model biomedis memandang depresi terutama sebagai persoalan fisiologis yang dipengaruhi faktor genetik, kimiawi otak, atau penyakit neurodegeneratif. Dari sudut pandang medis murni, konsep psikologis abstrak seperti tujuan hidup dianggap sebagai faktor sekunder dibandingkan penanganan biologis.

Untuk menjawab hasil penelitian sebelumnya yang saling bertentangan, psikolog Wu-han Ouyang dan Xin-qiang Wang dari Jiangxi Normal University memimpin tim peneliti untuk mengkaji secara lebih mendalam hubungan antara rasa memiliki makna hidup dan depresi.

Baca juga: Studi Ungkap 3 Suplemen yang Berpotensi Bantu Redakan Gejala Depresi

Mereka ingin mengetahui apakah hubungan tersebut bersifat universal atau dipengaruhi faktor eksternal tertentu. Para peneliti mengumpulkan data dari 278 penelitian yang telah dipublikasikan sebelumnya untuk melakukan meta-analisis. Teknik statistik ini menggabungkan hasil dari berbagai penelitian independen guna menemukan pola yang lebih luas yang mungkin tidak terlihat dalam satu penelitian saja.

Pendekatan tersebut memungkinkan tim menganalisis informasi dari lebih dari 250.000 peserta di seluruh dunia. Dengan menggunakan model statistik tiga tingkat, para peneliti memperhitungkan variasi sampel dalam setiap penelitian sekaligus perbedaan yang lebih luas di antara seluruh penelitian yang dianalisis.

Ketika seluruh data digabungkan, Ouyang dan Wang menemukan adanya korelasi negatif sedang antara makna hidup secara keseluruhan dan depresi. Dengan kata lain, semakin tinggi rasa seseorang bahwa hidupnya memiliki makna, semakin rendah tingkat depresi yang dilaporkannya.

Untuk memahami hubungan tersebut secara lebih mendalam, para peneliti memecah konsep makna hidup menjadi beberapa komponen. Mereka meneliti aspek koherensi, tujuan hidup, serta keyakinan bahwa keberadaan seseorang memiliki arti.

Koherensi, yakni kemampuan memahami kehidupan dan lingkungan sebagai sesuatu yang masuk akal, memiliki hubungan negatif paling kuat dengan depresi. Orang yang merasa kehidupannya dapat dipahami secara logis merupakan kelompok yang paling kecil kemungkinannya melaporkan gejala depresi.

Keyakinan bahwa hidup seseorang memiliki nilai intrinsik juga berkaitan erat dengan tingkat depresi yang lebih rendah. Sementara itu, rasa memiliki tujuan, yang didefinisikan sebagai adanya sasaran hidup yang jelas, menunjukkan hubungan perlindungan yang serupa.

Namun, hubungan tersebut berubah secara signifikan ketika para peneliti mengamati aspek pencarian makna hidup. Konsep ini mengacu pada dorongan aktif seseorang untuk menemukan tujuan hidup, bukan sekadar sudah memiliki tujuan tersebut.

Secara keseluruhan, aktivitas mencari makna hidup tidak menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik dengan depresi. Namun, para peneliti menemukan bahwa hasil yang tampak datar tersebut sebenarnya menyembunyikan perbedaan budaya yang cukup besar.

Dalam budaya individualistis, seperti Amerika Serikat dan Inggris, pencarian makna hidup secara aktif justru berkaitan dengan tingkat depresi yang lebih tinggi. Sementara itu, dalam budaya kolektivistis, seperti China dan Korea Selatan, pencarian makna hidup dikaitkan dengan tingkat depresi yang lebih rendah.

Para peneliti menduga perbedaan tersebut terjadi karena masyarakat individualistis cenderung mengharapkan seseorang membangun tujuan hidupnya secara mandiri. Tekanan untuk menemukan jawaban seorang diri dapat memicu frustrasi dan rasa terisolasi ketika seseorang kesulitan menemukan makna hidup.

Sebaliknya, masyarakat kolektivistis cenderung memandang pencarian makna sebagai upaya bersama. Dalam budaya tersebut, tujuan pribadi sering kali ditempatkan dalam konteks keluarga dan tanggung jawab terhadap komunitas.

Kerangka kolektivistis ini menyediakan dukungan sosial yang dapat membantu melindungi seseorang dari emosi negatif ketika menghadapi ketidakpastian. Berbagi beban psikologis dalam menemukan tujuan hidup tampaknya dapat membantu menjauhkan seseorang dari depresi.

Kondisi kesehatan fisik juga berperan besar dalam hubungan antara makna hidup dan depresi. Pada individu yang didiagnosis mengalami penyakit medis, hubungan antara memiliki tujuan hidup dan tingkat depresi yang lebih rendah jauh lebih kuat dibandingkan pada individu yang sehat.

Penyakit kronis atau berat dapat menghilangkan rutinitas sehari-hari dan tujuan jangka panjang seseorang, sekaligus mengurangi sumber kebahagiaan yang biasanya mereka miliki. Dalam situasi penuh tekanan seperti ini, mempertahankan rasa memiliki tujuan dapat menjadi jangkar psikologis.

Rasa memiliki arah hidup yang kuat membantu pasien memaknai kembali kesulitan yang mereka alami dan mengelola tekanan emosional. Alat yang digunakan untuk mengukur depresi juga memengaruhi hasil yang ditemukan dalam berbagai penelitian.

Para peneliti menemukan korelasi negatif paling kuat antara makna hidup dan depresi ketika penelitian menggunakan Beck Depression Inventory. Kuesioner tersebut menilai tekanan emosional sekaligus gejala fisik depresi, seperti kelelahan atau perubahan nafsu makan.

Karena kehilangan makna hidup dapat berkaitan dengan rasa tidak bertenaga secara fisik, alat ukur tersebut dinilai lebih mampu menangkap hubungan antara kondisi psikologis dan fisik dibandingkan survei kesehatan mental secara umum.

Usia juga memengaruhi hasil penelitian, khususnya terkait seberapa kuat hubungan antara keberadaan makna hidup dan tingkat depresi yang lebih rendah.

Hubungan perlindungan tersebut mencapai titik tertinggi pada orang dewasa paruh baya dan paling lemah pada remaja. Masa dewasa paruh baya sering kali diwarnai tekanan jangka panjang terkait pekerjaan dan tanggung jawab keluarga. Rasa memiliki tujuan yang stabil dapat sangat membantu dalam menghadapi berbagai beban tersebut.

Sementara itu, remaja masih mengembangkan kemampuan mengatur emosi dan membentuk identitas diri. Karena pandangan hidup mereka masih berkembang, gejala depresi pada remaja sering kali lebih berkaitan dengan faktor lingkungan yang bersifat langsung, seperti tekanan sekolah atau hubungan dengan teman sebaya.

Remaja juga belum memiliki mekanisme psikologis yang matang untuk meredam emosi negatif melalui filosofi hidup yang stabil.

Namun, sebagian besar penelitian yang dianalisis menggunakan data observasional yang dikumpulkan pada satu titik waktu. Karena itu, hasil penelitian ini tidak dapat membuktikan bahwa kurangnya makna hidup secara langsung menyebabkan depresi.

Ada kemungkinan seseorang yang mengalami depresi justru menjadi lebih sulit menemukan makna dalam hidupnya. Kondisi tersebut dapat menciptakan hubungan timbal balik yang sulit dipisahkan.

Sebagian besar data juga berasal dari kuesioner yang diisi sendiri oleh peserta. Metode ini dapat menimbulkan bias apabila peserta memberikan jawaban yang mereka anggap lebih dapat diterima secara sosial.

Penelitian di masa depan perlu mengikuti individu dalam jangka waktu yang lebih panjang untuk mengetahui apakah perubahan dalam rasa memiliki tujuan hidup terjadi sebelum perubahan gejala depresi.

Para peneliti juga mencatat masih terbatasnya data mengenai orang-orang yang telah mendapatkan diagnosis depresi secara klinis. Literatur yang ada juga masih kekurangan informasi mengenai peserta yang mengonsumsi obat antidepresan.

Memperluas penelitian ke kelompok klinis tersebut dapat membantu psikolog mengembangkan terapi yang lebih efektif. Penanganan di masa depan mungkin dapat memasukkan latihan untuk membangun makna hidup sebagai pelengkap intervensi medis tradisional.

Memahami bagaimana faktor seperti usia, penyakit, dan budaya membentuk pengalaman manusia pada akhirnya dapat membantu menghasilkan perawatan kesehatan mental yang lebih personal.

Studi berjudul "A three-level meta-analysis of the relationship between meaning in life and depression" tersebut ditulis oleh Wu-han Ouyang, Xin-qiang Wang, Jia-yi Cai, Shu-ya Pan, dan Jing-yi Li.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.