TRIBUNBATAM.id, BATAM - Pengembangan pusat data atau data center di kawasan Nongsa, Batam, Kepulauan Riau, kini tak hanya soal pasokan listrik.
Kebutuhan air dalam jumlah besar juga menjadi perhatian Pemerintah Kota Batam sekaligus Badan Pengusahaan (BP) Batam.
Pemerintah mendorong para investor data center menyiapkan sumber air secara mandiri, salah satunya melalui teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) atau desalinasi air laut.
Langkah tersebut dinilai penting agar pertumbuhan industri pusat data tidak menambah beban terhadap sistem penyediaan air yang sudah berjalan di Batam.
Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, mengatakan kesiapan listrik dan air menjadi salah satu pertimbangan pemerintah sebelum memberikan persetujuan terhadap pengembangan data center.
"Kita menyatakan yes or no terhadap data center itu bilamana ketersediaan listriknya sudah oke dari PLN. Dan komitmen soal air bersihnya sudah oke," ujar Amsakar.
Saat ini, setidaknya dua perusahaan data center disebut telah menyiapkan rencana pembangunan fasilitas SWRO di kawasan Nongsa.
Kedua perusahaan tersebut yakni DayOne Batam dan PT Equator Gate System Batam (EGSB).
Keduanya tengah mengembangkan fasilitas pusat data berskala besar, termasuk untuk mendukung kebutuhan pusat data berbasis kecerdasan buatan atau AI Data Centre.
Amsakar mengatakan DayOne telah melakukan memorandum of understanding (MoU) dengan PLN terkait kebutuhan listrik.
Selain memastikan pasokan listrik, perusahaan tersebut juga menyatakan kesanggupan membangun fasilitas SWRO untuk memenuhi kebutuhan air pusat datanya.
"DayOne oke juga membangun SWRO. Yang penting pemerintah, dalam hal ini BP Batam, bisa support untuk segala jenis perizinan," kata Amsakar.
Nilai pembangunan instalasi SWRO tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp180 miliar.
Fasilitas yang dibangun DayOne nantinya akan diserahkan kepada BP Batam.
Menurut Amsakar, pola tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi investor dalam mendukung kesiapan infrastruktur kawasan.
EGSB Ikut Siapkan SWRO
Sementara itu, PT Equator Gate System Batam juga tengah mempersiapkan pembangunan fasilitas SWRO.
Perusahaan tersebut bahkan disebut sudah mulai menyusun perencanaan untuk memenuhi kebutuhan air bagi operasional AI Data Centre yang dikembangkan di Nongsa.
"PT Equator Gate System Batam lebih kencang lagi. Sekarang sudah mulai memikirkan membuat perencanaan untuk SWRO," ungkap Amsakar.
Namun, pola pengelolaan SWRO milik EGSB akan berbeda dengan DayOne.
Fasilitas tersebut nantinya diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan perusahaan sendiri.
Meski demikian, dalam jangka panjang pengelolaan fasilitas tersebut tetap akan melibatkan BP Batam.
"Komitmennya bukan sekadar membangun itu, tetapi tata kelola ke depan dia akan serahkan kepada BP Batam, hanya khusus untuk mereka sendiri. Tentu saja mereka minta perlakuan tersendiri. Saya kira fair dari segi kelayakan bisnis," jelasnya.
Baca juga: Waduk Mukakuning Batam Menyusut, Permukaan Air Menjauh dari Tepian, Area Tanah Makin Lebar
Air Berlebih Berpeluang untuk Warga
Bagi pemerintah, pembangunan SWRO oleh investor tidak hanya menyelesaikan persoalan kebutuhan air industri.
Fasilitas tersebut juga membuka peluang untuk menambah sumber air di Batam.
Apalagi, pertumbuhan industri berskala besar berpotensi meningkatkan kebutuhan air dalam jumlah signifikan.
Amsakar mengatakan apabila produksi SWRO nantinya melebihi kebutuhan operasional data center, kelebihan debit air berpeluang dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat sekitar.
"Jika itu bisa dilakukan, maka sangat mungkin kelebihan debit airnya dapat kita manfaatkan untuk kepentingan lokal," tuturnya.
Menurut dia, skema tersebut dapat mempertemukan kepentingan investasi dengan kebutuhan pelayanan publik.
"Maka ketika ada mitra yang mau berinvestasi, kita dorong percepatan dan berkomitmen untuk melakukan itu. Insyaallah ini betul-betul komplementer, saling melengkapi antara kebijakan kita dengan kepentingan pelaku usaha," katanya.
SWRO merupakan teknologi pengolahan air laut dengan menggunakan tekanan tinggi dan membran reverse osmosis.
Teknologi tersebut bekerja dengan memisahkan garam serta berbagai kandungan lain dari air laut sehingga menghasilkan air yang dapat dimanfaatkan sesuai standar dan kebutuhan.
Di Batam, teknologi desalinasi menjadi salah satu opsi untuk memperluas sumber air baku di luar sumber konvensional.
Namun, pemanfaatan air hasil SWRO untuk masyarakat tetap bergantung pada sejumlah faktor, mulai dari kapasitas produksi, kualitas air, jaringan distribusi hingga pola pengelolaan fasilitas.
Karena itu, pemerintah kini mendorong kebutuhan air menjadi bagian penting dalam pengembangan data center di Nongsa.
Dengan strategi tersebut, pertumbuhan industri pusat data diharapkan tetap berjalan tanpa sepenuhnya bergantung pada sistem penyediaan air yang telah ada.
Jika pembangunan SWRO berjalan sesuai rencana, fasilitas tersebut berpotensi tidak hanya menopang kebutuhan industri.
Kapasitas produksi yang melebihi kebutuhan data center juga terbuka untuk mendukung kebutuhan air masyarakat di kawasan sekitar. (Tribunbatam.id/Ucik Suwaibah)