Liputan6.com, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan perkembangan terbaru penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan hingga Sumatera.
Hingga Selasa (8/9/2026), upaya pemadaman masih dilakukan di sejumlah wilayah, baik melalui operasi darat maupun udara. BNPB juga terus menjalankan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di sejumlah daerah untuk membantu memicu hujan.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan memaparkan upaya tim gabungan Satgas Darat dan Satgas Udara dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat.
"Di Kalimantan Barat, kita menemukan titik api sebanyak 36 dengan luas lahan terbakar sebanyak 350 hektare lebih dan yang berhasil dipadamkan sebesar 105 hektare lebih," ujar Berton dalam konferensi pers bersama TNI secara daring, Selasa (8/9/2026).
Berton mengatakan kondisi di Kalimantan Barat cukup mengkhawatirkan. Kualitas udara di wilayah tersebut telah masuk kategori Berbahaya, sementara jarak pandang kurang dari 1 kilometer.
"Kualitas udara berbahaya dan jarak pandang sebesar di bawah 1 kilometer," ucap Berton.Guna mengatasi hal tersebut, menurut dia, BNPB mengerahkan Satgas Darat dengan melibatkan belasan ribu personel.
"Kami melakukan operasi satgas darat untuk melakukan pemadaman dengan melibatkan 15.091 orang. Dan satgas darat ini sudah memadamkan sekitar 102 hektare lebih," terang Berton.
Menurut dia, selain jalur darat, operasi udara juga terus digencarkan. Satu unit helikopter water bombing telah menjatuhkan 172.000 liter air. Tak hanya itu, Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) juga dilakukan.
"Dilakukan juga modifikasi cuaca dengan tiga unit armada udara kami, dengan menyemaikan sebesar 4.400 kilogram garam dengan jam kerja lebih dari 10 jam," tambah Berton.

Kemudian Kalimantan Tengah (Kalteng), lanjut Berton, BNPB mendeteksi adanya 47 titik api dengan luas lahan terbakar mencapai lebih dari 100 hektare. Di wilayah ini, kata dia, kualitas udara terpantau masuk kategori Sangat Tidak Sehat dengan jarak pandang 2,8 kilometer.
"Operasi satgas darat dikerahkan sebanyak 4.686 orang dan berhasil untuk memadamkan api sebesar 66 hektare lebih," tutur Berton.
Operasi udara di Kalteng melibatkan empat armada water bombing dan 8 jam operasi. "Melalui satgas udara patroli dilakukan dengan satu armada dan heli water bombing melakukan penyebaran air sebesar 240 ribu liter air melalui empat armada dan berhasil memadamkan lahan sebesar 8 hektare lebih," kata Berton.
"Modifikasi cuaca juga dilakukan dengan menyemaikan 4.600 kilogram garam dengan jam operasi 8 jam lebih," imbuh dia.
Lalu di wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel), Berton menyampaikan, terdapat 21 titik api dengan 260 hektare lahan terbakar.
"Di Kalimantan Selatan kita melihat ada 21 titik api dan lahan yang terbakar itu sebesar 260 hektare lebih dengan luas yang berhasil dipadamkan sebesar 163 hektare lebih dengan kualitas udara dari sedang hingga tidak sehat, visibility atau jarak pandang di bawah 5 kilometer," kata dia.
Berton mengatakan, upaya modifikasi cuaca pun mulai membuahkan hasil nyata.
"Modifikasi cuaca menyemaikan garam sebesar 3.000 kilogram dengan jam operasi 6 jam lebih. Ini berhasil memaksimalkan hujan turun di Kabupaten Tanah Bumbu, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, maupun Balangan," ungkap Berton.
Menurut dia, Satgas Udara di Kalsel juga melakukan aksi water bombing paling masif dibandingkan wilayah lain dengan total 780 ribu liter air yang dijatuhkan.
"Satgas udara melakukan patroli, melakukan water bombing dan air yang dijatuhkan itu sebesar 780 ribu liter lebih dengan luas lahan yang berhasil dipadamkan sebesar 115 hektare lebih," ucap Berton.
Dia menyampaikan, jumlah personel juga banyak diturunkan. "Kalau kita lihat peta yang warna hitam ini adalah bahwa di sana terjadi hujan. Jadi sudah terjadi, baik di Kalimantan Barat juga terjadi hujan. Dan satgas darat juga bekerja 1.408 orang dengan memadamkan 48 hektare lebih," pungkas Berton.

Sementara itu, di wilayah Riau, BNPB mendeteksi 51 titik api dengan luas lahan terbakar mencapai lebih dari 309 hektare. Dari jumlah tersebut, 162 hektare lebih lahan telah berhasil dipadamkan.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan kualitas udara di Riau berada dalam kategori Tidak Sehat dengan jarak pandang sekitar 3 kilometer.
"Kita menemukan 51 titik di sana dan luas lahan terbakar itu 309 hektare lebih dan luas lahan yang berhasil dipadamkan 162 hektare lebih, kualitas udara kategori tidak sehat dengan jarak pandang hanya 3 kilometer," terang Berton.
Untuk menangani karhutla di Riau, sebanyak 1.913 personel Satgas Darat dikerahkan dan berhasil memadamkan lebih dari 145 hektare lahan.
Sementara itu, Satgas Udara melakukan patroli dan water bombing dengan menjatuhkan lebih dari 1 juta liter air.
"Satgas Udara melakukan patroli dengan 2 unit untuk water bombing dengan menurunkan air sebesar 1.028.000 liter. Modifikasi cuaca juga dilakukan dengan menyemaikan 1 ton NaCl, dan hujan dapat optimal terjadi dengan intensitas ringan hingga sedang di Meranti maupun Pelalawan," papar Berton.
Kemudian menurut Berton, di Provinsi Jambi ada 29 titik dengan lahan terbakar 60 hektare dan yang berhasil dipadamkan 46 hektare.
"Kualitas udara tidak sehat sampai sangat tidak sehat dengan jarak pandang hanya 1 kilometer lebih," kata dia.
Berton menyebut, sebanyak 5.984 personel Satgas Darat dikerahkan di Jambi. Untuk jalur udara, kata dia, dua unit helikopter waterbombing telah menjatuhkan 324.000 liter air.
"Untuk satgas udara ada patroli 1 unit dengan beroperasi 4 jam lebih. Heli waterbombing juga dikerahkan 2 unit dengan menjatuhkan air 324.000 liter dengan luas lahan yang terbakar berhasil dipadamkan itu 5 hektare," papar Berton.
Berbeda dengan Riau, operasi modifikasi cuaca di Jambi tidak dapat dilaksanakan. "Kami tidak melakukan operasi modifikasi cuaca di sana mengingat tidak ada bibit-bibit awan di atmosfer," tambah Berton.
Sementara itu, di Sumatera Selatan, titik api ditemukan di 9 lokasi dengan luas lahan terbakar yang cukup signifikan, yakni hampir 400 hektare.
Hingga kini, menurut dia, baru 13 hektare lahan yang berhasil dipadamkan dengan kualitas udara dalam kategori Tidak Sehat dan jarak pandang antara 5 sampai 8 kilometer.
"11.000 orang lebih dikerahkan untuk bekerja di Satgas Darat. Kemudian di Satgas Udara, heli water bombing dikerahkan 3 unit dengan menjatuhkan 492.000 liter air," tutur Berton.
Sama seperti di Jambi, kendala cuaca juga dialami di wilayah Sumatera Selatan yang menghambat proses hujan buatan.
"Juga tidak melaksanakan modifikasi cuaca mengingat tidak adanya titik-titik awan yang ada di atmosfer," pungkas Berton.