Nazir Adam resmi mendaftar sebagai bakal calon Ketua PSSI Aceh periode 2026-2030 pada hari terakhir pendaftaran, Selasa (8/9/2026).
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Persaingan menuju kursi Ketua PSSI Aceh periode 2026-2030, semakin memanas.
Pasalnya, calon petahana atau incumbent yakni Nazir Adam, SE, MM resmi mendaftarkan diri sebagai bakal calon (balon) pada hari terakhir tahapan pendaftaran, Selasa (8/9/2026).
Mantan Wakil Bupati (Wabup) Pidie tersebut datang ke Sekretariat PSSI Aceh di Kompleks Stadion Harapan Bangsa, Lhong Raya, Banda Aceh, Selasa sore.
Ia didampingi sejumlah pengurus PSSI kabupaten/kota serta pimpinan klub anggota PSSI Aceh.
Nazir menjadi pendaftar ketiga setelah Keuchik Muslim dan Darmansyah.
Berdasarkan informasi dari Komite Pemilihan (KP) PSSI Aceh, kedua kandidat yang lebih dulu mendaftar tersebut telah dinyatakan memenuhi persyaratan administrasi.
Keputusan Nazir kembali mencalonkan diri bukan semata-mata untuk mempertahankan jabatan yang telah diembannya selama dua periode.
Ia mengaku maju karena mendapat dorongan dari para pegiat sepakbola dan klub yang menginginkan sejumlah program pembinaan yang telah dirintis selama kepemimpinannya tetap berlanjut.
Menurut Nazir, masih terdapat sejumlah agenda penting yang membutuhkan kesinambungan.
Salah satunya persiapan tim Pra-PON XII NTB-NTT.
Selain itu, pembinaan pemain usia dini dan peningkatan kualitas sumber daya manusia sepakbola juga menjadi pekerjaan yang menurutnya belum selesai.
Program pembinaan tersebut mencakup kelompok usia U-10, U-12, hingga U-17.
Nazir menilai, pembinaan usia dini harus dipersiapkan sejak sekarang karena sepakbola nasional akan menghadapi perubahan sistem kompetisi dan pembinaan mulai 2027.
“Program-program tersebut sebenarnya sudah terkonsep dengan baik untuk 2027, karena akan ada banyak perubahan dalam sistem kompetisi dan sistem pembinaan,” kata Nazir.
Baca juga: Keuchik Muslim Mendaftar Jadi Balon Ketua PSSI Aceh, Gratiskan Pendaftaran Liga 4 & Piala Soeratin
Ia menyadari program tersebut tidak hanya dapat dijalankan oleh dirinya.
Kandidat lain juga memiliki kesempatan untuk meneruskannya apabila nantinya memperoleh mandat memimpin PSSI Aceh.
Karena itu, Nazir menyerahkan sepenuhnya pilihan kepada klub dan para pemilik suara dalam menentukan pemimpin organisasi sepakbola Aceh untuk periode 4 tahun mendatang.
Ia juga mengakui motivasi pencalonannya kali ini berbeda dibandingkan saat pertama kali maju sebagai Ketua PSSI Aceh.
Jika dahulu keinginan membangun sepakbola lebih banyak berasal dari dirinya sendiri, kini keputusan tersebut justru diperkuat oleh permintaan dari berbagai pihak di lingkungan sepakbola Aceh.
“Kalau tidak ada dukungan, mungkin kita tidak akan maju lagi,” ujarnya.
Nazir berharap dukungan yang diberikan kepadanya tidak berhenti pada kepentingan pencalonan menjelang kongres.
Ia ingin dukungan tersebut berkembang menjadi kolaborasi nyata antara pengurus, klub, pelatih, pemain, wasit dan seluruh elemen sepakbola.
Menurut dia, pembangunan sepakbola Aceh membutuhkan kerja bersama.
Kepemimpinan organisasi tidak akan cukup jika tidak diikuti keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan.
Selama dua periode memimpin PSSI Aceh, Nazir juga menilai sejumlah perubahan mulai terlihat, terutama dalam pengembangan sumber daya manusia.
Ia menyebut kondisi organisasi ketika pertama kali menjabat masih menghadapi berbagai keterbatasan.
Saat itu, menurut Nazir, sekretariat belum berjalan secara optimal.
Jumlah wasit masih terbatas, sedangkan pelatih berlisensi juga relatif sedikit.
Kini, ia menyebut jumlah pelatih berlisensi B di Aceh telah mencapai lebih dari 30 orang.
Jumlah tersebut meningkat dibandingkan kondisi awal yang hanya sekitar lima orang. Sementara pelatih dengan lisensi D juga disebut mengalami peningkatan.
Perkembangan serupa terjadi pada sektor perwasitan.
Sejumlah wasit asal Aceh kini telah mendapat kesempatan memimpin pertandingan pada kompetisi nasional, termasuk Liga 1 dan Liga 2.
Nazir tidak mengklaim perkembangan tersebut sebagai hasil kerja pribadi.
Menurutnya, capaian itu merupakan buah kerja bersama seluruh unsur sepakbola Aceh.
“Ketika awal saya memegang kepemimpinan di PSSI Aceh, sekretariat saja tidak hidup,” beber dia.
“Kemudian jumlah wasit sangat sedikit. Pelatih sepakbola juga bisa dihitung dengan jari dan banyak yang belum memiliki lisensi,” katanya.
Dengan berakhirnya masa pendaftaran, perhatian kini beralih pada tahapan selanjutnya menuju pemilihan Ketua PSSI Aceh periode 2026-2030.
Nazir menyatakan siap mengikuti proses tersebut dan menyerahkan keputusan akhir kepada para pemilik suara.
Bagi Nazir, pencalonan kali ini bukan sekadar pertarungan mempertahankan posisi.
Tetapi kesempatan untuk menawarkan kesinambungan program yang dinilai masih diperlukan dalam membangun fondasi sepakbola Aceh.
Ia berharap momentum pemilihan ketua nantinya tidak berhenti pada pergantian kepemimpinan.
Tetapi menjadi awal kolaborasi yang lebih kuat untuk menciptakan ekosistem sepakbola Aceh yang sehat, berkelanjutan dan mampu melahirkan pemain-pemain berkualitas.(*)