Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Panji Destama
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Erupsi Gunung Anak Krakatau turut menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Bengkulu, terutama terkait aktivitas pembelajaran di sekolah.
Sebelumnya, beberapa daerah yang terdampak langsung Gunung Anak Krakatau menerapkan sistem belajar jarak jauh.
Meski abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau dilaporkan berdampak hingga wilayah Bengkulu, proses belajar mengajar di sejumlah sekolah di Provinsi Bengkulu hingga saat ini masih berlangsung secara tatap muka.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Bengkulu, Zulhendri, mengatakan pihaknya bersama pihak terkait terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kondisi di wilayah Bengkulu.
Menurut Zulhendri, metode pembelajaran di Provinsi Bengkulu belum mengalami perubahan.
Sekolah masih menjalankan kegiatan belajar mengajar seperti biasa dengan sistem tatap muka.
"Untuk kita di Provinsi Bengkulu sampai hari ini masih menggunakan pembelajaran seperti biasa, yaitu belajar tatap muka," kata Zulhendri saat dihubungi di Rejang Lebong, Bengkulu, Rabu (9/9/2026).
Pemantauan Sejumlah Wilayah
Pemantauan dilakukan secara khusus terhadap sejumlah wilayah yang dinilai perlu mendapat perhatian, termasuk Kabupaten Kaur, Bengkulu Selatan, Bengkulu Utara, yakni Pulau Enggano.
Zulhendri memastikan, berdasarkan pemantauan sementara, belum ada laporan kondisi yang berdampak langsung terhadap proses pembelajaran di wilayah tersebut.
"Kami bersama instansi terkait seperti BPBD hingga BMKG selalu memonitor perkembangan proses pembelajaran di kabupaten, terkhusus Kabupaten Kaur, Bengkulu Selatan, Bengkulu Utara, yaitu Pulau Enggano," ujarnya.
Ia menyebut hingga saat ini kondisi di wilayah-wilayah tersebut masih memungkinkan bagi sekolah untuk melaksanakan pembelajaran secara langsung.
Meski demikian, pemerintah tidak mengabaikan potensi dampak abu vulkanik akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Siswa dan Guru Diimbau Gunakan Masker
Langkah antisipasi tetap dilakukan dengan mengingatkan siswa maupun guru agar menggunakan masker, terutama ketika berada di luar ruangan.
"Alhamdulillah belum ada yang terdampak. Anak-anak kita imbau untuk menggunakan masker di luar ruangan, pun para guru kita," jelas Zulhendri.
Imbauan tersebut menjadi langkah pencegahan untuk mengurangi risiko paparan abu vulkanik yang dapat mengganggu kesehatan, khususnya saluran pernapasan dan mata.
Kemendikdasmen sebelumnya juga mengingatkan bahwa abu vulkanik erupsi Anak Krakatau telah berdampak hingga sejumlah wilayah, termasuk Bengkulu, sehingga warga sekolah diminta menerapkan langkah perlindungan diri.
PJJ Dapat Diterapkan Jika Kondisi Tidak Aman
Pemerintah Provinsi Bengkulu juga terus memantau perkembangan kondisi tersebut.
Perubahan metode pembelajaran, seperti penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ), dapat dilakukan apabila kondisi di lapangan dinilai tidak lagi aman bagi siswa dan tenaga pendidik.
Kebijakan tersebut sejalan dengan arahan pemerintah pusat yang menempatkan keselamatan dan kesehatan warga sekolah sebagai pertimbangan utama dalam menentukan metode pembelajaran di tengah kondisi darurat akibat erupsi.
Untuk saat ini, Disdikbud Provinsi Bengkulu masih mempertahankan pembelajaran tatap muka sembari melakukan pemantauan secara berkala.
Zulhendri menegaskan, pihaknya akan terus melihat perkembangan situasi dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah maupun pihak terkait.
Jika kondisi berubah dan terdapat wilayah yang terdampak abu vulkanik secara signifikan, metode pembelajaran dapat disesuaikan dengan kondisi keselamatan di masing-masing daerah.
Dengan demikian, kegiatan belajar mengajar di Bengkulu saat ini tetap berjalan normal, namun siswa, guru, serta pihak sekolah diminta tetap waspada terhadap perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.