Kylian Mbappe akhirnya angkat bicara soal tersingkirnya Prancis secara menyakitkan dari Piala Dunia 2026, dan menolak menyebut kekalahan di semifinal melawan Spanyol sebagai titik terendah dalam karier gemilangnya. Bintang Real Madrid itu tetap menunjukkan sikap menantang meski mengalami kemunduran tersebut, seraya menegaskan bahwa rasa lapar Les Bleus untuk meraih kejayaan internasional sama sekali belum pudar.
Mbappe mengenang tersingkir di semifinal
Mbappe berbicara terbuka mengenai beban emosional dari tersingkirnya Prancis dari Piala Dunia, dengan mengakui bahwa kekalahan 2-0 dari Spanyol di semifinal merupakan pil pahit yang sulit ditelan. Namun, ketika ditanya apakah kekalahan itu merupakan momen paling menghancurkan dalam perjalanan profesionalnya, pemain berusia 27 tahun tersebut segera menegaskan bahwa ia sudah pernah merasakan patah hati besar di panggung terbesar sepak bola dunia.
Berbicara menjelang laga besar Real Madrid di Liga Champions melawan Inter, Mbappe menoleh kembali pada kekecewaan itu dan membandingkannya dengan sejumlah kekalahan besar lain yang pernah ia alami dalam karier cemerlangnya. Penyerang Prancis tersebut telah merasakan puncak kejayaan sekaligus titik terendah di level internasional, setelah sebelumnya menjuarai Piala Dunia pada 2018 sebelum nyaris kembali meraihnya pada turnamen global berikutnya.
Membandingkan rasa sakit dari kekalahan besar
Saat ditanya apakah tersingkir kali ini adalah momen paling menyakitkan yang pernah ia alami di lapangan sepak bola, Mbappe tetap menjawab dengan penuh perenungan, sambil mengakui bahwa ia pernah menghadapi kepedihan serupa. Ia berkata: "Itu sulit. Yang paling berat… saya tidak tahu. Karena saya pernah kalah di final Piala Dunia dan final Liga Champions."
Terlepas dari tersingkirnya mereka secara menyakitkan, kapten Prancis itu menilai tim tetap bisa bangga dengan cara mereka tampil sepanjang turnamen serta hubungan yang mereka bangun dengan para pendukung. "Saya pikir itu adalah kompetisi yang sangat bagus untuk negara ini, berkat citra yang kami tampilkan," tambah pemain andalan Real Madrid tersebut.
Rasa lapar tetap terjaga bagi bintang Real Madrid
Mbappe juga menegaskan bahwa kekalahan tersebut tidak akan mengurangi ambisi Prancis maupun dorongan pribadinya untuk terus mengoleksi trofi. Sosok kunci Real Madrid itu dikenal karena hasratnya yang tak kenal lelah untuk mencapai kesempurnaan, dan ia menegaskan bahwa kegagalan dalam satu turnamen tidak akan menentukan masa depan tim nasional.
Pemain 27 tahun itu menekankan bahwa menjuarai Piala Dunia tidak pernah bisa dijamin, tetapi menjaga hasrat untuk sukses adalah hal yang mutlak bagi setiap profesional di level tertinggi. Mbappe mengatakan: "Anda tidak bisa selalu memenangkan Piala Dunia, karena itu tidak selalu memungkinkan. Tetapi kami selalu lapar akan kemenangan. Pada hari kami kehilangan rasa lapar itu, semuanya selesai."
Fokus kini kembali ke tugas klub
Sang penyerang kini akan mengalihkan perhatiannya kembali ke Real Madrid seiring dimulainya kampanye baru Liga Champions. Setelah musim panas yang dipenuhi drama internasional, perhatian kembali tertuju ke Bernabeu, tempat ekspektasinya selalu sama: memenangkan setiap kompetisi yang tersedia.
Meski tersingkir dari Piala Dunia masih menjadi kenangan yang sangat segar, padat dan tanpa ampunnya kalender sepak bola modern berarti hampir tidak ada waktu untuk terlalu lama merenung. Duel Real Madrid melawan Inter menjadi kesempatan sempurna bagi Mbappe untuk meninggalkan kekecewaan internasionalnya dan kembali menunjukkan mengapa ia dianggap sebagai salah satu pemain terbaik di dunia.