TRIBUNNEWSMAKER.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membantah narasi yang menyebut abu vulkanik Gunung Anak Krakatau telah mencapai wilayah Jawa Tengah.
Narasi tersebut sebelumnya beredar luas di media sosial dan menimbulkan kekhawatiran masyarakat, terutama setelah sejumlah wilayah di Jawa Tengah dilaporkan mengalami kondisi berdebu.
Namun, hasil pemantauan BMKG menunjukkan belum ditemukan indikasi adanya deposisi atau endapan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau di wilayah Jawa Tengah.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas 2 Jenderal Ahmad Yani Semarang, Yoga Sambodo, menyampaikan bantahan tersebut pada Senin (7/9/2026) malam.
Yoga mengatakan, BMKG telah melakukan pemantauan secara langsung di sejumlah wilayah untuk memastikan apakah abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau telah terbawa hingga Jawa Tengah.
"Hasil pemantauan langsung menggunakan paper test di Semarang, Cilacap, dan Tegal pada 7 September menunjukkan hasil negatif," ujar Yoga dikutip dari YouTube KOMPAS.COM, Rabu (09/09/2026).
Pemantauan tersebut dilakukan di tiga lokasi, yakni Stasiun Meteorologi Kelas 2 Jenderal Ahmad Yani Semarang, Stasiun Meteorologi Kelas 2 Tunggul Wulung Cilacap, serta Stasiun Meteorologi Maritim Kelas 3 Tegal.
Dari pemeriksaan tersebut, BMKG tidak menemukan deposisi abu vulkanik yang mengindikasikan adanya material erupsi Gunung Anak Krakatau di wilayah Jawa Tengah.
"Artinya hasil pemantauan menunjukkan tidak ditemukan indikasi abu vulkanik Anak Krakatau terbang hingga wilayah Jawa Tengah," jelasnya.
Yoga juga menjelaskan kondisi berdebu yang dilaporkan masyarakat di sejumlah kabupaten/kota di Jawa Tengah tidak dapat langsung dikaitkan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Menurutnya, Jawa Tengah saat ini masih berada dalam periode musim kemarau dengan kondisi yang relatif kering.
Bahkan, sekitar 24 wilayah di Jawa Tengah berada dalam status awas, dengan catatan hari tanpa hujan telah mencapai lebih dari 61 hari.
Kondisi tersebut menyebabkan permukaan tanah menjadi semakin kering. Ketika tertiup angin ataupun terkena aktivitas manusia, material debu dari permukaan tanah menjadi lebih mudah terangkat ke udara.
"Kondisi ini membuat permukaan tanah menjadi kering sehingga material debu lebih mudah terangkat oleh angin maupun aktivitas manusia," kata Yoga.
Dengan demikian, debu yang ditemukan di lingkungan masyarakat lebih mungkin berasal dari permukaan tanah yang kering dan tidak serta-merta dapat disebut sebagai abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Selain melakukan paper test, BMKG juga memantau kualitas udara di wilayah Semarang untuk mencari indikator lain yang dapat menunjukkan adanya material vulkanik.
Dua parameter yang dipantau adalah Suspended Particulate Matter (SPM) dan PM 2.5.
Hasil pemantauan menunjukkan tidak terdapat perubahan signifikan pada kedua parameter tersebut, baik sebelum maupun setelah terjadinya erupsi Gunung Anak Krakatau.
Menurut Yoga, kondisi tersebut menjadi salah satu indikator pendukung bahwa belum terdapat tanda kuat abu vulkanik Gunung Anak Krakatau telah masuk ke wilayah Semarang.
"Menurut Yoga, kondisi ini menjadi salah satu indikator pendukung bahwa belum ada indikasi kuat abu vulkanik Gunung Anak Krakatau telah masuk ke wilayah Semarang."
BMKG pun meminta masyarakat tidak langsung mengaitkan kondisi berdebu di Jawa Tengah dengan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau hanya berdasarkan informasi yang beredar di media sosial.
Pemantauan lapangan melalui paper test serta pengamatan kualitas udara menjadi dasar BMKG dalam memastikan kondisi sebenarnya di wilayah Jawa Tengah.
Dengan hasil pemeriksaan di Semarang, Cilacap, dan Tegal yang negatif, hingga pemantauan 7 September 2026 belum ditemukan deposisi abu vulkanik Gunung Anak Krakatau di Jawa Tengah.
(TribunNewsmaker.com)