TRIBUNFLORES.COM, LEWOLEBA – Gunung Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengalami tiga kali erupsi pada Rabu (9/9/2026) pagi.
Erupsi pertama terjadi pada pukul 05.03 WITA, kemudian disusul erupsi kedua pada pukul 05.56 WITA.
Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Ili Lewotolok, erupsi pertama menghasilkan kolom abu setinggi sekitar 500 meter di atas puncak atau sekitar 1.923 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah barat laut. Erupsi tersebut terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 40 milimeter dan durasi 41 detik.
Baca juga: Gunung Lewotolok 442 Kali Gempa Letusan, Aliran Lava Baru Terpantau di Sektor Timur Laut
Selang sekitar 53 menit kemudian, Gunung Ili Lewotolok kembali erupsi pada pukul 05.56 WITA dan kemudian pukul 09:51 WITA.
Pada erupsi kedua, tinggi kolom abu teramati mencapai sekitar 600 meter di atas puncak atau sekitar 2.023 mdpl.
Kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal juga teramati mengarah ke barat laut. Erupsi kedua terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 40 milimeter dan durasi 44 detik.
Pada pukul 09:51 WITA, Lewtolok kembali erupsi dengan tinggi kolom abu teramati kurang lebih 400 meter di atas puncak .
Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal ke arah barat. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 40 mm dan durasi 52 detik.
Saat ini, tingkat aktivitas Gunung Ili Lewotolok berada pada Level II atau Waspada. Gunung yang berada di Pulau Lembata ini merupakan salah satu dari 17 gunung api aktif di NTT yang sedang dipantau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Imbauan untuk Masyarakat
PVMBG mengimbau masyarakat di sekitar Gunung Lewotolok maupun pengunjung, pendaki, dan wisatawan untuk tidak memasuki atau melakukan aktivitas di dalam wilayah radius 2 kilometer dari pusat aktivitas gunung.
Larangan juga berlaku pada sektor selatan dan tenggara dengan radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Lewotolok.
Masyarakat diminta mewaspadai potensi ancaman bahaya guguran atau longsoran lava dan awan panas pada sektor selatan dan tenggara, sektor barat, serta sektor timur laut Gunung Lewotolok.
Masyarakat yang berada di sekitar gunung juga diimbau menggunakan masker pelindung mulut dan hidung serta perlengkapan lain untuk melindungi mata dan kulit dari paparan abu vulkanik.
Langkah tersebut dilakukan untuk menghindari gangguan pernapasan maupun gangguan kesehatan lainnya. Warga juga diminta menutup tempat penampungan air bersih agar tidak terpapar abu vulkanik.
Pemerintah daerah dan masyarakat diminta senantiasa berkoordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Ili Lewotolok di Desa Laranwutun, Kecamatan Ile Ape, atau PVMBG/Badan Geologi di Bandung untuk memperoleh informasi terbaru terkait aktivitas gunung.
Perkembangan aktivitas dan rekomendasi teknis Gunung Lewotolok juga dapat dipantau melalui aplikasi atau situs Magma Indonesia serta media sosial dan situs resmi Badan Geologi. (Sumber: MAGMA Indonesia).