TRIBUN-TIMUR.COM, MAROS - Pemadaman listrik bergilir di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, mulai berdampak terhadap aktivitas usaha warga.
Salah satunya dirasakan pemilik Cafe Angka, di Kecamatan Mandai, Rizal Mukarram.
Ia mengaku jumlah pelanggan turun ketika pemadaman listrik berlangsung.
“Biasanya kalau ada info pemadaman, beberapa pelanggan yang mau booking kami sampaikan. Akhirnya mau tidak mau tidak jadi,” kata Rizal.
Dalam kondisi normal, kata dia, jumlah pelanggan Cafe Angka mencapai sekitar 40 hingga 50 orang per hari.
Namun, saat pemadaman terjadi, aktivitas cafe bisa sepi selama beberapa jam.
“Kayak kemarin itu sempat ada yang mau (booking), akhirnya dari pagi kosong sampai siang,” ujarnya.
Rizal mengatakan pemadaman listrik yang biasanya terjadi berlangsung sekitar tiga jam.
Sementara, saat ini Cafe Angka belum memiliki sumber listrik alternatif atau genset.
Sehingga seluruh peralatan, mulai dari pendingin ruangan, kulkas, alat pembuat kopi tak dapat berfungsi.
Ia menyebutkan pemadaman mengakibatkan sejumlah menu makanan dan minuman tidak bisa disajikan.
Untuk minuman, sejumlah menu yang menggunakan blender dan mesin kopi tidak dapat dibuat.
“Yang pastinya yang menggunakan blender jus, sama yang menggunakan mesin kopi yang memang maunya panas fresh. Itu pasti tidak bisa karena semua listrik,” jelasnya.
Hal serupa terjadi pada sejumlah menu makanan.
Menu seperti mi goreng dan nasi goreng juga tidak dapat dibuat karena peralatan yang digunakan membutuhkan aliran listrik.
Mengantisipasi kondisi tersebut, pihaknya berencana menyediakan genset.
Namun, kebutuhan listrik di cafe membuat genset yang diperlukan bukan berkapasitas kecil.
Rizal mengatakan cafe membutuhkan genset berkapasitas sekitar 15.000 watt/VA.
“Sebenarnya solusinya genset. Cuma karena listrik tiga fasa, untuk saat ini petugas yang kemarin kerja belum datang pasang juga. Genset juga karena kebutuhan tinggi, harus menggunakan genset 15.000 (watt/VA), jadi harus pemesanan,” ungkapnya.
Rencana pembelian genset tersebut tentu membuat pihaknya harus kembali mengeluarkan modal.
Terlebih, saat listrik kembali menyala, kebutuhan daya juga cukup tinggi.
“Kalau mau beli genset artinya keluar modal lebih lagi, terlebih harus pemesanan dulu,” ujarnya.
Ia berharap pemadaman listrik tidak lagi terjadi atau setidaknya durasinya dapat dipersingkat.
“Harapannya pastinya tidak ada lagi pemadaman. Walaupun ada, ya jangan sampai sejam. Paling lama 10 menit, ya oke,” tandasnya.
Salah satu pengunjung Cafe, Asty berharap pemadaman listrik ini tak jarang menurunkan minatnya untuk tinggal terlalu lama.
Padahal, ia biasanya ke cafe untuk mengerjakan tugas dari kantornya.
"Kita ke cafe karena bisa ngadem sekaligus untuk dapat wifi, tapi karena pemadaman, akhirnya wifi tidak ada dan cafe terasa panas," bebernya.