Sutradara Usmar Ismail bercerita kepada Majalah INTISARI tentang pengalamannya membuat film pertamanya, Darah dan Doa, dan kesulitan-kesulitan yang dia hadapi.
Penulis: Usmar Ismail | tayang di Majalah INTISARI edisi Agustus 1963 dengan judul "Film Saja Jang Pertama"
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Usmar Ismail adalah gurunya sutradara-sutradara di Indonesia. Tapi lebih dari itu, dia juga dikenal sebagai seorang sastrawan, wartawan, juga pahlawan nasional Indonesia. Dia dianggap sebagai pelopor perfilman Indonesia dan karena itulah disebut sebagai Bapak Film Indonesia.
Kepada Majalah INTISARI edisi Agustus 1963 (edisi pertama Majalah INTISARI), Usmar Islam bercerita tentang pengalamannya dengan film pertamanya: Darah dan Doa atau The Long March, yang tayang perdana pada 1 September 1950.
===
Saya masih ingat pertunjukan perdana di Istana Negara buat film Perfini yang pertama, Darah dan Doa atau The Long March. Kalau tak salah, itu adalah pada pertengahan tahun 1950 dan Presiden Soekarno barulah beberapa bulan menempati Istana Merdeka.
Darah dan Doa mungkin adalah film Indonesia yang pertama yang mendapat kehormatan untuk diputar di tempat kediaman Bung Karno jang baru.
Peristiwa itu adalah suatu hal yang sukar saya lupakan, karena buat saya, itulah pertama kali film yang saya sutradarai akan dinilai oleh banyak pemuka-pemuka bangsa.
Sebelumnya saya telah membuat dua buah film untuk maskapai Belanda, South Pacific Film Corporation, yaitu film-film Harta Karun, berdasarkan karangan Moliere “Si Bachil” dan Tjitra menurut sebuah lakon sandiwara yang saya tulis tahun 1943. Tetapi, saya tak dapat mengatakan bahwa kedua film itu adalah film saya, karena pada waktu penulisan dan pembuatannya, saya banyak sekali harus menerima petunjuk yang tak selalu saya setujui dari pihak produser.
Meskipun Tjitra mendapat sambutan yang baik dari pihak pers, terus terang film itu terlalu banyak mengingatkan saya kepada ikatan-ikatan yang saya rasakan sebagai ungkapan terhadap daya kreasi saya.
Karena itu saya lebih senang menganggap Darah dan Doa sebagai film saya yang pertama, yang seratus persen saja kerjakan dengan tanggung jawab sendiri. Hati saya berdebar-debar dalam pertunjukan pertama di Istana Negara itu.
Karena perasaan saya sangat tertekan memperhatikan adegan demi adegan tersorot di layar putih.
Ada saja kesalahan yang saya lihat. Teranglah teknis film itu lebih buruk dari film Harta Karun dan Tjitra karena dikerjakan dengan peralatan yang jauh lebih primitif dan dengan jumlah orang yang jauh lebih sedikit.
Film Darah dan Doa dibuat berdasarkan sebuah cerita Sitor Situmorang dan dimaksudkan sebagai suatu film yang berambisi besar, artinya sebagai film pertama tentang Revolusi Indonesia secara fisik yang baru saja selesai.
Film itu banyak maunya. Kalau dapat rasanya hendak dirangkul seluruh kejadian besar yang baru saja berlangsung itu dalam satu film yang sempurna.
Mungkin saya salah perhitungan, karena saya lebih banyak hanya dipimpin oleh semangat yang meluap-luap. Tetapi tanpa semangat yang meluap-luap film itu tidak pernah akan terjadi dan barangkali Perfini sebagai perusahaan tidak pernah pula akan bangun.
Waktu Sitor datang kepada saya dengan beberapa halaman cerita yang mengisahkan pengalaman seorang perwira Tentara Nasional Indonesia dalam mars yang bersejarah dari Timur ke Barat P. Jawa yang kemudian disebut menurut pengalaman Tentara Merah Tiongkok, “The Long March”, saya dengan segera tertarik pada cerita itu.
Sejak ada berita-berita bahwa kedaulatan akan dipulihkan, beberapa kawan dari Multifilm (cikal bakal Perum Produksi Film Negara/PFN, red.) sudah saya ajak omong-omong tentang kemungkinan mendirikan suatu usaha sendiri. Yang susah adalah modal dan peralatan.
Sebelumnya saya sudah beberapa kali mendekati Mr. Sjamsuddin (alm.), yang pada waktu itu menjabat Menteri Penerangan RI tentang kemungkinan memakai alat-alat bekas Multifilm dengan suatu sikap tegas, bahwa saya tidak mau jadi pegawai pemerintah. Saya ingin membuat film atas tanggung jawab sendiri.
Mr. Sjamsuddin pada prinsipnya tidak keberatan dan atas dasar kesediaan itu kami berkumpul, a.l. dari bekas Multifilm HB Angin, Nawi Ismail, Max Tera, dan beberapa yang lain. Sedang dari Jogja datang kawan-kawan seperti Surjo Sumanto, Naziruddin Naib, dan Basuki Resobowo.
Tetapi pada saat akhir, sesudah terbentuknya Perusahaan Film Negara (PFN), yang meneruskan pembuatan film-film cerita di bawah penyutradaraan bekas seorang letnan Belanda, Angin dan Nawi merasa lebih aman untuk tetap tinggal di PFN.
Saya tak dapat menyalahkan mereka, karena dalam usaha baru yang hendak didirikan itu belumlah sama sekali kelihatan perspektif masa depan yang terang. Sampai waktu itu baru terkumpul uang 30 ribu rupiah, uang pesangon sebagai bekas anggota TNI.
Separuh di antaranya dengan segera dibayarkan kepada PFN, sebagai persekot sewa studio hingga pada waktu akan mulai produksi uang tinggal k.l. 12.500 rupiah. Meskipun nilai uang pada waktu itu masih rada lumayan, tapi mengingat ongkos produksi film terakhir yang saya buat untuk South Pacific 76.500 gulden, maka masih harus dicarikan tambahan banyak, dikirakan 15 ribu rupiah.
Kendati demikian, dibuatlah suatu firma pada 30 Maret 1950 dan pada hari itu juga saya berangkat ke daerah Subang untuk melakukan opname pertama. Tergesa-gesanya pembuatan akta notaris itu juga disebabkan karena oleh beberapa orang finansir telah disanggupi persekot 100 ribu, malahan sudah akan diterimakan.
Tapi momok campur tangan orang lain yang tak mengerti sama sekali kepada cita-cita pembuatan film itu telah menggagalkan utang-piutang tersebut.

Shooting di Purwakarta
Baiklah saya kembali sebentar kepada persiapan-persiapan yang sementara itu telah dikerjakan di bidang kreatif pembuatan Darah dan Doa.
Pada hakikatnya yang sudah punya pengalaman di bidang pembuatan film cerita hanyalah saudara Max Tera (juru kamera) dan saya. Saudara Sjawal Muchtaruddin (soundman) hanya punya pengalaman di radio, Basuki Resobowo (art director) di atas panggung.
Kami sudah mengadakan beberapa tes shooting dengan saudara Rendra Karno (waktu itu masih menggunakan nama Sukarno) di daerah Ancol. Tetapi sebagai orang baru yang penuh ambisi saya belum puas dengan hasil-hal tes itu.
Saya ingin muka-muka baru dengan bakat-bakat yang segar, maka dipasanglah adpertensi di koran untuk mencari pemain-pemain. Dari beberapa ratu yang melamar, terpilih kurang lebih dua puluh orang pria dan wanita.
Terbanyak pemuda-pemuda yang masih duduk di bangku sekolah, di antaranya yang kemudian memegang peranan dalam film itu Del Juzar, Sutjipto, Aedy Moewardi. Yang lain yang sekarang sudah punya nama di bidangnya masing-masing a.l. Trisnoyuwono, Wisjnu Mouradit, dan beberapa orang yang sekarang sudah jadi perwira pada angkatan bersenjata.
Mereka yang terpilih mendapat latihan dasar-dasar berperan di Gedung Kesenian selama beberapa minggu.
Demikianlah dengan sebuah kamera Akeley yang telah puluhan tahun umurnya dengan menyewa sebuah oplet rongsokan rombongan menuju Purwakarta. Sebelumnya, telah diutus ke sana saudara Sumanto untuk menghadap Overste Sambas yang pada waktu itu menjabat sebagai komandan resimen.
Tetapi dia tak bisa kembali untuk melaporkan hasil pembicaraannya karena kehabisan uang belanja.
Sebelum itu, saya juga sudah pergi menghadap panglima Divisi Siliwangi Kolonel Sadikin ke Bandung untuk memohon bantuan pihak tentara dan pada prinsipnya disetujui. Tetapi sesampai di Purwakarta, semuanya harus dibicarakan kembali dengan Overste Sambas yang syukur saja mempunyai sikap yang luwes.
Akhirnya kami diserahkan kepada Mayor Supardjo untuk mendapat bantuan di daerah Subang.
Seluruh rombongan menginap di sebuah pesanggrahan dan mulailah suatu cara kerja yang hingga saat ini masih menakjubkan saya karena keistimewaannya. Pergi shooting dengan tidak cukup uang dan dengan persiapan yang kurang sekali, pada galibnya pastilah akan mengakibatkan malapetaka.
Tapi malam sehabis kerja saya mengetik skrip buat esok harinya, berdasarkan cerita Sitor yang beberapa helai. Beberapa kawan yang turut dari Jakarta, sebagai peninjau, a.l. Asrul Sani dan Rivai Apin, cuma geleng-geleng kepala saja.
Memanglah, membuat film pada waktu itu masih dianggap sesuatu yang aneh dan banyak kawan-kawan yang ingin tahu, bagaimana saya sanggung menyelesaikannya.
Tetapi ada sesuatu yang menolong, yang pada waktu ini tak bisa dialami, yaitu bahwa cetakan percontohan (rush-prints) dengan segera dapat diselesaikan oleh PFN dan terus dikirimkan kembali ke lokasi untuk dilihat. Setelah saya menulis skrip, saudara Max Tera dan Djohan Sjafri menyelenggarakan montage film Darah dan Doa dan dari sehari ke sehari dapatlah diikuti pertumbuhan cerita itu.
Gadis tunggal di tengah rombongan
Pada suatu hari, sesudah percobaan pemutaran montage kasar itu, saya didatangi oleh saudara Tong, pemilik bioskop. Dia memuji dan bertanya apakah sudah ada yang akan mengedarkan film itu.
Sungguh mati, sampai saat itu, belum terpikir sedikit pun tentang pengedarannya. Dan tawaran saudara Tong yang punya kantor peredaran di Jakarta telah saya terima dengan baik, apalagi sesudah dia menyatakan kesediaannya pula untuk memberikan persekot guna menyelesaikan film itu.
Utang sudah bertumpuk, pesanggrahan sudah agak lama belum dibayar, para pemain mulai menggerutu, maka tawaran saudara Tong itu sesungguhnya datang seperti pucuk dicinta ulam pun tiba. Bahwa perusahaan baru itu kemudian akan terlibat dalam semacam sistem ijon, pada waktu itu belum terpikir. Pokoknya produksi dapat diselesaikan.
Sesudah masuk ke studio Jakarta ternyata banyak adegan tak bisa dipakai, karena ceritanya tak jalan. Diadakan lagi perombakan dan shooting tambahan, sampai-sampai menerobos ke lereng Gunung Lawu, kemudian pindah lagi ke lereng Gunung Gede untuk akhirnya terhampar ke pinggir Kali Citarum.
Untunglah pada waktu itu segala bantuan, baik dari pihak sipil maupun militer diberikan dengan spontan dan … cuma-cuma (sekarang situasinya agak lain). Untung pula di mana-mana berjumpa teman-teman lama dari ketentaraan.
Salah seorang penasehat tentara yang selalu turut dengan rombongan kami adalah kapten-dokter Sadono. Jasa-jasanya tidak mudah dilupakan.
Amat terasa sekali kekurangan kemahiran dalam menghadapi persoalan-persoalan cinematografis, yaitu mencarikan penyelesaian visuil yang efektif untuk suatu problema dramatis. Terasa ada, tetapi dalam pelaksanaan banyak kali luput.
Di samping itu, ada lagi kesulitan-kesulitan tenaga yang memang belum punya pengalaman dan jumlahnya pun sedikit.
Saya masih ingat, bagaimana kami harus merangkap berbagai jabatan. Saya sendiri selain sebagai produser-sutradara-penulis skenario, seringkali harus menjadi sopir, kuli angkut, make-up man, pencatat skrip, dan asisten sendiri.
Sekarang rasanya tidak sanggup mengulangi kembali semua pengalaman itu. Banyak cerita nyata (anecdotes) dapat saya kisahkan, cerita-cerita lucu, tetapi juga cerita-cerita sedih, pengalaman-pengalaman perseorangan, tetapi juga pengalaman secara rombongan.
Yang turut dengan rombongan hanya seorang gadis, di antara begitu banyak pemuda. Buat peranan utama wanita turut main seorang gadis Kalimantan namanya Farida.
Hidungnya tidak mancung, tetapi matanya yang besar dan sendu menguasai seluruh air mukanya. Tidak mengherankan beberapa pemuda dalam rombongan itu lambat laun memberikan perhatian istimewa kepada Farida.
Hal itu menimbulkan sedikit banyak pergeseran perasaan antara mereka. Seperti halnya dalam film, biasanya yang menang dalam perlombaaan demikian adalah peran utama. Untunglah, segala-galanya tidak mengakibatkan ekor yang lebih panjang dari masa shooting itu saja. Lagi pula gadis manis itu sudah ada yang punya.

Kesulitan dengan pemain
Salah satu kesalahan saya sebagai orang baru adalah bahwa saya ingin segala-galanya autentik, seperti aslinya dan di tempat aslinya. Tambah-tambah lagi para penasehat saya yang resmi dan tidak resmi juga mendorong saya supaya jangan menyimpang dari kejadian-kejadian yang sebenarnya.
Hanyalah, perlahan-lahan saya mengerti bahwa film itu adalah betul-betul seni “make believe”, membuat orang percaya tentang sesuatu, membuat kenyataan baru dari yang ada. Karena, banyak kali yang dibuat di tempat lain atau di studio misalnya lebih meyakinkan dari jika dibuat di tempat asalnya.
Di atas panggung sudah ada pengalaman saya mengendalikan pemain-pemain amatir. Tapi belum pernah saya menjumpai kesukaran yang lebih besar seperti pada film saya yang pertama itu.
Seorang pemain pria amat parlente. Rambutnya tidak boleh kusut dan bajunya harus tetap bersih, meskipun dalam cerita dia harus kelihatan kumal, karena baru saja kembali dari pertempuran.
Pemain yang lain dengan kepala batu mengemukakan konsepsinya tentang peranan yang dijalankan, meskipun sudah berkali-kali diberi keterangan, bahwa dia seharusnya menginterpretasikan secara kreatif apa yang dimaksud oleh si pengarang, bukannya membikin kreasi sendiri.
Jawaban “tetapi saya merasakan lain” seringkali kedengaran dalam pembahasan peranan-peranan. Berlainan dari pemain-pemain profesional, kebanyakan pemain amatir dalam Darah dan Doa takut sekali akan over-acting, suatu hal yang memang sejalan dengan pendapat saya pada waktu itu.
Sesudah lebih banyak pengalaman dalam penyutradaraan, saya kemudian tahu, bermain kurang dari semestinya, under-acting, tidaklah selalu cocok dengan semua peranan. Kadang-kadang suatu peranan justru mengharuskan over-acting.
Film pertama yang saya buat dengan tidak terikat kepada siapa pun itu memberikan pula kepada saya pelajaran, bahwa meskipun kita adalah majikan kita sendiri, tidaklah dengan sendirinya kita dapat berbuat sekehendak kita, karena masih banyak lagi ikatan-ikatan yang lain, seperti terbatasnya modal, peralatan, kemampuan, dll.
Kisah manusia Sudarto
Banyak yang ingin saya ceritakan dalam film Darah dan Doa, justru karena segala yang terjadi dalam film itu masih segar dalam ingatan, clash kedua, peristiwa Madiun, pemberontakan D.I., penyerahan kedaulatan, dll. Tetapi, karena barangkali segala peristiwa itu masih terlalu dekat waktu kejadiannya, maka belumlah cukup kesempatan bagi saya untuk memilih peristiwa-peristiwa yang benar-benar ada hubungannya dengan kisah manusia Sudarto yang hendak diceritakan.
Sudarto, ceritanya adalah seorang guru sebelum revolusi 17 Agustus yang kemudian dengan sadar turut revolusi bersenjata dan menjalankan tugasnya sebagai seorang prajurit yang baik sampai dia menjadi kapten.
Dengan patuh dia turut hijrah sesudah persetujuan Renville ditempatkan di Sarangan, di mana dia berkenalan dengan seorang gadis Jerman. Hubungannya dengan gadis itu tidak disetujui oleh rekannya, hingga pecahnya peristiwa Madiun merupakan suatu pelarian buat dari sangkaan kawan-kawannya.
Tetapi peristiwa Madiun itu pula menimbulkan dalam jiwanya suatu perjuangan batin yang tidak tertahankan, karena dia harus menumpas kawan-kawannya yang lama dalam suatu pertarungan yang tak kenal ampun.
Kembali dia mendapat kelegaan sementara, waktu dia diperintahkan kembali ke Jawa Barat, merembes masuk ke dalam daerah pendudukan Belanda dengan jalan kaki melalui hutan-hutan gunung dan jurang. Dalam perjalanan itu Sudarto berkenalan dan jatuh cinta pada seorang jururawat yang kemudian tewas oleh peluru Belanda.
Dalam kesedihan itu dia menawarkan diri untuk menyusup ke dalam kota, tetapi tidak tak dapat mengendalikan diri untuk tidak singgah ke tempat gadis Jerman yang dikenalnya di Sarangan dulu. Kelalaian itu menyebabkan dia ditangkap Belanda, dijebloskan ke penjara dan dianiaya.
Dia barulah keluar sesudah penyerahan kedaulatan, untuk turut serta merayakan kedatangan Presiden Sukarno di Jakarta. Tetapi waktu dia kembali ke pondoknya peluru maut telah menunggunya.
Dia ditembak mati oleh salah seorang kawannya dari Sarangan yang mau membalas dengan atas kejadian-kejadian pada peristiwa Madiun, kendatipun dia adalah orang yang paling tidak setuju dengan sesuatu pertikaian antara sesama bangsa.
Kenangan bersejarah
Kisah Sudarto, adalah kisah sedih. Sudarto bukanlah pahlawan dalam arti biasa, tetapi adalah seorang manusia Indonesia yang terlibat dan diseret oleh arus revolusi dan akhirnya menjadi korban revolusi itu sendiri, sebelum dia sempat menilai segala kejadian di sekelilingnya dengan sadar.
Saya tertarik kepada kisah Sudarto karena menceritakan dengan secara jujur kisah manusia Indonesia dengan tidak jatuh menjadi film propaganda yang murah. Tetapi tidak semua orang Indonesia setuju dengan saya, antara lain sebagian dari para perwira Angkatan Darat di beberapa daerah yang menganggap saya tidak menggambarkan keperwiraan, tetapi melukiskan kelemahan-kelemahan seorang anggota tentara.
Menilik kembali, saya tak ingat lagi, berapa bagian dari kisah itu kepunyaan Sitor dan berapa bagian daripadanya adalah karangan saya.
Meskipun bagaimana, Darah dan Doa sesungguhnya film Indonesia yang pertama tentang manusia Indonesia dalam revolusi. Pada tahun 1950, kendatipun revolusi fisik baru saja habis, sudah kedengaran keluh-kesah dari bekas-bekas pejuang yang merasa dirinya tidak dihargai dan beralih mengambil tindakan-tindakan yang negatif.
Tetapi Sudarto sampai napas yang terakhir tetap percaya kepada tujuan perjuangannya. Dan sesungguhnya tindakan-tindakan yang diambil oleh beberapa komandan daerah untuk melarang beredarnya film itu menunjukkan kesempitan cara berpikir, suatu hal yang tak perlu diherankan dan disesalkan ketika itu.
Pada akhir pertunjukan di Istana Negara itu saya merasakan suatu suasana yang tertekan, seolah-olah akhir film itu juga merupakan akhir segala jalan. Penurutan saya secara filmis teranglah tidak sempurna, tapi apa yang hendak saya katakan kiranya dapat dipahami oleh semua orang yang melihat, meskipun tidak disetujui mereka.
Film Darah dan Doa bukanlah merupakan suatu sukses komersil, tetapi juga tidak menjadi kegagalan total. Film itu selesai dengan ongkos produksi k.l. 350 ribu rupiah, suatu jumlah yang sangat besar karena pada waktu itu orang membuat film hanya dengan uang 100 ribu rupiah.
Meskipun saya telah membuat dua film sebelum Darah dan Doa, film itu saya rasakan sebagai film saya yang pertama.
Buat pertama kali sebuah film diselesaikan seluruhnya baik secara teknis-kreatif, maupun secara pertanggungjawaban ekonomis, oleh anak-anak Indonesia. Dan buat pertama kali pula film Indonesia mempersoalkan kejadian-kejadian yang nasional sifatnya.
Dalam salah satu musyawarah bersama Dewan Film Indonesia, hari shooting pertama film Darah dan Doa yaitu tanggal 30 Maret telah dinobatkan sebagai Hari Film Nasional.
Dengan segala jerih payah dan pengorbanan lahir dan batin selama pembuatan film itu, kiranya kehormatan yang diberikan Dewan Film Indonesia kepada film saya yang pertama itu merupakan penghargaan yang tak ada taranya hingga sukar bagi saya untuk menyatakan terima kasih, karena kata-kata saya tidak akan ada artinya.
Bagi saya sendiri kisah pembuatan sebuah film telah menjadikan kisah hidup seorang anak manusia yang tidak sanggup lagi melepaskan diri dari suatu pekerjaan yang pada mulanya dipilihnya dengan tiada sengaja.