Sepulang dari 'pengungsian' di Swiss, Baby Huwae -- salah satu perempuan dalam lingkaran Bung Karno -- langsung ditangkap dan digiring ke Markas Besar CPM. Dia dienterogasi sehari semalam. Sempat bebas, Baby Huwae ditangkap lagi dan ditahan hingga setahun lamanya.
Diolah dari artikel di Tabloid NOVA edisi 18 Desember 1988
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Baby Huwae akhirnya menerima tawaran Bung Karno untuk menemani Ratna Sari Dewi “mengungsi” ke Swiss setelah meletusnya peristiwa Gerakan 30 September 1965. Meski begitu, hidup di luar negeri tak membuatnya betah. Dia pun pulang ke Indonesia dan ditangkap oleh CPM.
“Akhirnya hatiku pun luluh. Tak kuasa rasanya aku menolak permintaan BK. Hanya saja celakanya, kami diperintahkan untuk berangkat besoknya juga,” cerita Baby Huwae sebagaimana ditulis di Tabloid NOVA edisi 18 Desember 1988.
Dengan berat hati, berangkatlah dia bersama Dewi Soekarno. Sebelum pesawat tinggal landas, sekali lagi BK masih sempat berpesan, agar dia benar-benar menjaga Dewi.
“Jagalah dia baik-baik. Kalau sudah waktunya nanti, kalian akan saya panggil,” begitu kata BK.
BK sendiri, sebagaimana disampaikan oleh Baby Huwae, sebetulnya juga mendapat tawaran pergi ke pengasingan dengan segala fasilitas serta kemudahan. Tapi semua bujukan itu BK tolak.
“Saya mencintai negeri ini. Apa pun yang terjadi, saya akan tetap berada di sini. Sampai ajal datang menjemput,” ujar BK sebagaimana dituturkan oleh Baby.
Begitu banyak pesan-pesan yang disampaikan BK kepada Baby. Dia juga melarang Dewi untuk memberikan wawancara kepada para wartawan.
Ternyata benar juga yang dikatakan BK. Bahkan menjelang keberangkatan mereka, wartawan dari dalam dan luar negeri sudah berkumpul di bandara. “Begitu aku dan Dewi melewati ruang tunggu, mereka pun memburu Dewi,” kata Baby.
Yang bisa mereka lakukan hanya bingung. Dewi sendiri tak memberi komentar sepatah kata pun, sampai masuk pesawat.
Tapi Dewi tak bisa selamanya membisu…
Tiba di tempat "pengungsian" tiap hari Baby dan Dewi tak pernah bisa tenang. Mereka selalu bertanya-tanya akan keadaan Indonesia, terutama soal keselamatan BK.
Meski sudah berada di Swiss, keduanya tetap diburu, meminjam istilah Baby, “para nyamuk pers”.
Para wartawan itu, aku Baby, terus membuntuti keduanya tanpa lelah. Mereka bahkan sering menyelinap di kamar hotel tempat dua perempuan itu tinggal dengan berpura-pura menjadi pelayan kamar, satpam, atau apa saja.
“Setelah berhasil menyusup ke kamar, barulah mereka menunjukkan kartu pers,” kata Baby lagi.
Meski begitu, ketika itu Dewi masih terus menolak untuk diwawancarai. Begitu juga dengan Baby yang tak bersedia memberi komentar apa pun kepada para wartawan yang memburu mereka.
Hari demi hari berlalu, tapi para wartawan itu terus memburu. Hingga suatu saat, rupanya hati Dewi cair, dia mau menjawab pertanyaan para wartawan itu. “Meskipun sudah kuperingatkan agar dia mengingat pesan BK,” terang Baby.
Setelah itu, menyusul wawancara-wawancara selanjutnya. Alhasil, hampir tiap hari omongan dan wajah Dewi muncul di surat kabar dan televisi.
Tak ayal lagi, nama Dewi melambung tinggi. Dia pun kemudian mulai dikenal oleh mereka dari golongan jet-set. Ketika nama BK mulai surut, justru nama dan popularitas Dewi yang naik.
Pulang karena tak betah
Sudah sekian lama dua perempuan itu di “pengasingan”, tapi Bung Karno tak kunjung memanggil keduanya untuk pulang. Malah yang terjadi kemudian Baby jatuh sakit selama dua bulan.
Ketika itu, Baby dan Dewi berlibur ke Prancis atas undangan Putri Soraya dari Iran untuk makan malam. Setelah itu, mereka kembali ke Swiss untuk bermain ski.
“Di situ kami berkumpul dengan orang-orang kaya terkenal di dunia,” tutur Baby.
Ketika sedang asyik meluncur dari perbukitan es itulah Baby terjatuh. Tiba di hotel, Dewi mengajaknya ke diskotek. Karena badannya sakit, Baby menolak ajakan itu. Tapi Dewi terus mendesak hingga akhirnya hatinya luluh juga.
Saat sedang asyik-asyiknya santai di kelab malam itulah, Baby jatuh pingsan. Sadar-sadar, dia sudah berada di rumah sakit. Sekitar 1,5 bulan dia dirawat di rumah sakit itu.
Selama Baby dirawat, rupanya Dewi tak suka tinggal sendirian di kamar hotel. Dia pun memutuskan kembali ke Indonesia.
Sebelum meninggalkan Swiss, keduanya sempat memeriksakan kesehatan kepada seorang ahli kandungan ternama, Profoser Hubert de Watterville, atas saran Ratu Farahdiba, yang saat itu masih menjadi permaisuri Shah Iran.
Saat itulah Baby diberitahu bahwa ginjalnya hanya satu dan indung telur kirinya mengalami kelainan.
Mei 1966, Baby memutuskan kembali ke Indonesia lewat Hong Kong dan Bangkok. Di dua kota itu, sebenarnya dia sudah diwanti-wanti agar tak nekat kembali Jakarta.
“Kalau kau nekat pulang, kau bakal diciduk di pelabuhan udara,” kata mereka yang menasihatinya.
Di HongKong, Baby berjumpa dengan Jaksa Agung Sugiharto. Dia pun mengingatkan, agar sebaiknya Baby tak kembali ke Indonesia saat itu.
Tapi dia bersikeras pulang. Bagaimanapun juga, dia punya suami dan anak-anak yang menunggu kedatangannya. Lagipula, dia merasa 100 persen orang Indonesia!
Saat di pesawat, kebetulan Baby satu pesawat dengan Ibnu Sutowo yang lagi-lagi memperingatkannya soal kemungkinan dia ditangkap setibanya di bandara. Khawatir atas kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi, Baby kemudian menitipkan semua uang miliknya kepada Ibnu Sutowo.
“Kalau memang benar aku ditangkap, setelah bebas nanti, barulah uang itu saya ambil,” begitu katanya.
Benar saja! Begitu kakinya menginjak bumi Indonesia, Baby langsung diciduk. Barang-barang bawaannya yang sebanyak 40 kopor itu hilang tak tentu rimbanya.
Paspornya juga dicabut. Sementara dirinya langsung digiring ke Markas Besar CPM Gambir untuk diinterogasi sehari semalam.
Segala macam pertanyaan dilontarkan kepada wanita berparas indo itu. Mulai dari soal politik hingga penyelundupan senjata yang tak dia ketahui sama sekali.
Setelah itu Baby diperbolehkan pulang. Meski begitu, dia tetap dikenakan tahanan rumah selama setahun.
Rupanya penderitaan Baby belum cukup. Dia kembali diciduk dan kali ini ditahan di Asrama CPM Brawijaya selama sekitar satu tahun.
Baby benar-benar terpukul saat itu. Dia diisolasi total, tak boleh dikunjungi suami dan anak-anaknya. Kamarnya juga terpisah. Dia merasa benar-benar tersisa, apalagi ketika itu dia sedang hamil muda.
Selama ditahan, Baby hanya mendapat makanan berupa nasi, sayur tawar dan sepotong tempe. Tak ada makanan ekstra atau vitamin meski dia sedang berbadan dua.
Interogasi tetap berlangsung dan jadi "makanan" Baby sehari-hari. Akhirnya dia dibebaskan menjelang kelahiran anaknya yang keempat. Keluar dari “penjara” CPM, Baby langsung masuk RS Cikini.
Tak lama kemudian, Baby mendengar kabar meninggalnya Bung Karno. Dia pun langsung meminta izin dokter untuk melayat.
“Tak bisa kugambarkan dengan kata-kata, betapa pedih hatiku melihat jenazah BK yang telah terbujur kaku. Setelah usai acara pemakaman di Blitar, aku sempat berjumpa Dewi. Dia sempat menanyakan kebenaran berita penahananku,” kata Baby.
Baby sempat “sakit hati” ketika Dewi bertanya soal “Apa saja yang kau ceritakan selama ditahan?”
Dia bilang kepada sahabatnya itu dengan sejujur-jujurnya bahw tak sepotong pun kalimat yang menjelekkan Dewi pernah dia ucapkan. Bahkan Baby membela mati-matian, juga menceritakan bagaimana menderitanya dia selama dalam tahanan.
Mendengar itu, Dewi menangis sejadi-jadinya.
Setelah Bung Karno meninggal, Baby kembali teringat akan semua ucapan maupun nasehat yang pernah Bung Besar itu sampaikan kepadanya. Berbekal semua itulah, Baby mulai bangkit dengan semangat baru.
Baby kemudian kembali membuka butiknya. Juga merintis terbentuknya perkumpulan wanita pengusaha internasional di Jakarta. Olahraga pun termasuk bidang yang kemudian dia akrabi, di antaranya terlibat di karate.
Soal Dewi sendiri, Baby selalu menganggapnya sebagai sesosok perempuan berprofil internasional. Di mana saja dia berada, Dewi, menurut Baby, akan cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya.
“Dia tak segan-segan belajar. Dewi bisa berdandan ala nasional, tapi ia juga sanggup tampil sebagai wanita Jepang serta Eropa,” kesan Baby.
Meski begitu Baby juga tak habis pikir kenapa dulu dia seperti dirantai Dewi. Dia merasa seakan-akan dimonopoli oleh istri Bung Karno berdarah Jepang itu – meski Baby tahu pasti bahwa Dewi tak punya maksud tertentu.
Pengalamannya masuk tahanan memberi banyak hikmah kepada Baby. Dia merasa, dia situlah dia digembleng menjadi manusia yang tak mudah putus asa.
Di situ Baby jadi yakin, setiap kegagalan bisa diubah menjadi sebuah keberhasilan. Suka dan duka di masa lalu, dia anggap laiknya suratan takdir.
Karena itulah Baby tak ingin mengenang saat-saat lalu yang begitu indah. Atau menyesali hal-hal yang tak menyenangkan. “Aku merasakan, semasa BK masih berkuasa, kami bagaikan di tengah pesta besar. Namun pesta itu, usai sudah,” katanya.
Berbekal semua prinsip itulah, Baby mencoba bangkit kembali. Dia mulai merintis kembali usaha butiknya dan membuka salon kecantikan. Sementara Dewi sudah berangkat ke Paris, Baby mengalihkan kegiatannya ke dunia bisnis. Pengalamannya melanglang buana ke Eropa Baby jadikan bekal untuk terjun dalam suatu perkumpulan Wanita Pengusaha Indonesia.
Untuk membuka butik, Baby memilih lokasi di Jakarta Fair, Monas. Nama butiknya, Baby Bazar. Dia juga membuka di Jalan Sabang, Jakarta Pusat.
Semua baju yang dipajang adalah kreasi Baby sendiri. Dari awalnya seorang penjahit, Baby kemduain punya 12 penjahit. Sukses itu kemudian disusul dengan keberhasilan salon kecantikannya di Hotel Borobudur.
Tak hanya butik dan salon, Baby juga merintis sekolah peragawati. Beberapa anak asuhnya yang kemudian sukses di antaranya adalah Poppy Dharsono, Titi Qadarsih, Paula Rumokoy, dan sederet nama lain.
Di samping merintis Wanita Pengusaha Profesional, Baby juga duduk sebagai ketuanya. Perkumpulan ini didirikan Maret 1975 dan merupakan salah satu dari 67 cabang di seluruh dunia.
Gagasan untuk mendirikan perkumpulan itu muncul ketika Baby sedang berbisnis di Singapura. Ketika itu, dia ditawari menjadi anggota.
Dia pikir, mengapa aku tak mendiri kan perkumpulan semacam itu di Jakarta? Baby kemudian mengajak Dewi dan Kemala Motik. Setelah sepakat, Baby berangkat ke Singapura untuk membereskan rencana peresmian.
Dengan bantuan rekan-rekan pengusaha di Singapura, Baby berhasil mendirikan International Federation of Business and Professional Women's. Bahkan sarasehannya dilangsungkan di Singapura – belakangan, kata federation diubah menjadi asosiasi karena di Indonesia sudah ada beberapa cabagnya.
Saat peringatan setahun berdirinya organisasi itu, Baby mengundang Ibu Tien Soeharto dalam kapasitasnya sebagai pelindung dan penasihat.
Tak hanya di organisasi bisnis, Baby juga menyibukkan dirinya dalam organisasi olahraga. Dia sempat menjadi Ketua Bidang Dana Lembaga Karate Do Indonesia, juga ketua pemilihan 110 pria berbusana terbaik di Jakarta.
Karena itulah Baby sering diundang berceramah di berbagai tempat. Di Universitas Indonesia, dia mengaku pernah tampil beberapa kali. Juga di Fakultas Ekonomo UKI dan Universitas Tarumanegara.
Sayang, kesuksesan Baby di dunia bisnis berbanding terbalik dengan kehidupan rumah tangganya. Setelah 16 tahun menjalani bahtera rumah tangga, perkawinannya akhirnya goyah.
Ketika itu Baby sudah dikaruniai tujuh anak. Segala cobaan yang datang silih berganti, tadinya bisa dia atasi. Tapi akhirnya dia tak tahan lagi menentang badai itu.
Tahun 1976 dia resmi bercerai dari sang suami. “Aku tak mau menyalahkan siapa siapa. Segalanya kuterima dengan lapang dada. Hingga akhirnya aku mulai memasuki dunia yang lain yaitu dunia paranormal,” ceritanya.
Dia meninggalkan semua dunia usaha. Dia menanggalkan segala dandanan serba cantik. Dia mencoba mencari siapa dirinya yang sejati. Menjadi seorang paranormal, artinya Baby melepaskan segala atribut kegemerlapan dunianya lalu membanting setir ke dunia yang benar-benar baru baginya itu.