TRIBUNTRENDS.COM - Hampir sebulan setelah dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, kondisi salah satu korban berinisial F masih memprihatinkan.
Dikutip dari Youtube KompasTV pada 9 September 2026, siswi berusia 16 tahun itu kini harus menjalani rawat jalan dan observasi secara berkala di rumah sakit.
Menurut keluarganya, F mengalami sejumlah keluhan setelah peristiwa keracunan, termasuk sering kejang dan gangguan ingatan.
Ibu F mengatakan, putrinya beberapa kali mengalami kejang setelah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Kejang tersebut bahkan disertai gejala lidah tertarik ke dalam.
Yang lebih memprihatinkan, keluarga menyebut F mengalami perubahan pada kemampuan mengingat.
Ia disebut tidak lagi mengenali adik, kakak, maupun sejumlah anggota keluarganya.
Padahal, sebelum kejadian tersebut, F dikenal sebagai siswi berprestasi. Sejak sekolah dasar, ia disebut kerap meraih juara di kelas dan mengikuti berbagai perlombaan.
Menurut sang ibu, putrinya juga memiliki cita-cita untuk melanjutkan pendidikan hingga ke Singapura.
Baca juga: Siswi Karo Sakit Hingga Hilang Ingatan Usai Santap MBG, Ada Dugaan Pelanggaran SOP Penyimpanan Ikan
Pada Senin (7/9/2026), F kembali menjalani pemeriksaan di Rumah Sakit Adam Malik Medan dengan didampingi orang tuanya.
Manajer Hukum dan Humas Rumah Sakit Adam Malik, Rosario Dorothy Simanjuntak, mengatakan F telah menjalani dua kali pemeriksaan di rumah sakit tersebut.
Kunjungan pertama dilakukan pada 31 Agustus 2026. Dalam pemeriksaan berikutnya, F ditangani sejumlah dokter spesialis, yakni spesialis gastroenterologi anak, neurologi anak, dan psikiatri.
Pada pemeriksaan terbaru, F menjalani pemeriksaan neurologi anak dan psikiatri. Ia juga menjalani pemeriksaan electroencephalography (EEG) untuk membantu mengevaluasi kondisi aktivitas listrik otak.
Rosario menyebut F saat ini masih berstatus pasien rawat jalan.
F merupakan salah satu korban dalam peristiwa dugaan keracunan MBG yang terjadi pada 13 Agustus 2026.
Dalam kejadian tersebut, sebanyak 389 orang dari lima sekolah di Kabupaten Karo dilaporkan menjadi korban setelah mengonsumsi menu MBG yang berasal dari dapur yang sama.
Hampir satu bulan setelah kejadian, sebagian besar korban telah mendapatkan penanganan. Namun, masih terdapat sejumlah siswa yang harus menjalani perawatan di rumah sakit.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Karo, Mardin Purba, mengatakan saat ini masih ada enam siswa yang menjalani perawatan, yakni empat orang di Rumah Sakit Evarina Berastagi dan dua lainnya di Rumah Sakit Amanda Berastagi.
Mardin mengatakan Pemerintah Kabupaten Karo sejak awal telah melakukan penanganan terhadap para korban, baik di rumah sakit yang berada di wilayah Karo maupun dengan merujuk korban ke rumah sakit di Medan apabila membutuhkan pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut.
Pemantauan juga tetap dilakukan terhadap korban yang masih mengalami keluhan.
Selain pemantauan medis, pemerintah daerah juga melakukan pendampingan psikologis terhadap korban yang dinilai membutuhkan bantuan.
Mardin mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, termasuk melibatkan tenaga psikologi untuk mendampingi salah satu korban yang mengalami masalah psikologis.
Terkait kondisi F yang dilaporkan mengalami gangguan ingatan, Mardin mengatakan pemerintah daerah masih menunggu penjelasan teknis dari tim medis yang menangani korban.
Menurutnya, pemerintah daerah juga telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara dan membuka kemungkinan membentuk tim ahli apabila diperlukan untuk menangani keluhan korban secara lebih menyeluruh.
Mardin mengatakan pihaknya belum dapat menjelaskan secara detail hasil pemeriksaan gastroenterologi, neurologi, maupun pemeriksaan lainnya yang telah dijalani F.
Ia menyerahkan penjelasan teknis mengenai kondisi korban kepada tim dokter yang menangani langsung di rumah sakit.
Pemerintah daerah, kata dia, akan mengupayakan penanganan lanjutan apabila korban membutuhkan pemeriksaan atau perawatan tambahan hingga kondisinya membaik.
Pemkab Karo juga terus berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) terkait penanganan para korban serta langkah penyelesaian kasus tersebut.
Mengenai biaya perawatan para korban yang masih menjalani pengobatan, Mardin mengatakan pemerintah daerah masih melakukan koordinasi dengan rumah sakit dan pihak terkait.
Sumber pembiayaan untuk penanganan medis korban selanjutnya akan dibahas lebih lanjut oleh pemerintah daerah bersama pihak terkait, termasuk kemungkinan bekerja sama dengan BGN.
Sementara itu, pemerintah daerah memastikan pendampingan terhadap para korban tetap dilakukan sembari menunggu perkembangan kondisi kesehatan masing-masing.
Kasus ini menjadi perhatian karena sejumlah korban masih membutuhkan penanganan medis meski hampir satu bulan telah berlalu sejak peristiwa dugaan keracunan MBG pada 13 Agustus 2026.
(TribunTrends.com)