TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) terus diperintensif sebagai langkah strategis dalam menanggulangi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) resmi memperpanjang masa operasi OMC hingga 10 September 2026 mendatang.
Guna mengoptimalkan penyemaian awan hujan, jumlah armada udara yang dikerahkan kini ditambah menjadi tiga unit pesawat.
Penambahan kekuatan armada ini dilakukan atas instruksi langsung Kepala BNPB untuk mempercepat penanganan titik panas (hotspot) yang masih membara di beberapa wilayah krusial Kalbar.
Kota Pontianak sebagai Ibu Kota Provinsi Kalimantan Barat menjadi pusat kendali dan posko utama koordinasi penanganan bencana karhutla tingkat provinsi.
Berdasarkan data geografis, jarak antara Kota Pontianak dengan daerah-daerah yang menjadi fokus perhatian penanganan karhutla adalah sebagai berikut:
Kabupaten Kubu Raya: Berbatasan langsung dengan Kota Pontianak (jarak ke pusat pemerintahan Kabupaten Kubu Raya sekitar 15 – 30 km, waktu tempuh 30–45 menit via jalur darat).
• Petugas Gabungan dan Warga Padamkan Api Karhutla di Singkawang yang Dipicu Pembakaran Sampah
Area gambut di Kubu Raya menjadi salah satu titik yang paling dekat dan mengancam wilayah ibu kota provinsi.
Kabupaten Ketapang: Terletak di bagian selatan Kalbar dengan jarak darat sekitar 430 – 450 km dari Kota Pontianak (waktu tempuh darat 10–12 jam, atau 45 menit melalui penerbangan udara dari Bandara Supadio ke Bandara Rahadi Oesman Ketapang).
Ketapang merupakan wilayah dengan sebaran karhutla terluas.
Kabupaten Melawi: Terletak di wilayah timur/perhuluan Kalbar dengan jarak sekitar 380 – 400 km dari Kota Pontianak (durasi perjalanan darat sekitar 8–9 jam melalui jalur Trans Kalimantan).
Pelaksanaan OMC di Kalbar sejatinya telah berlangsung secara maraton sejak akhir Agustus 2026. Awalnya, operasi ini hanya mengandalkan dua unit pesawat penyemai awan.
Namun, melihat eskalasi ancaman karhutla yang terus meluas, BNPB mengambil langkah cepat dengan menerjunkan satu unit pesawat tambahan.
"Dari tanggal 28 Agustus sampai tanggal 10 September nanti kita akan terus melakukan OMC. Awalnya hanya dua pesawat, kemudian atas perintah Kepala BNPB dilakukan penambahan satu unit pesawat lagi," ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Provinsi Kalbar, Ridwan, saat diwawancarai di ruang kerjanya, Rabu 9 September 2026.
Ridwan menjelaskan bahwa dengan tambahan armada tersebut, total ada tiga unit pesawat yang siaga penuh mendistribusikan bahan semai berupa garam khusus (NaCl) ke awan-awan potensial di langit Kalimantan Barat.
Meskipun dukungan armada udara telah diperkuat, Ridwan menegaskan bahwa keberhasilan Operasi Modifikasi Cuaca sangat bergantung pada kondisi meteorologis dan dinamika atmosfer.
Penyemaian bahan semai tidak dapat dilakukan secara asal tanpa perhitungan matang.
Setiap misi penerbangan wajib mematuhi rujukan data dan analisis dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Parameter utama yang diukur mencakup ketersediaan bibit awan cumulus, tingkat kelembapan udara, serta arah dan kecepatan angin.
"Kalau potensi awannya ada dan arah anginnya mendukung, itu kita lakukan. Tetapi kalau bibit awannya ada namun arah anginnya tidak mendukung, kita putuskan untuk tidak melakukan penyemaian," terang Ridwan.
Ia menambahkan, tim satgas udara bahkan siap melakukan penerbangan hingga malam hari jika pemantauan BMKG menunjukkan adanya potensi pertumbuhan awan hujan.
"Operasi bahkan dapat berlangsung hingga sekitar pukul 23.00 WIB apabila analisis menunjukkan ada peluang awan yang pas untuk disemai," tambahnya.
Tantangan terbesar yang dihadapi Satgas OMC Kalbar saat ini adalah keterbatasan jumlah bibit awan konvektif yang siap disemai. Cuaca kering yang melanda sejumlah wilayah membuat pertumbuhan awan hujan menjadi sangat terbatas.
Potensi pembentukan awan sempat tercatat cukup tinggi pada periode 4–7 September 2026.
Sementara berdasarkan rilis prakiraan cuaca BMKG, periode 7–10 September masih menyajikan celah dan peluang terbentuknya awan hujan yang terus dimanfaatkan secara maksimal oleh tim penyemai.
Dampak dari OMC mulai dirasakan di beberapa daerah perhuluan seperti Kabupaten Kapuas Hulu dan Kabupaten Sintang yang sudah diguyur hujan.
Namun, kondisi kontras masih dialami oleh daerah-daerah yang menjadi pusat titik panas.
"Yang masih kuat titik panas dan titik apinya adalah di daerah Ketapang dan Kubu Raya. Di sana masih sangat minim hujan," ungkap Ridwan.
Kabupaten Ketapang hingga saat ini masih memegang tingkat kerawanan karhutla tertinggi di Kalimantan Barat.
Luasnya lahan gambut kering di wilayah tersebut membuat api cepat merambat dan sulit dipadamkan hanya melalui jalur darat.
Selain Ketapang dan Kubu Raya, Kabupaten Melawi kini mulai masuk dalam radar prioritas penanganan.
Terjadi peningkatan signifikan sebaran titik panas serta munculnya beberapa titik kebakaran lahan baru di wilayah Melawi.
"Yang paling tinggi tetap masih Ketapang, tetapi menyusul Melawi. Di sana juga sudah ada kebakaran lahan," jelasnya.
Pemerintah Provinsi Kalbar bersama BNPB, TNI, Polri, Manggala Agni, dan relawan terus melakukan penanganan secara terpadu.
Selain OMC, operasi pemadaman darat, patroli berkala, serta pengerahan helikopter water bombing terus dioptimalkan di titik-titik rawan.
Di akhir keterangannya, Ridwan mengimbau seluruh lapisan masyarakat dan pihak swasta untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar.
"Bukan berarti kami melepas tanggung jawab, tetapi dalam menghadapi bencana, peran masyarakat, pemerintah, dan swasta sangat penting untuk saling bahu-membahu," tutupnya.
Berikut adalah profil singkat Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Barat:
Nama Lengkap: Ridwan
Jabatan Saat Ini: Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Barat
Instansi: BPBD Provinsi Kalimantan Barat, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat
Fokus Tugas Utama: Memimpin komando kesiapsiagaan, koordinasi penanggulangan bencana daerah, mitigasi bencana karhutla dan banjir, serta memimpin Satgas Udara dan Darat Penanganan Karhutla di wilayah Kalimantan Barat. (*)