POSBELITUNG.CO - Nama M Bagus Khoirunnas menjadi salah satu yang tengah dicari dalam operasi SAR di perairan Selat Sunda.
Rombongan diketahui menaiki sebuah speedboat yang berangkat untuk melakukan peliputan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Kontak dengan kapal tersebut terputus pada Senin (7/9/2026) sore. Sejak saat itu, tim SAR gabungan dikerahkan untuk menyisir perairan dan mencari keberadaan seluruh penumpang.
Baca juga: Dengar Langsung Pengguna Layanan, KPPN Tanjungpandan Evaluasi Kualitas Pelayanan
Di balik kabar tersebut, Bagus dikenal keluarga sebagai sosok yang memiliki dedikasi tinggi terhadap pekerjaannya.
Ayah Bagus, Mansyur, menggambarkan putra semata wayangnya sebagai pribadi yang tidak mudah menyerah ketika menjalankan tugas jurnalistik.
"Dia ini sosoknya emang pekerja keras. Dari dulu, mau kondisi apapun, dia ke lokasi buat foto," ungkapnya.
Profesi sebagai fotografer membuat Bagus harus rutin mendatangi lokasi peristiwa untuk mendapatkan foto yang layak dipublikasikan.
"Apalagi dia kan wartawan foto yang dibayar kalo fotonya tayang. Kalo gak tayang kan ngga dibayar," sambungnya.
Bagi Mansyur, kerja keras bukan satu-satunya hal yang melekat pada diri Bagus. Sang putra juga tercatat memiliki sejumlah prestasi di bidang fotografi.
Berbagai penghargaan serta kemenangan dalam perlombaan foto pernah diraih Bagus selama menjalani karier jurnalistik.
Salah satu karya terbarunya mengenai Gunung Anak Krakatau bahkan sempat diunggah melalui akun Instagram Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto.
Di tengah proses pencarian yang masih berlangsung, Mansyur berharap putranya dapat segera ditemukan dalam kondisi selamat.
"Kita berdoa aja, semoga anak saya selamat. Kondisinya sehat, semoga tim SAR bisa menemukan anak saya dengan selamat," ungkapnya.
Kabar Hilangnya Bagus Diketahui dari Grup Basarnas
Sebagai seorang wartawan senior, Mansyur mengaku sangat terkejut ketika mengetahui Bagus termasuk dalam rombongan yang hilang kontak.
Ia bahkan tidak mengetahui bahwa anaknya berencana melakukan peliputan ke kawasan Gunung Anak Krakatau.
Informasi mengenai kejadian tersebut justru diketahui Mansyur melalui grup pesan Basarnas Banten.
"Saya gak tahu info kalo dia (Bagus) mau liputan ke sana (Gunung Anak Krakatau). Saya tahunya tadi siang di group Basarnas rame," kata Mansyur di Kota Serang, Selasa (8/9/2026).
Kabar tersebut tentu membuat Mansyur diliputi kekhawatiran. Apalagi, informasi yang diterimanya menyebut terdapat sejumlah jurnalis yang kehilangan kontak ketika berada di sekitar Gunung Anak Krakatau.
"Ke saya mah enggak ngasih tahu. Mungkin cuma istrinya saja yang tahu," kata Mansyur.
Pencarian Lima Jurnalis Dilanjutkan
Tim SAR gabungan kembali menjadwalkan pencarian terhadap lima jurnalis pada Rabu (9/9/2026).
Sehari sebelumnya, penyisiran dilakukan sepanjang Selasa di sejumlah titik yang diperkirakan menjadi lokasi terakhir rombongan diketahui. Operasi kemudian dihentikan sementara pada malam hari.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Banten, Al Amrad, mengatakan wilayah pencarian akan diperluas.
"Rencananya besok tim akan memperluas area pencarian dari mulai Carita sampai ke Gunung Anak Krakatau," ujar Kepala Basarnas Banten Al Amrad kepada wartawan, Selasa (8/9/2026).
Pada operasi hari pertama, Basarnas Banten mengerahkan dua tim. Sebanyak enam personel menggunakan Rescue Rigid Inflatable Boat (RIB) dari Pandeglang.
Tim lainnya berjumlah sekitar 20 personel dan menggunakan KN SAR 247 Tetuka.
Penyisiran dilakukan dari titik terakhir kapal diketahui hingga kawasan Pulau Rakata dan Pulau Panjang di sekitar Gunung Anak Krakatau.
Namun, sampai operasi dihentikan sementara pada Selasa malam, tim belum menemukan rombongan maupun kapal yang mereka gunakan.
"Pada Pukul 18.15 WIB tim kami sudah balik dari lokasi, dan akan dilanjutkan besok pagi," kata Amrad.
Kapal Arupadhatu 1 Berangkat dari Carita
Lima jurnalis tersebut sebelumnya menaiki kapal cepat Arupadhatu 1 yang bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang.
Kapal meninggalkan dermaga pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB dengan tujuan kawasan Gunung Anak Krakatau untuk melakukan peliputan aktivitas erupsi.
Data Basarnas Banten mencatat terdapat tujuh orang di dalam kapal, terdiri atas lima jurnalis, seorang nahkoda, dan satu ABK.
Selain M. Bagus Khoirunnas, fotografer Antara Banten, empat jurnalis lainnya adalah Ari Basuki dari Merdeka, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu, dan Donal yang merupakan jurnalis freelance.
Basarnas Banten menerima laporan mengenai kapal yang hilang kontak pada Selasa (8/9/2026) sekitar pukul 13.55 WIB dari Bayu Antara Banten.
Sebelumnya, komunikasi terakhir dengan rombongan tercatat pada Senin (7/9/2026) pukul 14.42 WIB.
Salah seorang jurnalis sempat mengirimkan lokasi keberadaan mereka kepada Abay, jurnalis yang berada di Lampung.
Namun, komunikasi kemudian terputus. Pada pukul 15.04 WIB, kapal sudah tidak dapat kembali dihubungi.
Adapun koordinat komunikasi terakhir tercatat di 6°14'40.52"S 105°40'49.48"E, atau sekitar 9,98 mil laut dari daratan.
(TribunJakarta.com/TribunBanten/Pos Belitung)