Liputan6.com, Jakarta - Meta Indonesia mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia memanfaatkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk memperluas pemasaran hingga pasar ekspor melalui program "Capai Pasar Global dengan AI".
Head of Public Policy Meta Indonesia, Berni Mustafa, mengatakan program tersebut membekali 200 pelaku UMKM di Batam, Bandung, dan Jakarta dengan keterampilan AI dan pemasaran digital melalui lokakarya, pendampingan, serta pembelajaran daring.
“Kami tidak ragu dengan kualitas produk UKM Indonesia, namun yang menjadi kendala adalah exposure-nya masih terbatas, terutama di luar negeri,” kata Berni dalam pembukaan pelatihan Capai Pasar Global dengan AI bersama Meta di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Berni menjelaskan bahwa Meta menyediakan sejumlah solusi AI untuk membantu UMKM meningkatkan discoverability, membuat konten, menyusun copywriting, menerjemahkan caption, hingga merespons calon pembeli selama 24 jam melalui Meta Business Agent.
Program tersebut juga diarahkan untuk memperkuat kesiapan ekspor UMKM sejalan dengan agenda Kementerian Perdagangan dalam memperluas dan mendiversifikasi pasar ekspor nasional.
Berni mencontohkan peserta dari Bandung, Zaya, yang memperoleh pesanan abaya dan pakaian muslim dari Malaysia senilai sekitar Rp 1,4 juta setelah mengalokasikan anggaran iklan Rp 150.000.
“Untuk setiap rupiah yang dibelanjakan untuk iklan, pendapatannya mencapai tujuh kali lipat,” ujar Berni.
Contoh lain datang dari Abu Jamu di Batam yang mengeluarkan Rp 135.000 untuk iklan selama tujuh hari dan memperoleh pesanan 60 bungkus jahe instan dari Malaysia senilai Rp 3 juta. Berni mengatakan penjualan Abu Jamu meningkat 50% dibandingkan kondisi biasanya.

Sementara itu, Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan bahwa pemerintah membutuhkan kolaborasi dengan sektor swasta untuk memperluas akses pasar UMKM, termasuk melalui pemanfaatan teknologi digital.
“Sekarang sudah era digital. Meta Indonesia akan mengajari bagaimana menggunakan teknologi digital untuk bisa menembus pasar utama, terutama pasar asing,” kata Budi.
Budi menambahkan, Kemendag juga menjalankan program "UMKM Bisa Ekspor" dengan memanfaatkan 46 perwakilan perdagangan Indonesia di 33 negara untuk membantu UMKM menemukan calon pembeli di luar negeri.
Menurut Budi, transaksi melalui program tersebut mencapai US$ 134,8 juta sepanjang tahun lalu dan telah mencapai US$ 333 juta pada periode Januari–Juli 2026.

Budi mengungkapkan sekitar 70% peserta UMKM Bisa Ekspor belum pernah melakukan ekspor. Oleh karena itu, pemerintah mendorong pelaku usaha untuk meningkatkan kualitas, menjaga kesinambungan produksi, dan membangun kolaborasi antarpelaku UMKM.
“Dan semuanya yang ikut UMKM Bisa Ekspor ini rata-rata 70% belum pernah ekspor. Jadi Bapak dan Ibu tidak usah khawatir. Kalau belum pernah ekspor itu bisa saja ekspor, tetapi syarat utamanya kualitasnya bagus dan produknya berkelanjutan (continuous),” ungkapnya.
Meta dan Kemendag juga akan membawa rangkaian program tersebut ke Trade Expo Indonesia, serta menyerahkan katalog 150 UMKM siap ekspor kepada Menteri Perdagangan untuk mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli internasional.