ISPA Melonjak Dua Kali Lipat Akibat Erupsi, Gubernur Banten Perpanjang PJJ hingga 11 September
Feryanto Hadi September 09, 2026 04:35 PM

 

Laporan Reporter Tribuntangerang.com, Nurmahadi

WARTAKOTALIVE.COM, SERANG - Gubernur Banten Andra Soni memperpanjang kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi siswa SMA, SMK, dan Sekolah Khusus (SKh) di Provinsi Banten hingga Jumat (11/9/2026).

Kebijakan tersebut diambil sebagai langkah antisipasi terhadap dampak abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang masih berpotensi memengaruhi kualitas udara dan kesehatan masyarakat.

Andra mengatakan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau memang mengalami penurunan. Namun, pemerintah tetap mempertimbangkan potensi bahaya abu vulkanik sebelum memutuskan kembali menerapkan pembelajaran tatap muka.

"Erupsi hari ini memang sudah menurun. Namun, berdasarkan rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), masyarakat dilarang mendekati lokasi dalam radius 3 kilometer dan diwajibkan menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan," ujar Andra, Rabu (9/9/2026).

Salah satu pertimbangan utama dalam memperpanjang PJJ adalah meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang diduga berkaitan dengan paparan abu vulkanik.

Andra menyebut jumlah kasus ISPA yang biasanya berada di kisaran 2.000 kasus kini meningkat menjadi sekitar 4.500 kasus berdasarkan laporan yang diterima pemerintah di lapangan.

Baca juga: Hilangkan Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau, Damkar Semprotkan Air ke Jalan Arteri di Jakarta Timur

"Kami terus melakukan pemantauan. Sampai saat ini, gunung masih mengeluarkan abu hitam yang pergerakannya bergeser ke arah samudra. Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada," katanya.

Menurut Andra, kondisi tersebut menjadi alasan pemerintah belum mengembalikan seluruh kegiatan belajar mengajar ke sekolah secara tatap muka. Kebijakan PJJ diharapkan dapat mengurangi aktivitas siswa di luar rumah sekaligus meminimalkan risiko paparan abu vulkanik.

Pemprov Banten juga terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan kondisi kesehatan masyarakat.

Gunung Anak Krakatau sendiri masih berstatus Siaga atau Level III sejak 2 Juli 2026. Pemerintah mengimbau masyarakat mengikuti rekomendasi dan informasi resmi dari pihak berwenang.

Erupsi Masih Berlangsung

Sementara itu, Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau Pasauran, M. Nugraha Kartadinata, mengatakan aktivitas erupsi masih berlangsung dengan tipe strombolian.

Menurutnya, aktivitas tersebut tidak hanya menghasilkan abu vulkanik, tetapi juga berpotensi melontarkan material batuan.

Material hasil erupsi bahkan dapat terlontar hingga lebih dari dua kilometer dari pusat aktivitas gunung.

"Selain abu vulkanik, erupsi ini juga melontarkan batuan. Karena itu, kami merekomendasikan agar tidak ada aktivitas warga dalam radius 3 kilometer. Kepada wisatawan atau siapa pun, saya imbau untuk tetap menjauh dari radius bahaya," jelas Nugraha.

Dengan kondisi tersebut, masyarakat di wilayah terdampak diminta tetap waspada terhadap perubahan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Penggunaan masker saat berada di luar ruangan juga dianjurkan untuk mengurangi risiko paparan abu vulkanik.

Pemprov Banten akan mengevaluasi perkembangan situasi sebelum menentukan kebijakan pembelajaran selanjutnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.