Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Jaenal Abidin
TRIBUNPRIANGAN.COM, KABUPATEN TASIKMALAYA - Kondisi sarana pendidikan menimpa SMA Al-Kautsar mengalami kekurangan ruang belajar yang berlokasi di Kampung Tataru, Desa Tenjonagara, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.
Pantauan di lapangan, untuk ruang belajar kelas 3 diharuskan lesehan karena tidak ada ruangan lagi dan kekurangan meja dan kursi belajar.
Sedangkan untuk kelas 1 dan kelas 2 sudah memiliki ruangan. Namun, jumlah siswa pun tidak sebanyak seperti sekolah lain.
Total ada 68 siswa dari kelas 1 sampai kelas 3 yang dimiliki SMA Al-Kautsar Cigalontang. Namun, jumlah ini penggabungan dari siswa lain yang menumpang di bangunan milik MTs dengan beda lokasi.
Nampak, kondisi bangunan kelas 3 ini berupa saung berbahan bambu dan atap asbes dengan ukuran tidak besar dengan diisi 15 orang tanpa meja dan kursi.
Baca juga: Dinsos PPKBP3A Kabupaten Tasikmalaya Apresiasi Peluncuran Buku Metamorfosa Karya Penyintas Kekerasan
Siswa kelas 3 pun harus belajar secara lesehan seadanya. Meskipun begitu, mereka tetap fokus belajar dan mendengarkan pemaparan dari guru.
Di luar halaman sekolah, terdapat fasilitas lapangan voli, MCK, hingga kandang kambing, tanaman cabai dan satu bangunan yang akan dijadikan ruangan untuk jamur tiram yang menjadi program ketahanan pangan pihak sekolah.
Namun, kondisi ini tidak menyurutkan para siswa SMA Al-Kautsar untuk tetap fokus belajar mengajar setiap harinya.
"Saat ini jumlah siswa disini mayoritas warga sekitar dengan total ada 68 orang. Namun, jumlah ini terbagi dua, untuk 35 orang di bangunan induk dan sisanya menumpang di bangunan milik MTs yang lokasinya masih di wilayah Desa Tenjonagara," ungkap salah satu guru Informatika Rosmiati, ditemui TribunPriangan.com, Rabu (9/9/2026).
Di satu sisi, penyerapan jumlah siswa tahun ini cenderung menurun ketimbang tahun sebelumnya. Karena lebih memilih sekolah lain.
"Penyerapan tahun ini sangat minim, untuk kelas 1 ada 8 orang, kelas 2 ada 10 orang, dan kelas 3 ada 15 orang, dengan jumlah guru ada 16 orang," kata Rosmiati.
Ditanyai soal ruang belajar mengajar siswa, ia menjelaskan, secara keseluruhan ada tiga ruangan untuk tiga kelas, dan satu bangunan bagi pengajar.
Untuk bantuan, ia menuturkan sudah pernah mendapatkan yakni pembangunan dua ruang kelas tahun 2024.
"Untuk asal siswa juga ada dari Desa Mandalagiri Kecamatan Leuwisari, Sirnaputra, Sukarame Kecamatan Sukarame dan Sukamenak. Namun, saat ini mayoritas lebih banyak warga sekitar," tuturnya.(*)