TRIBUNGORONTALO.COM – Sore perlahan turun di pesisir Desa Leato, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo.
Cahaya matahari mulai condong ke ufuk barat. Angin laut terasa cukup bersahabat, sementara aktivitas nelayan masih terlihat di sekitar pesisir.
Bagi sebagian warga, sore menjadi waktu untuk beristirahat setelah menjalani aktivitas seharian.
Namun, bagi nelayan di Leato, kemunculan ikan Nike justru membuat waktu sore menjadi bagian dari rutinitas untuk bersiap mencari rezeki.
Ikan berukuran kecil yang selama ini dikenal masyarakat Gorontalo dengan sebutan Nike atau Duwo itu kembali menjadi perhatian nelayan.
Salah satunya Usman Labaco (52), nelayan asal Desa Leato. Usman mengatakan, kemunculan ikan Nike kali ini baru berlangsung sekitar dua malam.
Menurutnya, jumlah ikan yang diperoleh nelayan tidak selalu sama setiap kali melaut.
"Pokoknya setiap satu bulan dia sudah ada, ini baru dua malam. Macam kalau dia mujur 50 sahara, ember cat yang besar," kata Usman saat diwawancarai TribunGorontalo.com, Rabu.
Sahara merupakan wadah yang digunakan nelayan untuk menampung hasil tangkapan ikan Nike.
Bagi nelayan, banyaknya hasil tangkapan tentu menjadi berkah tersendiri.
Pasalnya, ikan Nike memiliki nilai jual yang cukup tinggi ketika sedang banyak dicari pembeli.
Usman mengatakan, harga satu sahara ikan Nike bisa mencapai sekitar Rp1 juta.
Namun, harga tersebut dapat berubah mengikuti jumlah stok yang tersedia di pasaran.
"Satu sahara harganya Rp1 juta, jadi kalau banyak stok Rp600 ribu. Paling murah Rp200 ribu," katanya.
Harga tersebut membuat kemunculan Nike tidak sekadar menjadi fenomena musiman bagi masyarakat Gorontalo.
Bagi nelayan, ikan kecil itu menjadi salah satu sumber pendapatan yang dinanti setiap bulan.
Namun, untuk mendapatkannya, nelayan tidak bisa menentukan dengan pasti kapan harus turun ke laut. Usman mengatakan, nelayan biasanya harus terus memantau kondisi perairan.
"Kita selalu mengecek, satu hari tidak menentu. Kadang tengah malam, sore," katanya.
Rutinitas tersebut membuat aktivitas menangkap Nike berbeda dengan menangkap ikan pada umumnya.
Nelayan harus mengikuti pola kemunculan gerombolan ikan tersebut.
Penelitian Universitas Negeri Gorontalo menyebut Nike sebagai schooling larva ikan, yakni kumpulan larva ikan yang muncul dalam jumlah besar di perairan Teluk Gorontalo.
Kemunculannya juga berlangsung dalam waktu yang relatif singkat, hanya beberapa hari dalam satu bulan.
Fenomena inilah yang membuat ikan Nike menjadi salah satu hasil perikanan yang khas dari Gorontalo.
Di tengah masyarakat, Nike sering disebut sebagai ikan endemik Gorontalo. Sejumlah penelitian mengaitkan Nike dengan kelompok ikan Gobiidae, dan salah satu nama ilmiah yang banyak digunakan dalam penelitian sebelumnya adalah Awaous melanocephalus.
Spesies tersebut diketahui merupakan ikan asli atau native species di sejumlah wilayah, termasuk Sulawesi. Di Gorontalo, masyarakat mengenalnya dengan sebutan Nike.
Kajian lain juga menyebut identitas Nike tidak sesederhana satu jenis ikan dewasa. Nike yang ditangkap nelayan merupakan kumpulan ikan pada fase larva atau juvenil yang membentuk gerombolan besar.
Karena itu, para peneliti masih terus mengkaji komposisi dan identitas spesies yang membentuk gerombolan Nike di perairan Gorontalo.
Fenomena kemunculannya juga berkaitan dengan siklus bulanan.
Penelitian mengenai pola kemunculan Nike di Teluk Gorontalo menunjukkan adanya pola waktu tertentu dalam kemunculan gerombolan ikan tersebut.
Kondisi itu pula yang secara turun-temurun diamati oleh nelayan.
Mereka tidak hanya mengandalkan peralatan tangkap, tetapi juga pengalaman membaca kondisi laut.
Usman mengatakan, jumlah orang dalam satu perahu juga tidak selalu sama.
"Kadang tergantung, delapan orang, tujuh orang. Paling di bawah lima orang," ujarnya.
Hasil tangkapan kemudian dibagi bersama anak buah kapal.
Jika dalam satu kali melaut seorang nelayan mendapatkan 10 sahara dengan harga sekitar Rp600 ribu per sahara, nilai kotor hasil tangkapannya dapat mencapai Rp6 juta.
"Umpama ada Rp600 ribu kali 10 sahara itu dapat Rp6 juta, ya bagi dengan anak buah," katanya.
Perhitungan tersebut tentu belum memperhitungkan biaya operasional melaut maupun pembagian hasil antara pemilik perahu dan anak buah kapal.
Meski begitu, kemunculan Nike tetap menjadi salah satu momen yang dinantikan nelayan.
Berdasarkan pantauan TribunGorontalo.com, tampak di sepanjang Jalan Leato banyak lapak Nike yang menjual ikan tersebut dengan harga bervariasi, mulai dari Rp15 ribu sampai Rp20 ribu per kaleng susu, sedangkan untuk per kilogramnya dibanderol seharga Rp50 ribu.
Di tengah sore yang mulai beranjak menuju petang di Leato, aktivitas pesisir perlahan berubah.
Perahu-perahu nelayan menjadi bagian dari pemandangan di tepi laut. Suara aktivitas warga bercampur dengan embusan angin dari arah perairan.
Tidak ada kepastian berapa banyak Nike yang akan ditemukan malam nanti.
Nelayan hanya bisa memantau perairan dan membaca tanda-tanda alam berdasarkan pengalaman yang mereka miliki.
Sebab, Nike memang bukan ikan yang bisa ditangkap sepanjang tahun dengan jumlah yang sama.
Kemunculannya yang singkat justru membuat ikan kecil ini memiliki nilai ekonomi dan budaya yang besar bagi masyarakat Gorontalo.
Selain dijual dalam kondisi segar, Nike juga dikenal sebagai bahan berbagai makanan khas Gorontalo.
Masyarakat mengolahnya menjadi perkedel, bakwan, tumis, hingga pepes.
Penelitian tentang pemanfaatan Nike juga menunjukkan ikan tersebut memiliki nilai tambah ketika diolah menjadi produk pangan. (*)