Remaja Tewas di Bundaran Berkoh, Wanto: Patroli Polisi Harus Ditambah
Daniel Ari Purnomo September 09, 2026 05:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Seorang pelajar Sekolah Menengah Pertama berinisial SH (14) mengembuskan napas terakhir usai menjadi korban penganiayaan dalam kericuhan balap liar di kawasan Bundaran Berkoh, Purwokerto, Sabtu (5/9/2026) dini hari.

Kepastian mengenai keterlibatan korban dalam ajang balapan liar tersebut sejauh ini masih belum dapat dipastikan secara pasti.

Kendati demikian, sepeda motor yang dikendarai oleh remaja tersebut diketahui terpasang knalpot brong.

Baca juga: Polisi Bongkar Makam Pelajar SMPN 1 Kembaran Banyumas, Selidiki Penyebab Kematian

Di lain sisi, jajaran Polresta Banyumas telah menetapkan seorang pria berinisial RM (25) sebagai tersangka yang disinyalir memukul area kepala korban memanfaatkan sebatang kayu.

Tersangka diduga nekat melayangkan pukulan terhadap korban lantaran bermaksud membubarkan kerumunan aksi balap liar tersebut.

Berdasarkan penelusuran Tribunbanyumas.com, kawasan Bundaran Berkoh Purwokerto memang kerap menjadi lintasan favorit konvoi rombongan sepeda motor berknalpot brong sebelum melangsungkan aksi balap liar di Jalan Jenderal Soedirman.

Raungan suara knalpot brong tersebut selama ini terbukti amat mengusik ketenangan warga yang bermukim di sekitar perlintasan Bundaran Berkoh saat beristirahat.

Korban Jiwa Kericuhan

Seorang warga RT 03 RW 07 Kelurahan Berkoh, Kusnadi (47), menyatakan keprihatinan mendalam atas tragedi meninggalnya remaja belasan tahun dalam arena kericuhan balap liar di Bundaran Berkoh.

Ia menyampaikan bahwasanya area Bundaran Berkoh sewaktu malam hari memang sangat bising hingga merenggut kenyamanan warga saat tidur.

Biasanya, lokasi Bundaran Berkoh sekadar dijadikan titik konvoi rombongan sepeda motor berknalpot nyaring sebelum mereka memacu kecepatan di Jalan Jenderal Soedirman atau Jalan Soepardjo Roestam.

"Bising sekali, bikin gak bisa tidur. Mulai malam Kamis, malam Jumat, puncaknya malam Sabtu dan malam Minggu. Mulai jam 24.00 ke atas, shubuh baru pada bubar," katanya kepada Tribunbanyumas.com, Rabu (9/9/2026).

Kusnadi menuturkan bahwasanya anak istri beserta ibundanya sampai kesulitan terlelap lantaran rombongan konvoi knalpot brong tersebut bisa mencapai 20 hingga 50 unit sepeda motor.

Meski aparat kepolisian terhitung rutin melangsungkan patroli dan pembubaran, para pelaku balap liar kerap bermain kucing-kucingan dengan petugas.

Warga di lingkungan tempat tinggalnya sempat menggalang pembahasan mengenai balap liar tersebut, namun masyarakat enggan gegabah mengambil tindakan sepihak lantaran khawatir memicu timbulnya korban.

Lantaran pertimbangan tersebut, warga memilih menahan diri sembari melayangkan aduan menuju pihak kepolisian.

"Saya juga heran, mereka itu malah kucing-kucingan dengan polisi. Polisi sudah pergi, balik lagi, lewat lagi," ungkapnya.

Kusnadi menaruh harapan agar pihak pemerintah dapat mengambil langkah tegas guna mencegah maraknya balap liar serta konvoi knalpot brong yang mayoritas dilakoni kalangan remaja.

Namun demikian, ia menekankan bahwasanya peranan orang tua dalam memastikan anak berada di rumah sewaktu malam hari memegang peranan amat krusial.

Langkah pembinaan tersebut penting dijalankan agar insiden memilukan serupa tidak kembali berulang di kemudian hari.

"Peran orangtua itu wajib, memantau anak-anaknya, jam sekian harus pulang. Karena di luar sekolah, anak-anak jadi tanggung jawab penuh orangtua," ujarnya.

Peran Penting Orangtua

Senada dengan hal tersebut, pengurus RT 03 RW 07 Kelurahan Berkoh, Wanto (49), mengutarakan bahwasanya warga di lingkungannya turut merasa terganggu oleh dentuman bising knalpot brong yang melintas saat larut malam.

Gangguan bising tersebut umumnya semakin marak menjelang akhir pekan dan berlangsung di atas pukul 24.00 WIB.

Kendati demikian, dirinya secara tegas melarang warga untuk melakukan aksi main hakim sendiri, sehingga penanganan sepenuhnya diserahkan lewat laporan resmi kepolisian.

"Warga terus terang sangat terganggu karena jamnya orang istirahat. Mereka itu baru berhenti saat shubuh," ungkapnya.

Wanto berharap ada formulasi solusi konkret dari jajaran pemerintah maupun kepolisian guna menyudahi konvoi kendaraan dan aksi balap liar yang kerap berulang di Bundaran Berkoh.

Ia mengakui bahwasanya selama ini pihak kepolisian beserta Bhabinkamtibmas sudah berkali-kali memberikan imbauan agar para orang tua memantau anak agar tak berkeliaran di atas pukul 22.00 WIB.

Akan tetapi, imbauan edukatif tersebut wajib mendapatkan sokongan penuh dari para orang tua lewat pengawasan ketat terhadap aktivitas anak-anak mereka.

"Kami juga berharap, sebisa mungkin patroli diperbanyak jamnya," katanya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.