Terputus Kontak di Selat Sunda, 5 Jurnalis Hilang saat Liput Anak Krakatau
Laksmi Anindita September 09, 2026 05:44 PM

TRIBUNWOW.COM - Hilangnya lima jurnalis yang tengah meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Banten, mendapat perhatian dari sejumlah media asing.

Kelima jurnalis tersebut berada di dalam speedboat yang berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, pada Senin (7/9/2026). Kapal bertolak sekitar pukul 14.00 WIB menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk melakukan peliputan aktivitas vulkanik.

Berdasarkan informasi terbaru, terdapat delapan orang di dalam speedboat tersebut. Lima di antaranya merupakan jurnalis, sementara tiga lainnya adalah kru kapal.

Lima jurnalis yang diketahui berada dalam rombongan yakni M. Bagus Khoirunnas dari ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhistira atau Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu Agency, serta Donal yang merupakan jurnalis lepas. Identitas tiga kru kapal masih dalam proses pendataan.

Sebelum hilang kontak, salah satu jurnalis sempat mengirimkan lokasi terakhir kepada rekannya di Lampung sekitar pukul 14.42 WIB. Namun, komunikasi dengan rombongan kemudian terputus pada pukul 15.04 WIB.

Sejak saat itu, keberadaan speedboat beserta seluruh penumpangnya belum diketahui.

Tim SAR Gabungan Lakukan Pencarian

Tim SAR gabungan langsung melakukan pencarian di perairan Selat Sunda. Penyisiran dilakukan berdasarkan titik komunikasi terakhir dan rute yang diduga dilalui speedboat dari Carita menuju kawasan Anak Krakatau.

Operasi pencarian melibatkan Basarnas, TNI, Polri, serta sejumlah unsur terkait. Area pencarian kemudian diperluas dengan mempertimbangkan kondisi cuaca, arus laut, dan kemungkinan pergerakan kapal.

Hingga Rabu (9/9/2026), tim masih berupaya menemukan speedboat dan delapan orang yang berada di dalamnya. Polri juga menyatakan akan memberikan dukungan penuh terhadap operasi pencarian.

Pencarian di Selat Sunda menghadapi sejumlah kendala, termasuk gelombang tinggi dan jarak pandang yang terbatas. Kondisi tersebut membuat proses penyisiran harus dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan personel.

Selain kondisi laut, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau juga menjadi perhatian dalam operasi pencarian.

Erupsi Anak Krakatau Ganggu Penerbangan

Hilangnya rombongan jurnalis terjadi saat Gunung Anak Krakatau masih mengalami erupsi.

Aktivitas vulkanik tersebut turut berdampak pada penerbangan di sejumlah wilayah Indonesia. Abu vulkanik menyebabkan beberapa bandara mengalami gangguan operasional.

Reuters melaporkan sejumlah bandara sempat ditutup akibat sebaran abu vulkanik. Pada Selasa (8/9/2026), seluruh bandara yang sebelumnya terdampak telah kembali beroperasi setelah kondisi sebaran abu membaik.

Abu vulkanik juga berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat. Warga di wilayah terdampak diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker untuk melindungi saluran pernapasan.

Pakar Vulkanologi Institut Teknologi Bandung (ITB), Mirzam Abdurrachman, menjelaskan abu vulkanik memiliki karakteristik yang berbeda dari debu biasa karena mengandung material dengan komposisi tertentu.

Karena itu, masyarakat disarankan menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar rumah selama terjadi hujan abu.

Jika tidak memiliki masker, masyarakat dapat menggunakan kain atau penutup wajah yang dibasahi hingga lembap sebagai perlindungan sementara. (*)

Editor Video: VP Magang/Dian Rahmawati

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.