TRIBUNNEWS.COM - Sejumlah kasus dugaan keracunan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) masih terjadi di sejumlah daerah di Indonesia.
Terbaru, kasus tersebut terjadi di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Dugaan keracunan bahkan dilaporkan terjadi secara bersamaan di dua sekolah, yakni SMPN 1 Gembong dan MTsN 3 Pati.
Ratusan siswa dan sejumlah guru dilaporkan mengalami gejala keracunan dengan rincian sebagai berikut:
Para korban sudah dilarikan ke Unit Gawat Darurat (UGD) Puskesmas Gembong dan RSUD RAA Soewondo Pati guna mendapatkan perawatan medis.
Baca juga: Korban Keracunan MBG di Sleman Melonjak Jadi 101 Siswa, Dua Dirawat di Rumah Sakit
Kepala MTsN 3 Pati, Zaenal Arifin, mengungkapkan adanya keterlambatan dalam distribusi makanan bergizi gratis (MBG) kepada para siswa.
Menurutnya, makanan yang semestinya dibagikan sekitar pukul 11.20 WIB, tapi pada hari kejadian baru sampai di sekolah setelah pukul 12.00. WIB.
Meski demikian, saat diterima, makanan tersebut masih terlihat normal dan tidak menimbulkan kecurigaan dari para siswa.
Para siswa bahkan langsung menyantap makanan tersebut karena dari segi tampilan maupun rasa tidak menunjukkan adanya masalah.
"Anak-anak malah merasakannya enak," jelas Zaenal, dikutip dari TribunJateng.com.
Masalah baru terlihat setelah sejumlah siswa mulai mengalami gangguan kesehatan. Keluhan tersebut muncul pada malam hari dan berlanjut hingga hari berikutnya.
Ratusan siswa dilaporkan mengalami berbagai gejala, mulai dari mulas, sakit perut hingga diare.
Kondisi serupa juga terjadi di SMPN 1 Gembong.
Kepala sekolah, Istiana, mengatakan makanan MBG yang biasanya diterima sebelum waktu istirahat pertama justru datang lebih siang.
"Biasanya makanan datang sebelum jam istirahat pertama pukul 09.30 WIB. Namun, saat kejadian, makanan baru tiba sekitar pukul 11.30 WIB," ujarnya.
Meski datang terlambat, pihak sekolah tetap membagikan makanan tersebut kepada siswa. Keputusan itu diambil karena pada wadah makanan tercantum ketentuan bahwa MBG harus dikonsumsi sebelum pukul 12.00 WIB.
"Kami pun langsung membagikan makanan tersebut karena label pada tray (ompreng makan) menginstruksikan MBG harus dimakan sebelum pukul 12.00," kata dia.
Tidak ada kecurigaan dari para siswa ketika makanan dibagikan.
Mereka tetap menyantap hidangan tersebut seperti biasa.
Baca juga: Mahfud MD Tanggapi Peluang Wali Murid Korban Keracunan MBG Lakukan Gugatan Class Action
Bahkan, sejumlah siswa diketahui meminta tambahan makanan dari jatah temannya yang tidak masuk sekolah pada hari itu.
Istiana menilai ketepatan waktu distribusi menjadi hal penting yang tidak boleh diabaikan.
Selain berpengaruh terhadap kualitas makanan, waktu pengiriman juga berkaitan dengan keamanan makanan ketika dikonsumsi para siswa.
"Jadi mohon untuk jam, itu jam distribusi ke sekolah-sekolah itu ditaati. Itu saja sebetulnya. Kita kendalanya sebetulnya hanya di situ," tegas Istiana.
(TribunJateng.com/Mazka Hauzan Naufal)