TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, dr. Faris Basalamah, Sp.JP(K), mengingatkan bahwa abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) tidak hanya berbahaya bagi saluran pernapasan dan mata, tetapi juga mengancam sistem kardiovaskular.
Menurutnya, paparan abu yang berbentuk debu tipis tersebut sangat memengaruhi orang yang telah memiliki riwayat penyakit jantung dan pembuluh darah.
Baca juga: Petugas Pemadam Karhutla Hadapi Risiko Asap dan Panas, Ini Cara Melindunginya
Kondisi tersebut menjadi ancaman serius bagi pasien yang sudah mengalami penyakit jantung koroner.
Pada pengidap plak aterosklerosis, peradangan akibat abu vulkanik dapat memicu ketidakstabilan atau pecahnya plak (plaque rupture).
Jika hal itu terjadi, proses tersebut berpotensi membentuk sumbatan yang berujung pada infark miokard atau serangan jantung.
"Pada pasien-pasien yang sudah mengalami penyakit jantung koroner, inflamasi ini juga akan menyebabkan plaque rupture, sobekan dari plak yang sudah ada sehingga akan memicu timbulnya infark miokard atau serangan jantung," jelas Faris.
Apabila proses serupa terjadi pada pembuluh darah otak, risiko terjadinya stroke juga akan meningkat secara signifikan.
Selain itu, paparan abu vulkanik berdampak langsung pada lonjakan tekanan darah dalam jangka pendek.
Baca juga: Botak di Usia Muda Bisa Diatasi? Dokter Ungkap Treatment dari PRP hingga Hair Transplant
Untuk menekan risiko kesehatan tersebut, Faris menyarankan masyarakat, khususnya kelompok rentan, agar menghindari aktivitas di luar ruangan apabila tidak mendesak selama masa erupsi.
"Kalau memang tidak perlu, sebaiknya tidak keluar rumah. Kalau memang perlu, maka gunakan masker yang mencukupi," pungkasnya.