Laporan Wartawan Serambi Indonesia | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, JAKARTA – Pengembangan gas bumi di Indonesia, termasuk proyek South Andaman di Aceh, dinilai tidak boleh berhenti pada kegiatan produksi dan penjualan gas sebagai komoditas energi.
Gas dinilai perlu dioptimalkan sebagai bahan baku industri untuk menciptakan nilai tambah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.
Pandangan tersebut disampaikan mantan Kepala Divisi Monetisasi Gas SKK Migas, Sampe Purba, Rabu (9/9/2026).
Baca juga: Peta Andaman, Politik “Menghormati”, dan Masa Depan Hilirisasi Aceh
Menurut Sampe, gas memiliki nilai strategis karena pemanfaatannya mencakup berbagai sektor, mulai dari kebutuhan rumah tangga dan pembangkit listrik hingga industri.
“Gas itu unik. Gas bukan sekadar komoditas untuk dijual, melainkan juga bahan baku ekonomi,” ujar Sampe.
Ia menjelaskan, gas dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri pupuk, petrokimia, keramik, kaca, baja, makanan, tekstil, pulp dan kertas, hingga pembangkit listrik mandiri.
Baca juga: Polemik Gas Andaman Dibedah di FISIP USK, Akademisi hingga DPRA Dorong Manfaat untuk Aceh
Menurutnya, pemanfaatan gas sebagai feedstock dapat menghasilkan produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan jika hanya digunakan sebagai bahan bakar.
Karena itu, ketersediaan gas dengan pasokan yang memadai dan harga kompetitif menjadi faktor penting untuk memperkuat daya saing industri, sekaligus membuka peluang investasi dan lapangan kerja.
Sampe menyebutkan, terdapat tiga syarat utama agar manfaat gas dapat dirasakan secara maksimal, yakni volume pasokan yang memadai, infrastruktur yang tepat, serta harga yang kompetitif.
“Jika salah satu saja tidak terpenuhi, manfaat gas tidak akan optimal,” tegasnya.
Selain untuk industri, Sampe menilai gas masih memiliki peran penting dalam proses transisi energi. Dalam sistem kelistrikan, pembangkit berbahan bakar gas dapat menjadi sumber energi yang fleksibel untuk menjaga kestabilan listrik ketika produksi energi terbarukan mengalami fluktuasi akibat kondisi cuaca.
Berdasarkan RUPTL 2025–2034, kapasitas pembangkit listrik tenaga gas diproyeksikan mencapai sekitar 10,3 gigawatt (GW).
Terkait pengembangan South Andaman oleh Mubadala Energy, Sampe menilai proyek tersebut memiliki peluang menghadirkan manfaat ekonomi jangka panjang bagi Aceh dan Indonesia.
Menurutnya, manfaat proyek tidak semata-mata diukur dari besarnya produksi gas, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan ekosistem ekonomi baru.
Ekosistem tersebut mencakup investasi, pengembangan industri hilir, penciptaan lapangan kerja, keterlibatan pelaku usaha lokal, peningkatan keterampilan tenaga kerja, hingga kontribusi terhadap penerimaan negara.
“Proyek gas strategis seharusnya tidak hanya diukur dari volume produksinya semata, tetapi juga dari kemampuannya menghasilkan nilai yang berkelanjutan bagi masyarakat dan perekonomian secara luas,” katanya.
Namun, Sampe mengingatkan bahwa realisasi manfaat tersebut membutuhkan kepastian regulasi, iklim investasi yang stabil, serta kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, pelaku industri, dan mitra proyek.
Dengan pendekatan tersebut, South Andaman diharapkan tidak sekadar menjadi sumber pasokan gas baru, tetapi juga mampu menjadi salah satu penggerak pertumbuhan industri dan perekonomian Aceh.