Fenomena Erupsi 6 Gunung Api Dikaitkan dengan HAARP, Ahli Vulkanologi Beri Penjelasan Ilmiah
Joko Widiyarso September 09, 2026 09:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Tenaga Ahli Utama di Kantor Staf Presiden, Ulta Levenia Nababan tengah menjadi perbincangan publik lantaran mengaitkan fenomena erupsi enam gunung api di Indonesia dengan High-Frequency Active Auroral Research Program (HAARP). 

Fasilitas penelitian di Alaska, Amerika Serikat tersebut dikaitkan dengan teori konspirasi yang disebut Ulta sebagai penyebab fenomena erupsi gunung api di Indonesia.

Menanggapi hal tersebut, Pakar Vulkanologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Ir. Agung Harijoko, S.T., M.Eng., IPM. mengatakan proses erupsi gunung api adalah proses geologi.

Artinya, erupsi gunung api merupakan proses alam, dimana dapur magma tersebut membangun tekanan yang cukup tinggi sehingga bisa menerobos keluar.

Erupsi gunung api dipengaruhi oleh magma, sementara magma dipengaruhi oleh adanya aktivitas subduksi. Subduksi yang berjalan terus-menerus, praktis memicu produksi magma secara terus-menerus. 

“Jadi tidak ada kaitannya dengan ada teknologi frekuensi atau apa itu ya. Jadi itu belum ada buktinya lah kalau mau dikatakan seperti itu. Jadi tetap saja kalau saya masih percaya itu (erupsi enam gunung di Indonesia) adalah proses alami, proses geologi, tidak ada campur tangan manusia,” katanya usai Pojok Bulaksumur di Universitas Gadjah Mada, Rabu (9/9/2026).

Ia menerangkan secara natural enam gunung api di Indonesia bisa erupsi secara bersamaan. Pasalnya, setiap gunung api memiliki sistem magmanya tersendiri. 

Kendati memang ada gunung yang memiliki kesamaan magma. Namun, hanya pada gunung yang jaraknya berdekatan seperti Gunung Merapi dan Gunung Merbabu atau Gunung Batur dan Gunung Agung.

Gunung api erupsi jika ketika ada peningkatan tekanan di dalam dapur magma. Meningkatnya dapur magma bisa dipicu oleh adanya asupan magma baru. 

“Jadi kalau ada magma yang baru terbentuk di zona mantel atas itu kemudian naik dan masuk, maka kemudian dia akan meningkatkan tekanan. Dan jika tekanan di dapur magma itu lebih tinggi dibandingkan tekanan batuan penutup, maka itu baru bisa erupsi. Setiap gunung itu punya sistem sendiri-sendiri, dan kebetulan sekarang enam gunung api itu tekanannya sudah tinggi,” terangnya.

Ia menegaskan kondisi setiap gunung api berbeda-beda dan tidak saling memengaruhi, terutama jika jarak antargunung terlalu jauh.

“Jadi bukan Anak Krakatau erupsi kemudian Lewotobi, Lewotolok erupsi. Sebelum ada Anak Krakatau erupsi kan juga Lewotobi udah nggak erupsi. Karena memang setiap kondisi tiap gunung api itu berbeda-beda. Jadi tidak saling memengaruhi, terutama kalau jaraknya terlalu panjang,” ujarnya. (maw)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.