Penjelasan Ahli soal Teknologi Intermittent Irrigation Emisi Gas Metana di Persawahan Koya Minahasa
Frandi Piring September 09, 2026 09:22 PM

 

TRIBUNMANADO.CO.ID - MINAHASA - Universitas Negeri Manado (Unima) bersama Pemerintah Kabupaten Minahasa mencanangkan aplikasi teknologi intermittent irrigation dan pengambilan sampel gas metana di kompleks persawahan Kelurahan Koya, Kecamatan Tondano Selatan, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) pada Rabu, 9 September 2026.

Unima berjarak sekitar 1,2 hingga 1,3 kilometer dengan Kelurahan Koya.

Ke Kantor Bupati Minahasa di Jalan Sam Ratulangi - nomor 333, Kelurahan Tounkuramber, Kecamatan Tondano Barat, sejauh 5,4 kilometer.

Sementara Unima ke Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado yang beralamat di Jalan A.A. Maramis, Paniki Bawah/Lapangan, Kecamatan Mapanget, Kota Manado, berjarak sekitar 44,4 kilometer.

Waktu tempuh berkendara kurang lebih 1 jam 27 menit lewat Jalan Tomohon-Tondano, Jalan Raya Manado-Tomohon, Jalan Ring Road (Lkr. Kota Manado), dan Jalan A.A. Maramis menuju area bandara.

Program ini menjadi yang pertama dilakukan secara kelembagaan di Indonesia.

Pencanangan dilakukan oleh Bupati Minahasa Robby Dondokambey, bersama Rektor Unima Dr. Joseph Philip Kambey dan pejabat Pemkab Minahasa, disaksikan kelompok tani anak-anak muda, mahasiswa, dan alumni.

Ketua Tim Peneliti Prof. Urbanus Naharia menjelaskan, teknologi intermittent irrigation merupakan pendekatan baru dalam pengelolaan air pada lahan persawahan.

Air diberikan dan dikeringkan secara berkala sesuai kebutuhan tanaman, tidak terus-menerus tergenang.

“Teknologi ini cocok sekali untuk kekeringan karena tidak menggunakan air tergenang. Dengan menggunakan intermittent irrigation, pertama mengurangi tenaga kerja, menghemat air, mengurangi hama dan penyakit. Kalau keong ada di tergenang, kalau di becek seperti itu tidak ada,” jelas Prof. Urbanus saat diwawancarai tim Tribun Manado, Rabu siang.

Cuaca saat sesi wawancara tampak cerah dengan suhu panas menyengat.

penelitian teknologi intermittent irrigation dan pengambilan sampel gas metana di persawahan Koya 1
PENELITIAN - Universitas Negeri Manado (Unima) bersama Pemerintah Kabupaten Minahasa mencanangkan aplikasi teknologi intermittent irrigation dan pengambilan sampel gas metana di kompleks persawahan Kelurahan Koya, Kecamatan Tondano Selatan, Minahasa, Rabu 9 September 2026. Program ini menjadi yang pertama dilakukan secara kelembagaan di Indonesia.

Lebih dari itu, teknologi ini bertujuan memitigasi pemanasan global.

Berdasarkan penelitian yang ia lakukan sejak tahun 2000, lahan sawah tergenang menghasilkan emisi gas metana 250-300 kg per hektare per musim.

Sementara lahan dengan kondisi becek atau jenuh air hanya 25-30 kg per hektare per musim.

“Kenapa gas metana tinggi di air tergenang? Karena penguraian bahan organik berlangsung tanpa oksigen. Bakteri yang bekerja adalah bakteri anaerob atau bakteri metanogen. Ketika bakteri metanogen bekerja, hasilnya pasti CH4, pasti gas metana. Nah, bagaimana memodifikasi pengairan supaya gas metana tidak diproduksi? Intermittent irrigation jawabannya,” ucap Guru Besar Unima ini.

Dalam kegiatan ini juga dilakukan pengambilan sampel gas menggunakan box chamber dan kantong udara yang menyerupai kantong darah.

“Ketika box chamber diletakkan, aerator sudah dalam keadaan hidup. Selang dimasukkan melewati box chamber, dan di sampingnya ditaruh alat tegler. Setelah 15 menit, selang disambungkan ke tegler, dihidupkan sampai mengembang, baru ditutup. Gas sampel ini siap dianalisis di laboratorium,” terang Dosen lulusan Ilmu Kimia ini.

Sampel akan dianalisis di Laboratorium UI sebanyak tiga kali pengamatan. Hasilnya akan menunjukkan kadar gas metana, CO2, N2O, dan gas lainnya.

Data tersebut kemudian dianalisis dengan analisis of varians untuk melihat pengaruh perlakuan.

Perlakuan A1 adalah sistem tergenang seperti yang umum dilakukan petani di Minahasa.

Sementara A2 adalah sistem tidak tergenang tetapi lumpur sawah.

Prof. Urbanus menegaskan, secara kelembagaan baru Unima yang melakukan penelitian ini, dan di tingkat pemerintah, baru Kabupaten Minahasa yang menerapkannya.

“Kami sangat bangga. Hasil penelitian ini nanti akan dilaporkan ke Gubernur, kemudian ke Kementerian Pertanian agar bisa didiseminasikan di seluruh kabupaten dan kota. Kami juga akan bekerja sama dengan Kementerian Pertanian, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, serta Kementerian Lingkungan Hidup,” terang Ahli Bidang Biologi, Lingkungan, dan Kimia ini.

Prof. Urbanus menambahkan, ada peluang dana dari Kementerian Lingkungan Hidup untuk program pertanian produktif dan berkelanjutan, serta dari Kementerian Pertanian untuk program pertanian produktif ramah lingkungan dan ramah emisi gas rumah kaca.

“Gas metana adalah gas rumah kaca. Semakin tebal gas metana, semakin panas bumi ini. Kita lihat sekarang, kekeringan adalah salah satu dampak dari pemanasan global. Teknologi ini dapat membantu dunia mengurangi pemanasan global dan perubahan iklim melalui mitigasi gas metana dari budidaya padi sawah,” tutup Wakil Rektor Bidang Akademik Unima ini.

Bupati Minahasa mengapresiasi langkah Unima dan menyatakan dukungan penuh agar inovasi ini dapat diterapkan secara luas demi mewujudkan pertanian Minahasa yang maju, tangguh, dan berkelanjutan.

penelitian teknologi intermittent irrigation dan pengambilan sampel gas metana di persawahan Koya 3
PENELITIAN - Universitas Negeri Manado (Unima) bersama Pemerintah Kabupaten Minahasa mencanangkan aplikasi teknologi intermittent irrigation dan pengambilan sampel gas metana di kompleks persawahan Kelurahan Koya, Kecamatan Tondano Selatan, Minahasa, Rabu 9 September 2026. Program ini menjadi yang pertama dilakukan secara kelembagaan di Indonesia.

Adapun letak geofrafis Unima berada di kawasan pegunungan Kabupaten Minahasa, tepatnya di Jalan Kampus Unima, Kelurahan Tonsaru, Kecamatan Tondano Selatan, Sulawesi Utara.

Lokasi ini dekat dengan persawahan tempat penelitian tersebut, karena wilayah Unima dan Kelurahan Koya berada di satu wilayah Kecamatan Tondano Selatan.

Unima didirikan pada 22 September 1955.

Kampus ini berawal dari Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) Tondano. 

Kemudian berubah menjadi IKIP Manado sebelum akhirnya dikonversi menjadi Universitas Negeri Manado pada tahun 2000.

Saat ini, Unima memiliki 8 fakultas serta 1 Program Pascasarjana, yakni:

Fakultas Matematika, IPA dan Kebumian (FMIPAK).

Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH).

Fakultas Bahasa dan Seni (FBS).

Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB).

Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP).

Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan Masyarakat (FIKKM).

Belum lama ini, Unima resmi membuka Fakultas Kedokteran pada 11 Juni 2026 oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi bersama Gubernur Sulawesi Utara dan Rektor UNIMA.

Rektor Unima saat ini dijabat oleh Dr. Joseph Philip Kambey, SE., Ak., MBA untuk periode 2025–2029.

Doktor Joseph dilantik pada Februari 2025 lalu menggantikan Prof. Dr. Deitje Adolfien Katuuk, M.Pd. (amg)

Baca juga: UNIMA Teliti Gas Metana di Persawahan Koya Minahasa, Canangkan Teknologi Intermittent Irrigation

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.