TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA — Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan pemerintah menanggung penuh seluruh pembiayaan medis bagi para pelajar yang menjadi korban dugaan keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Turi, Kabupaten Sleman, dan Patalan, Kabupaten Bantul.
Sebagai langkah penindakan awal atas insiden tersebut, operasional tiga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Daerah Istimewa Yogyakarta telah dihentikan secara sementara guna keperluan investigasi lebih lanjut.
Koordinator Regional BGN Daerah Istimewa Yogyakarta, Gagat Widyatmoko, menegaskan bahwa penjaminan biaya pengobatan ini mencakup seluruh tindakan medis, baik bagi korban yang berstatus rawat inap maupun rawat jalan. Ia mengimbau para orangtua siswa agar tidak merisaukan beban biaya rumah sakit karena mekanisme klaim telah disiapkan.
"Semuanya. Jadi, dari yang sudah-sudah, seluruh bentuk pertanggungjawaban administrasi keuangan bisa diajukan ke Biro Umum dan Keuangan di BGN pusat. Jadi tidak usah khawatir terkait dengan pembiayaan. BGN bertanggung jawab," tutur Gagat saat ditemui di Kompleks Kepatihan, Kota Yogyakarta, Rabu (9/9/2026).
Sebagai tindak lanjut tegas atas kasus ini, BGN telah menjatuhkan sanksi pemberhentian operasional sementara terhadap tiga penyedia makanan. Gagat merinci, ketiga SPPG yang ditutup tersebut meliputi dua unit yang berlokasi di Kabupaten Sleman dan satu unit di Kabupaten Bantul.
Mengenai kelanjutan sanksi administratif secara permanen maupun potensi jerat pidana bagi pihak SPPG apabila terbukti melakukan kelalaian yang membahayakan nyawa puluhan siswa, Gagat menyatakan pihaknya menyerahkan kewenangan tersebut sepenuhnya kepada aparat kepolisian.
"Kalau itu nanti ranahnya aparat penegak hukum, ya. Nanti bisa ditanyakan ke APH. Nanti dilihat hasilnya apa, sumbernya dari mana. Ketika hasil uji laboratorium itu sudah dilaporkan ke pusat, nanti keputusan akan keluar. Ditunggu saja," paparnya menegaskan tahapan investigasi.
Berdasarkan hasil pemantauan awal di lapangan, total terdapat 49 orang yang terkonfirmasi mengalami gejala berupa rasa mual, pusing, hingga muntah-muntah.
Dari jumlah tersebut, terdapat 48 siswa dan satu orang guru, dengan rincian 45 orang telah mendapatkan perawatan di Puskesmas setempat, tiga orang sedang menjalani proses rawat jalan dan satu orang harus dirawat inap di RSUD Sleman untuk observasi medis yang lebih intensif.