Tak Punya HP untuk PJJ, Siswa SMPN 48 Palembang Tetap Datang ke Sekolah
taryono September 09, 2026 09:19 PM

Tribunlampung.co.id, Palembang - Ketika sebagian besar siswa SMP Negeri 48 Palembang, Sumatera Selatan, mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dari rumah, Muhammad Zurian (14) justru tetap datang ke sekolah.

Baca juga: Lanal Lampung Kerahkan KRI Lepu Pantau Gunung Anak Krakatau

Bukan karena ia tidak mengetahui kebijakan PJJ yang diterapkan Pemerintah Kota Palembang, melainkan karena tidak memiliki telepon genggam untuk mengikuti pembelajaran secara daring.

Rabu (9/9/2026) pagi, siswa kelas 9-4 itu tiba di sekolah diantar ayahnya menggunakan sepeda motor. Suasana SMP Negeri 48 Palembang tampak lebih lengang dibandingkan hari sekolah biasa. Tidak banyak siswa terlihat di halaman maupun ruang kelas.

Zurian kemudian duduk di kursi ruang piket guru. Di hadapannya terdapat lembar tugas yang diberikan sekolah. Ia membaca soal satu per satu, kemudian menuliskan jawabannya di atas kertas.

Tidak ada telepon genggam yang digunakan Zurian untuk mengakses materi pembelajaran. Ia hanya membawa alat tulis dan lembar tugas yang harus diselesaikannya.

Saat ditemui Sripoku.com, Zurian terlihat murah senyum dan mudah diajak berbicara. Namun, ia tidak banyak bercerita. Sebagian besar waktunya pagi itu digunakan untuk membaca soal dan menyelesaikan tugas.

"Soal langsung jawab, Pak," katanya singkat.

Pagi itu, Zurian mengikuti pembelajaran secara luring bersama dua siswa lainnya. Materi yang diberikan berupa pembelajaran kokurikuler yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

Bagi sekolah, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan siswa tanpa perangkat tetap diberikan akses untuk mengikuti kegiatan belajar. Mereka tidak harus berada di rumah ketika PJJ berlangsung.

Kepala SMP Negeri 48 Palembang Liesda Maria, M.Pd., mengatakan siswa yang tidak memiliki telepon genggam diperbolehkan datang ke sekolah untuk mengambil sekaligus mengerjakan tugas.

"Kalau memang tidak punya HP, kami suruh mereka ke sekolah untuk ambil tugas. Dan tetap menggunakan masker," kata Liesda.

Menurut Liesda, jumlah siswa yang berada dalam kondisi serupa tidak banyak. Berdasarkan pemantauan sekolah, biasanya hanya ada satu atau dua siswa dalam satu kelas yang tidak memiliki telepon genggam.

"Sejauh ini memang kalau seperti waktu uji coba, gladi bersih, terpantau tidak terlalu banyak siswa yang tidak memiliki HP. Dalam sekelas itu cuma satu dua saja yang tidak punya," ujarnya.

Zurian menjadi salah satu siswa yang memanfaatkan fasilitas tersebut. Ia dijadwalkan mengikuti kegiatan hingga sekitar pukul 12.00 WIB atau setelah tugas yang diberikan selesai.

Ia justru merasa lebih nyaman menyelesaikan tugas secara langsung di sekolah dibandingkan harus mengikuti pembelajaran daring tanpa perangkat.

"Bagi aku lemak ngerjakan di sekolah daripada daring. Dak selesai di sekolah bisa baru dikerjakan di rumah," ujarnya.

Kondisi tanpa telepon genggam bukan sesuatu yang baru bagi Zurian. Ia telah menjalani kehidupan tanpa perangkat tersebut selama sekitar empat tahun.

Sebelumnya, Zurian pernah memiliki telepon seluler. Namun, perangkat itu mengalami kerusakan dan akhirnya dijual.

"Dulu ada, Pak. Tapi rusak, kami jual pak," katanya.

Sejak saat itu, ia tidak lagi memiliki HP. Padahal, telepon genggam kini menjadi salah satu perangkat yang dibutuhkan untuk mengakses pembelajaran ketika sekolah menerapkan sistem daring.

Zurian sebenarnya ingin memiliki HP baru. Namun, keinginan tersebut tidak serta-merta disampaikan kepada ayahnya.

Ayah Zurian, Safik, bekerja sebagai tukang bangunan. Sementara ibunya, Aida, merupakan ibu rumah tangga. Zurian adalah anak pertama dari empat bersaudara.

Tiga adiknya masih kecil, masing-masing berusia sekitar satu tahun lima bulan, tiga tahun, dan sembilan tahun. Kondisi tersebut membuat Zurian memilih memahami keadaan keluarganya daripada meminta dibelikan telepon genggam.

"Nak minta beli sama bapak dak enak. Bapak kerja tukang bangunan. Kasihan, susah cari uang untuk kami," tuturnya.

Ia kemudian mencari cara sendiri untuk mendapatkan HP yang diinginkan. Dari uang jajan sekitar Rp10.000 setiap hari, sebagian disisihkan untuk ditabung.

"Aku lagi nabung nak beli HP," katanya.

Tabungan tersebut dikumpulkan sedikit demi sedikit. Bagi Zurian, HP yang ingin dibeli bukan hanya untuk mengikuti tren atau bermain.

Ia ingin menggunakan perangkat tersebut untuk mendukung kegiatan sekolah, terutama ketika pembelajaran kembali dilakukan secara daring seperti saat PJJ akibat kabut asap karhutla yang menyelimuti Palembang.

Sambil menunggu uangnya cukup, Zurian tetap mengikuti pembelajaran dengan fasilitas yang tersedia di sekolah. Setelah menyelesaikan tugas, ia diperbolehkan pulang lebih awal dan tidak harus mengikuti jam sekolah normal hingga pukul 15.00 WIB.

Namun, perjalanan pulangnya pada hari itu tidak langsung menuju rumah. Zurian berencana berjalan kaki menuju rumah bibinya di kawasan 15 Ulu. Dari sana, ayahnya akan menjemput.

"Pulang nanti aku jalan kaki. Perahu ketek tidak ada, karena siswa libur. Jalan kaki ke rumah bibik di 15 Ulu. Nanti bapak jemput di sana," katanya.

Ia menceritakan rencana tersebut dengan santai. Tidak terdengar keluhan meski aktivitas belajarnya berbeda dari sebagian besar teman-temannya.

Ketika ditanya bagaimana perasaannya melihat siswa lain dapat mengikuti PJJ dari rumah dengan telepon genggam, Zurian hanya menjawab singkat.

"Biasa aja," ujarnya.

Baginya, keterbatasan perangkat bukan alasan untuk meninggalkan sekolah. Ia tetap ingin mengikuti pelajaran dan memperoleh nilai.

"Pengen belajar biar dapat nilai," katanya.

Di luar keinginannya untuk memiliki HP, Zurian juga menyimpan cita-cita yang cukup jauh. Ia ingin menjadi YouTuber. Jika keinginan itu belum terwujud, ia ingin menjadi guru.

Untuk sementara, cita-cita tersebut masih berjalan bersama rutinitas sederhananya: bersekolah, mengerjakan tugas, dan menyisihkan uang jajan.

Kisah Zurian memperlihatkan bahwa penerapan PJJ tidak menghadirkan pengalaman yang sama bagi setiap siswa. Bagi mereka yang memiliki perangkat dan akses pendukung, kegiatan belajar dapat dipindahkan ke rumah. Sementara bagi siswa yang tidak memiliki HP, sekolah menjadi tempat alternatif agar pembelajaran tetap berjalan.

Di ruang piket SMP Negeri 48 Palembang, Zurian menyelesaikan soal dengan lembar kertas di hadapannya. Ketika tugasnya selesai, ia bersiap meninggalkan sekolah untuk melanjutkan perjalanan pulang.

Sementara itu, tabungannya untuk membeli HP masih terus berjalan. Setiap Rp10.000 yang diterima sebagai uang jajan menjadi bagian dari usahanya untuk memiliki perangkat belajar sendiri.

Sebelum keinginannya itu terwujud, Zurian tetap memilih cara yang tersedia untuk mengikuti pendidikan. Ketika pembelajaran tidak dapat ia ikuti dari rumah, ia datang ke sekolah dan menyelesaikan tugasnya di sana.

sumber: Sripoku.com

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.