Lanal Lampung Kerahkan KRI Lepu Pantau Gunung Anak Krakatau
Daniel Tri Hardanto September 09, 2026 09:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Danlanal Lampung Letkol Laut (P) Irianto Kurniawan mengatakan, pihaknya turut memperkuat pemantauan dengan meninjau langsung Gunung Anak Krakatau. 

Baca juga: Gubernur Mirza Pantau Gunung Anak Krakatau Pakai Helikopter

TNI AL mengerahkan KRI Lepu-861 yang berada di bawah jajaran Guspurla Koarmada I untuk melaksanakan operasi.

Irianto mengatakan, KRI Lepu sebenarnya telah berada di wilayah perairan Lampung selama beberapa hari terakhir. 

Bahkan, sehari sebelum pemantauan bersama Pemprov Lampung, KRI tersebut telah melakukan pengamatan visual dari jarak dekat terhadap Gunung Anak Krakatau.

"Hasil pemantauan ini cukup aman, sehingga dari instruksi dan arahan pimpinan diizinkan untuk melaksanakan pemantauan ulang dengan mengundang pemerintah daerah sekaligus instansi samping," kata Irianto saat menghadiri konferensi pers terkait perkembangan terkini GAK di Command Center BPBD Provinsi Lampung, Rabu (9/9/2026) sore.

Pada Rabu, rombongan berangkat dari Pelabuhan Panjang sekitar pukul 08.00 WIB. 

Selain unsur TNI AL, kegiatan tersebut melibatkan Pemprov Lampung, BPBD, Basarnas dan Itera.

Irianto mengatakan, hasil pengamatan menjadi salah satu pedoman untuk meningkatkan keamanan dan kewaspadaan pengguna laut. 

Ia mengingatkan seluruh pengguna laut agar mematuhi batas jarak aman yang ditetapkan serta mengikuti imbauan instansi berwenang.

"Patuhilah batas jarak aman, patuhi imbauan pemakaian masker, patuhi penggunaan alat keselamatan diri. Ini penting untuk keamanan dan keselamatan bersama," ujarnya.

Erupsi 7 Kali

Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali menunjukkan aktivitas erupsi sejak Selasa hingga Rabu. 

Berdasarkan laporan Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno, tercatat tujuh kali erupsi dalam rentang waktu tersebut.

Erupsi terbaru terjadi pada Rabu pukul 00.47 WIB. "Terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau pada hari Rabu, 9 September 2026, pukul 00:47 WIB. Visual letusan tidak teramati," kata Suwarno, Rabu.

Sehari sebelumnya, sepanjang Selasa, Gunung Anak Krakatau tercatat mengalami enam kali erupsi. Erupsi pertama pada Selasa terjadi pukul 05.08 WIB, dengan amplitudo maksimum 47 mm dan durasi 15 detik.

Selang 26 menit kemudian, erupsi kembali terjadi pada pukul 05.34 WIB. Erupsi ini terekam dengan amplitudo maksimum 44 mm dan durasi 10 detik.

Aktivitas kembali tercatat pada pukul 07.49 WIB, dengan amplitudo maksimum 48 mm dan durasi 19 detik. Kemudian pada pukul 11.34 WIB, Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi dengan amplitudo maksimum 50 mm dan durasi 17 detik.

Erupsi berikutnya terjadi pada pukul 17.56 WIB, dengan amplitudo maksimum 54 mm dan durasi 31 detik. Dari seluruhnya, erupsi dengan amplitudo dan durasi paling besar adalah pada pukul 17.56 WIB, mencapai 54 mm selama 31 detik.

Namun, seluruh erupsi yang dilaporkan tersebut tidak teramati secara visual dari Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau.

Dengan masih tingginya aktivitas vulkanik, status Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada pada Level III atau Siaga.

Masyarakat, wisatawan, dan nelayan yang beraktivitas di sekitar perairan Gunung Anak Krakatau diminta tetap meningkatkan kewaspadaan.

Mereka juga diimbau tidak mendekati kawasan gunung api maupun melakukan aktivitas di dalam radius yang telah ditetapkan oleh otoritas vulkanologi. 

(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.