TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA - Angka persalinan melalui operasi caesar di Indonesia terus meningkat. Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Konsultan Fetomaternal, dr. Febriansyah Darus, menilai tren tersebut tak lagi didorong kebutuhan medis, tetapi juga dipengaruhi media sosial, tren “tanggal cantik”, hingga pemasaran metode persalinan tertentu.
Ia mengatakan operasi caesar pada dasarnya dilakukan berdasarkan indikasi medis.
Merujuk data yang ada, angka persalinan caesar di Indonesia meningkat dari sekitar 0,7 persen pada 2013 menjadi 17,9 persen pada 2018 berdasarkan data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar).
Sementara berdasarkan data terbaru, pada 2025 disebutkan persalinan caesar mencapai sekitar 25 persen. Artinya 1 dari 4 ibu hamil menjalani persalinan caesar.
Menurut Febriansyah, terdapat tiga kelompok utama indikasi medis untuk operasi caesar, yakni indikasi ibu, janin, dan waktu.
Baca juga: Kemenkes: 3.719 Relawan Pastikan Layanan Kesehatan Pulih Pasca Bencana di Aceh, Bantu Persalinan
Indikasi ibu antara lain penyakit tertentu yang membuat persalinan normal berisiko seperti kelainan jantung berat maupun preeklamsi.
Dari sisi janin, operasi dapat diperlukan karena posisi bayi, seperti sungsang atau melintang, maupun kondisi tertentu lainnya.
Sementara indikasi waktu berkaitan dengan persalinan yang tidak mengalami kemajuan sebagaimana taksiran kelahiran janin.
Sayangnya kini semakin banyak permintaan caesar yang tidak didasarkan pada indikasi medis.
Faktor sosial, ekonomi, pemasaran, hingga tren di media sosial dinilai turut memengaruhi keputusan ibu hamil.
Promosi metode seperti ERACS melahirkan tanpa nyeri dan fenomena memilih “tanggal cantik” menjadi beberapa faktor meningkatnya permintaan caesar.
Pengalaman influencer di media sosial juga dapat membentuk persepsi masyarakat mengenai persalinan, meski kondisi setiap kehamilan berbeda.
"Komunikasi antara dokter dan pasien perlu dilakukan sejak masa kehamilan. Ibu hamil perlu memahami manfaat, risiko, serta kemungkinan perubahan metode persalinan sesuai kondisi ibu dan bayi," kata dia dalam kegiatan di Jakarta Selatan, Rabu sore (9/9).
Ia menegaskan, tidak ada satu metode persalinan yang terbaik untuk semua orang.
Namun, jika tidak ada indikasi medis untuk operasi, persalinan normal umumnya memiliki risiko dan komplikasi yang lebih sedikit.
Operasi caesar tetap memiliki peran penting ketika dibutuhkan untuk menyelamatkan ibu atau bayi.
"Intinya keputusan metode persalinan dibuat berdasarkan kondisi medis, informasi yang benar, dan konsultasi dengan dokter, dengan keselamatan ibu dan bayi sebagai prioritas utama," ungkap dia.