Kisah ASN Gorontalo Alan Usman Sukses Kembangkan Bisnis Kuliner Kampus
Fadri Kidjab September 09, 2026 10:44 PM

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Berawal dari rasa penasaran dan keinginan membantu biaya kuliah adiknya, Alan Usman (26) merintis usaha kuliner Alfa Siomay Buol pada Januari 2026.

Alan memulai usaha makanan tersebut pada Januari 2026 bersama sahabatnya, Fadel, yang dikenal sebagai salah satu qori terbaik di Sulawesi Tengah. 

Awalnya, Alan hanya penasaran dan ingin mencoba bagaimana rasanya menjalankan bisnis makanan. 

Namun, di balik keinginannya mencoba dunia usaha, ada alasan yang lebih personal. Ia ingin memiliki usaha sampingan yang bisa membantu keluarganya, terutama untuk mendukung biaya kuliah adiknya.

"Awalnya penasaran, pengen coba bisnis makanan. Alhamdulillah laris sampai dengan sekarang. Tapi alasan utamanya karena kepengen ada usaha sampingan agar bisa membantu orangtua untuk biaya kuliah adik," kata Alan kepada TribunGorontalo.com, Rabu.

Dari sebuah usaha yang dimulai dengan mencoba-coba, Alfa Siomay Buol kemudian mulai mendapatkan tempat di hati pembeli. Omzet yang diperoleh pun perlahan meningkat.

Alan mengungkapkan, pendapatan usahanya bahkan pernah mencapai sekitar Rp700 ribu dalam sehari. Meski demikian, ia menyadari bahwa angka tersebut tidak selalu sama setiap hari. Namanya usaha, kata dia, pasti mengalami pasang surut. Jumlah pembeli bisa berubah tergantung kondisi dan situasi.

"Omzet Alhamdulillah pernah tembus pendapatannya Rp700.000 per hari. Tetapi namanya bisnis pasti akan naik turun, tergantung pembeli," ujarnya.

Bagi Alan, kondisi tersebut justru menjadi bagian dari proses belajar dalam menjalankan usaha. Ia tidak menjadikan omzet sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Yang terpenting, usaha tersebut bisa terus berjalan dan memberikan manfaat bagi keluarga.

Kini, Alfa Siomay Buol tidak hanya melayani pembeli di satu tempat. Kedai kedua berada di depan Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGO), tepatnya di wilayah Telaga, Kabupaten Gorontalo. 

Baca juga: Audiensi Status Cagar Budaya Memanas, Risman Taha Pertanyakan Pelaporan Wali Kota Gorontalo

Kedai tersebut turut dijaga oleh adik Alan, Arya R Usman (24). Arya mengatakan, kedai biasanya mulai buka setelah waktu Asar atau sekitar pukul 16.00 WITA, sementara waktu tutup menyesuaikan kondisi pembeli.

"Ini buka jam habis Ashar biasanya, paling ini jam 04.00. Biasanya tergantung kita lagi, kalau biasanya tutup jam 10 atau jam 11," kata Arya kepada TribunGorontalo.com.

Di kedai tersebut, siomay dijual dengan harga yang relatif terjangkau. Untuk siomay ukuran biasa, harganya sekitar Rp1.000 per buah, sementara varian yang lebih besar, termasuk yang berisi telur dan keju, dibanderol sekitar Rp3.000. 

Harga yang ramah di kantong tersebut menjadi salah satu daya tarik, terutama bagi mahasiswa dan masyarakat sekitar. 

Lokasi yang berada di kawasan kampus juga membuat produk makanan ringan seperti siomay cukup potensial untuk dikembangkan.

Bagi Alan, membuka kedai kedua bukan berarti perjalanan usahanya sudah selesai. Ia justru sedang menyiapkan langkah berikutnya. Dalam waktu dekat, ia berharap bisa kembali membuka cabang Alfa Siomay Buol di lokasi lainnya.

"Insyaallah cabangnya akan diusahakan dekat-dekat ini," ujarnya.

Di balik perjalanan tersebut, Alan mengaku tidak berjalan sendirian. Dukungan keluarga menjadi salah satu kekuatan terbesar dalam menjalankan usaha. Selain keluarga, orang-orang terdekat juga memberikan dukungan agar usaha tersebut bisa terus berkembang.

"Yang jadi support system saya cukup banyak, terutama keluarga saya," katanya.

Menariknya, menjalankan usaha makanan bukan satu-satunya aktivitas Alan. Ia juga memiliki kesibukan sebagai ASN PPPK di Kabupaten Gorontalo.

Di luar pekerjaannya sebagai ASN, Alan aktif sebagai pembina tilawah di Rumah Quran Ramiaty Center serta menjadi pembina tilawah di beberapa kecamatan yang ada di Kabupaten Gorontalo. Kesibukan tersebut membuat Alan harus pandai membagi waktu antara pekerjaan, aktivitas pembinaan, dan pengelolaan usaha.

Bagi pelaku UMKM, kisah Alan menunjukkan bahwa memulai bisnis tidak selalu harus menunggu semuanya sempurna. 

Sebuah usaha bisa dimulai dari sesuatu yang sederhana, selama ada kemauan untuk mencoba dan konsisten menjalankannya. 

Alan sendiri memulai Alfa Siomay Buol bukan semata-mata untuk mengejar keuntungan. Ada kebutuhan keluarga yang ingin ia bantu, serta keinginan untuk memiliki sumber penghasilan tambahan di tengah kesibukannya sebagai ASN dan pembina tilawah.

Dari situ, usaha kecil yang dimulai pada Januari 2026 tersebut perlahan berkembang. Omzet pernah mencapai Rp700 ribu sehari, memiliki kedai kedua, dan mulai merencanakan cabang berikutnya. 

Perjalanan Alfa Siomay Buol menjadi gambaran bahwa peluang usaha bisa muncul dari hal sederhana di sekitar kita. 

Tidak harus langsung besar; yang penting berani memulai, memahami kebutuhan pembeli, menjaga harga tetap terjangkau, dan terus beradaptasi dengan kondisi pasar.

Bagi Alan, usaha tersebut bukan sekadar menjual siomay. Ada harapan agar dari usaha kecil itu, ia bisa ikut membantu keluarga dan membuka peluang yang lebih besar di masa mendatang. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.