Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Harga sejumlah komoditas perikanan di Lampung mengalami kenaikan di tengah aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK).
Baca juga: Sampel DNA Diambil, Istri M Bagus Khoirunnas: Saya Masih Yakin Suami Selamat
Di Pantai Sukaraja, Kecamatan Bumiwaras, Kota Bandar Lampung, nelayan mengaku mengalami kesulitan mencari ikan setelah aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau meningkat. Kondisi tersebut disebut berdampak pada hasil tangkapan yang berkurang hingga sekitar 20 persen.
Penurunan hasil tangkapan tersebut berpotensi mengurangi pasokan hasil perikanan yang masuk ke tingkat pedagang.
Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Bandar Lampung, Ricardo BNW, mengatakan hasil tangkapan nelayan mengalami penurunan sekitar 20 persen dibandingkan kondisi sebelum aktivitas erupsi meningkat.
Di sisi lain, sejumlah harga komoditas perikanan di tingkat konsumen saat ini tercatat lebih tinggi dibandingkan harga normal sebelumnya.
Ikan kembung, misalnya, kini dijual sekitar Rp60 ribu per kilogram. Padahal, harga normal sebelumnya berada di kisaran Rp40 ribu per kilogram.
Sementara itu, harga udang kini mencapai Rp100 ribu per kilogram, naik dari sebelumnya yang berada di kisaran Rp70 ribu hingga Rp80 ribu per kilogram.
Kenaikan harga juga terjadi pada cumi-cumi. Komoditas tersebut kini dijual sekitar Rp100 ribu per kilogram, dari harga sebelumnya yang berkisar Rp60 ribu hingga Rp70 ribu per kilogram.
Namun, kenaikan harga tersebut belum dapat dipastikan seluruhnya merupakan dampak langsung erupsi GAK. Perubahan harga juga dapat dipengaruhi oleh sejumlah faktor lain, termasuk ketersediaan pasokan, distribusi dan kondisi pasar.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Bandar Lampung (UBL), Dr Khairudin, mengatakan erupsi GAK berpotensi menimbulkan supply shock atau guncangan pasokan terhadap komoditas perikanan.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat terjadi apabila aktivitas erupsi mengganggu kegiatan nelayan, produksi perikanan maupun distribusi hasil perikanan.
"Secara ekonomi, kondisi tersebut dapat menimbulkan supply shock, yaitu berkurangnya pasokan komoditas laut pada saat permintaan masyarakat relatif tetap," kata Khairudin, Rabu (9/9/2026).
Khairudin menilai besarnya dampak terhadap harga belum dapat dipastikan hanya berdasarkan terjadinya erupsi.
Menurutnya, tekanan harga akan sangat bergantung pada intensitas dan durasi erupsi, tingkat gangguan terhadap aktivitas nelayan, ketersediaan pasokan dari daerah lain serta kelancaran distribusi.
Karena itu, dampak erupsi terhadap harga komoditas perikanan lebih tepat dipandang sebagai potensi tekanan harga yang dapat berlangsung sementara, terutama jika gangguan terhadap pasokan dan distribusi tidak berkepanjangan.
"Apabila pemerintah dan pelaku usaha mampu menjaga distribusi serta memastikan ketersediaan pasokan alternatif, tekanan terhadap kenaikan harga dapat diminimalkan," ujarnya.
Sebaliknya, apabila gangguan berlangsung cukup lama dan pasokan lokal mengalami penurunan signifikan, tekanan terhadap harga komoditas perikanan di Lampung berpotensi semakin terasa di tingkat konsumen.
Khairudin juga menyoroti transportasi sebagai salah satu faktor yang dapat memperbesar tekanan harga.
Gangguan pada jalur transportasi, baik laut maupun darat, dapat memperlambat distribusi hasil perikanan dari sentra produksi menuju pasar. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya angkut sekaligus mengurangi volume pasokan yang tersedia di tingkat pedagang dan konsumen.
Dalam situasi permintaan yang relatif tetap, keterbatasan pasokan dan meningkatnya biaya distribusi pada akhirnya dapat mendorong kenaikan harga jual.
"Erupsi tidak hanya perlu dilihat sebagai persoalan bencana alam, tetapi juga sebagai potensi gangguan terhadap sistem logistik dan stabilitas harga pangan," jelasnya.
Menurut Khairudin, hasil perikanan memiliki karakteristik mudah rusak sehingga sangat bergantung pada kelancaran distribusi. Semakin lama distribusi terganggu, semakin besar pula risiko tekanan terhadap harga dan ketersediaan komoditas di pasar.
Untuk mengantisipasi potensi dampak ekonomi tersebut, Khairudin mendorong pemerintah mengambil langkah antisipatif berdasarkan kondisi lapangan.
Dalam jangka pendek, pemerintah perlu memastikan keselamatan masyarakat sekaligus menjaga kelancaran distribusi hasil perikanan dan kebutuhan pangan.
Pemerintah juga perlu memantau ketersediaan serta perkembangan harga komoditas secara berkala dan menyiapkan jalur distribusi alternatif apabila terjadi gangguan transportasi akibat erupsi GAK.
Koordinasi antara pemerintah daerah, instansi kebencanaan, dinas perhubungan, dinas perikanan hingga pelaku usaha dinilai penting agar gangguan pasokan tidak berkembang menjadi kelangkaan.
"Apabila pasokan mulai terganggu, pemerintah perlu memastikan ketersediaan komoditas melalui optimalisasi pasokan dari wilayah lain sehingga tidak terjadi kelangkaan di pasar," kata Khairudin.
Ia juga mengingatkan pentingnya komunikasi publik yang cepat, transparan dan berbasis data untuk mencegah kepanikan masyarakat maupun praktik spekulasi yang dapat semakin mendorong kenaikan harga.
Untuk jangka menengah dan panjang, pemerintah perlu memperkuat ketahanan rantai pasok pangan dan sistem logistik daerah melalui penyediaan jalur distribusi alternatif, sistem peringatan dini serta mekanisme stabilisasi harga ketika terjadi bencana.
Dengan langkah tersebut, potensi dampak erupsi GAK terhadap pasokan dan harga hasil perikanan di Lampung diharapkan tidak berkembang menjadi persoalan ekonomi dan sosial yang lebih luas.
(Tribunlampung.co.id / Dominius Desmantri Barus)