Janji Esok Hari: Saat Mahasiswa UI Masuk LPKA Tangerang dan Ubah Amarah Jadi Harapan
Dodi Hasanuddin September 10, 2026 12:35 AM

WARTAKOTALIVE.COM, TANGERANG - Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) menghadirkan “Janji Esok Hari”, program pendampingan psikososial bagi anak binaan Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas I Tangerang.

Diinisiasi melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM), program ini merespons tantangan remaja dalam mengenali dan mengelola emosi ketika ruang interaksi sosial serta dukungan lingkungan lebih terbatas.

Melalui pendekatan emotional coaching, mahasiswa UI mendampingi anak binaan untuk mengenali respons emosional, mengembangkan strategi regulasi emosi, dan memperkuat self-esteem. 

Baca juga: Museum Nasional Buka Diri untuk Disabilitas, Kolaborasi UI dan SLB Depok Ciptakan Wisata Inklusif

Keterampilan tersebut diharapkan menjadi bekal bagi mereka untuk membangun kepercayaan diri dan menjalani kehidupan setelah masa pembinaan.

Ketua Tim PKM-PM UI, Dirga Setiawan dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UI, mengatakan program ini berangkat dari keresahan tim melihat anak binaan yang kerap memendam emosi karena bingung mencari tempat untuk bercerita ketika menghadapi masalah.

“Melalui program Janji Esok Hari, kami menghadirkan metode interaktif seperti pemetaan emosi tubuh hingga tactical breathing untuk membantu mereka mengenali emosi. Kami ingin memberikan pemahaman bahwa emosi negatif merupakan hal yang wajar, tetapi perlu dikelola dengan cara yang tepat,” ujar Dirga.

Baca juga: Mahasiswa UI Ajak Lansia di Panti Werdha Cilodong Depok Melawan Pikun dengan Nyanyian dan Warna

Program “Janji Esok Hari” digagas oleh Dirga Setiawan dari FMIPA UI sebagai ketua, bersama Listi Khoirunisa dari Terapi Okupasi, Puspa Ayu Pandu Tirta dari Ilmu Hukum, Agung Dwi Prasetyo dari Produksi Media, dan Safa Syifa El-Rahma dari Psikologi. Program ini berada di bawah bimbingan Dr. Eko Handayani, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dari Fakultas Psikologi UI.

Program yang dilaksanakan sejak Juni ini memadukan aktivitas reflektif, kreatif, dan simulatif dalam tiga tahapan, yaitu Menepi, Menempa, dan Melaju.

Rangkaian tersebut dirancang agar anak binaan tidak hanya memahami regulasi emosi secara teoritis, tetapi juga berlatih menerapkannya dalam situasi yang dekat dengan keseharian.

Pada tahap Menepi (Mengenali, Menerima, Pulih Internal), anak binaan diajak mengenali sinyal emosi melalui pemetaan sensasi tubuh dan media visual.

Baca juga: FEB UI Perkuat Kapasitas 50 UMKM Pangan Sukabumi Lewat Pelatihan Pengelolaan Keuangan Terukur

Mereka juga menggunakan guided journaling untuk menuangkan pikiran negatif yang selama ini dipendam dan melihatnya kembali secara lebih konstruktif.

Tahap Menempa (Mentalitas, Empati, Manajemen Pascaaksi) mengajak anak binaan melatih fokus, ketekunan, dan pengendalian emosi melalui kegiatan menganyam gelang dari tali paracord.

Mereka juga mengikuti role play untuk berlatih menghadapi provokasi dengan komunikasi asertif tanpa terpancing respons emosional maupun verbal.

Selanjutnya, tahap Melaju (Manifestasi, Langkah Jitu, Utama) berfokus pada keterampilan yang dapat digunakan secara mandiri.

Anak binaan berlatih tactical breathing untuk membantu mengelola stres dan menyusun rencana pascabebas melalui “Misi 101 Hari”.

Baca juga: Tak Cuma Jago Masak FEB UI Latih UMKM Sukabumi Strategi Jualan dan Grooming

Rangkaian kegiatan ditutup dengan Canopy of Dreams, yaitu kartu refleksi berisi ucapan terima kasih, kalimat penyemangat, dan harapan positif untuk masa depan.

Dosen Pembimbing, Dr. Eko Handayani, menilai penguatan aspek psikologis perlu menjadi bagian dari proses pembinaan anak di LPKA.

“Pembinaan di LPKA tidak cukup hanya menyasar keterampilan fisik atau kedisiplinan, tetapi yang paling krusial adalah meningkatkan kesehatan mental dan rasa percaya diri mereka. Kami berharap modul pedoman yang disusun tim mahasiswa ini dapat diteruskan secara mandiri oleh para petugas pembina LPKA, sehingga pendampingan emosi anak binaan dapat berjalan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Keberlanjutan tersebut diwujudkan melalui penyusunan dan penghibahan modul panduan praktis kepada petugas pembina dan wali asuh di LPKA Kelas I Tangerang.

Modul ini dapat menjadi acuan bagi petugas untuk melanjutkan aktivitas pendampingan emosi setelah program mahasiswa berakhir.

Baca juga: Mahasiswi UI Raih Platinum Award di Kompetisi Piano Klasik Internasional 2026 di Tokyo

Kepala Subseksi Bimbingan Kemasyarakatan (Bimkemas) LPKA Kelas I Tangerang, Ni Wayan Ernawati, S.IP., mengapresiasi pendampingan yang dilakukan mahasiswa UI.

Menurutnya, pendekatan yang diberikan dapat melengkapi pembinaan dengan membantu anak mempersiapkan diri sebelum kembali ke masyarakat.

“Kami sangat mengapresiasi program ini. Anak-anak di sini butuh lebih dari sekadar disiplin. Dengan adanya pendampingan seperti ‘Janji Esok Hari’, kami berharap mereka bisa lebih siap secara emosional untuk reintegrasi ke masyarakat. Bekal terbesar saat mereka kembali ke dunia luar adalah kemampuan mengelola diri sendiri,” ujar Ni Wayan.

Melalui “Janji Esok Hari”, tim PKM-PM UI berharap pendekatan psikososial dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari pembinaan yang aman dan suportif.

Program ini membawa pesan bahwa masa lalu tidak harus menentukan masa depan; anak binaan tetap memiliki kesempatan untuk mengenali potensi diri dan menyiapkan langkah menuju kehidupan setelah masa pembinaan.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.