TRIBUNNEWS.COM - Koordinator Pelatih Tunggal Putra PB Djarum, Fung Permadi, mengungkap kriteria yang menjadi perhatian dalam pencarian atlet putra pada Audisi Umum PB Djarum 2026 di Kudus.
Fung menyebut kemampuan dasar bermain bulu tangkis menjadi salah satu aspek utama yang harus dimiliki para peserta sebelum tim pelatih melihat potensi mereka secara lebih mendalam.
"Untuk atlet putra dari Kudus ini ada 1.000 sekian, kriterianya tetap permainan dasar bulu tangkis yang baik," jelas Fung saat Konferensi Pers Audisi Umum PB Djarum 2026 di GOR Djarum, Kudus, Rabu (9/9/2026).
Selain teknik dasar, postur tubuh juga menjadi salah satu pertimbangan yang diperhatikan.
Menurut Fung, postur memang tidak selalu dapat menjadi patokan mutlak karena perkembangan fisik seorang anak masih sulit diprediksi.
Tetapi PB Djarum tetap memiliki gambaran mengenai kebutuhan atlet untuk beberapa tahun ke depan.
Baca juga: Nostalgia Kevin Sanjaya di Audisi Umum PB Djarum 2026, Kenang Momen Deg-degan saat Ikut Tahun 2006
"Kemudian postur. Meski sulit diprediksi, tetapi kita punya patokan untuk peserta untuk 5-6 tahun ke depan, tapi dalam tahapan seiring turnamen ini kita bisa melihat cara bermain mereka seperti apa," ujarnya.
Dengan jumlah peserta yang mencapai lebih dari 1.000 atlet putra dari Kudus, proses seleksi menjadi kesempatan bagi tim pelatih untuk melihat secara langsung perkembangan dan karakter permainan setiap calon atlet.
Fung menegaskan, penilaian tidak semata-mata terpaku pada kriteria awal karena performa peserta selama mengikuti rangkaian pertandingan.
"Tapi apabila kita melihat ada penampilan atau potensi punya peluang dapat tiket tambahan," jelasnya.
Peluang tersebut menjadi penting di tengah kebutuhan Indonesia untuk terus memperkuat regenerasi atlet, terutama saat melihat perkembangan sejumlah negara Asia.
Fung menilai pembinaan pemain muda di kawasan Asia berkembang cukup pesat, termasuk melalui ajang kelompok usia yang menjadi salah satu wadah bagi negara-negara lain dalam menyiapkan generasi penerus.
"Di Asia sekarang ada BAC (Kejuaraan Asia) di bawah 18 atau 17 tahun, pembinaannya dari atlet Asia lainnya juga menunjukkan perkembangan serta punya persediaan pemain yang lebih banyak dari kita," ungkap Fung.
Gambaran tersebut bahkan terlihat dalam penyelenggaraan Indonesia International Challenge 2026 di Pontianak ketika sejumlah pemain Taipei mampu melaju hingga semifinal meski masih berusia di bawah 19 tahun.
"Kemarin dari Pontianak (Indonesia International Challenge 2026) saja banyak dari Taipei yang bisa ke semifinal yang justru usianya di bawah 19 tahun," katanya.
"Bisa dikatakan kita di regenerasi cukup tertinggal, tapi untuk mengatasi itu kita akan coba," tegas Fung.
Melalui Audisi Umum PB Djarum 2026, proses pencarian bibit muda pun diharapkan tidak hanya menghasilkan atlet yang memenuhi standar saat ini, tetapi juga pemain yang akan jadi bagian regenerasi.
(Tribunnews.com/Niken)