Keren, Seniman Bandung Buat Inovasi Angklung dengan Teknologi Robotik
Seli Andina Miranti September 10, 2026 11:11 AM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Suara angklung selama ini lekat dengan gerakan tangan para pemain dengan cara menggoyangkan tabung sehingga menghasilkan bunyi khas.

Namun, di tangan seniman asal Bandung, Arief Fazariansyah bersama Ferdy Seniman Angin dan Arul, angklung mendapat wajah baru.

Mereka mengembangkan angklung robotik, sebuah perangkat yang memungkinkan angklung dimainkan secara otomatis menggunakan sistem mekanikal dan kendali digital.

Arief, yang memiliki latar belakang di bidang alat musik dan teknologi, mencoba mencari cara agar sistem yang selama ini digunakan pada instrumen musik modern dapat diterapkan pada alat musik tradisional.

Baca juga: Aksi Sisingaan Hingga Angklung Semarakkan Reuni 50 Tahun Alumni ITB 76 di Kota Bandung

“Sebetulnya ini awal ide itu di tahun 2024 karena kami basic-nya di musical instrument, saya mikir bagaimana caranya sistem yang di gitar itu bisa diaplikasikan di alat musik tradisional,” ujar Arief saat ditemui di tempat workshopnya, di Kota Cimahi, Jawa Barat, Rabu (9/9/2026).

Dari sejumlah alat musik tradisional, angklung dinilai memiliki logika permainan yang cukup dekat dengan sistem tersebut. Dari situlah gagasan angklung robotik mulai dikembangkan.

Prosesnya tidak berlangsung singkat. Pengembangan terus dilakukan selama dua tahun hingga sistem yang digunakan mencapai tahap final pada 2026.

Sekilas, cara kerja angklung robotik ini terdengar sederhana. Setiap angklung digerakkan oleh dinamo yang terhubung dengan komponen mekanikal berupa sistem penggerak. Namun, di balik gerakan sederhana itu terdapat proses riset yang cukup panjang.

“Angklung robotik ini dirancang memiliki dua pilihan pengoperasian. Pertama, dimainkan secara manual menggunakan keyboard. Kedua, menggunakan mode robotik atau controller yang memungkinkan perangkat memainkan sebuah aransemen secara otomatis,” ucapnya.

Dalam mode robotik, sebuah lagu dapat dimainkan secara utuh dengan berbagai elemen musik, mulai dari ritme, hingga variasi nada.

Arief menjelaskan, agar hasilnya terdengar seperti aransemen yang diinginkan, sistem robotik tersebut diprogram menggunakan file MIDI. 

“Data musik yang dibuat kemudian diterjemahkan menjadi perintah bagi dinamo untuk menggerakkan angklung pada waktu dan intensitas tertentu. Dengan sistem itu, musik yang sudah dibuat dalam MIDI dapat diterjemahkan ke permainan angklung secara presisi,” ucapnya.

Riset mekanikal pun dilakukan untuk menentukan bagaimana angklung harus digerakkan agar mampu menghasilkan karakter bunyi yang lebih beragam. Gerakan yang terlalu panjang akan menghasilkan karakter bunyi berbeda dengan gerakan pendek.

Baca juga: Delegasi Delapan Negara ASEAN dan Mitra Terpukau Harmoni Seni Angklung dan Budaya Sunda di Bandung

Inovasi tidak hanya dilakukan pada sistem penggeraknya. Angklung yang digunakan juga dibuat dengan konfigurasi nada yang berbeda dari angklung konvensional.

Untuk membuatnya, Arief dan tim menggandeng perajin angklung. Mereka memesan instrumen dengan tangga nada yang disesuaikan dengan kebutuhan aransemen musik modern. Salah satu perbedaannya adalah keberadaan nada-nada minor.

“Kalau angklung konvensional itu pentatonik, kita ada beberapa custom tangga nada yang memang ada minornya,” kata Arief.

Arief menegaskan bambu tetap menjadi sumber bunyi utamanya. Hal yang berubah adalah cara angklung dikendalikan dan bagaimana kemungkinan musikalnya diperluas.

Arief mengatakan, angklung robotik tidak dibuat untuk menggantikan kesenian tradisional. Sebaliknya, teknologi tersebut diharapkan dapat menjadi ruang kolaborasi baru.

“Tujuan kami membuat robotik angklung ini bukan untuk menghilangkan budaya tradisional. Justru kita berharap bisa kolaborasi,” ujarnya.

Ia membayangkan suatu hari pemain angklung tradisional dan angklung robotik dapat tampil bersama dalam satu panggung.

Bagi Arief, perkembangan teknologi tidak semestinya membuat kesenian tradisional berhenti pada bentuk lamanya. Justru, teknologi dapat menjadi salah satu jalan agar kesenian tersebut kembali menemukan audiens baru.

Pengembangan angklung robotik kini tidak berhenti sebagai eksperimen.

Arief dan tim membuka kemungkinan untuk membawa teknologi tersebut ke tahap produksi. Bentuk pemanfaatannya pun tidak hanya berupa penjualan perangkat, tetapi juga jasa pertunjukan.

“Sistem ini juga dirancang agar dapat menerima pembaruan lagu dari jarak jauh. Modul robotik dapat terhubung melalui internet sehingga aransemen baru dapat dikirimkan tanpa harus membawa perangkat kembali ke tempat pembuatnya,” ucapnya.

Bahkan, terbuka kemungkinan bagi musisi lain untuk membuat aransemen MIDI mereka sendiri dan memasukkannya ke dalam sistem tersebut.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.