POSBELITUNG.CO -- Nama drh Alfan Mehan, dokter hewan yang tewas dalam insiden penembakan di Kampung Muliama, Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.
Alfan dilaporkan menjadi salah satu korban dalam penyerangan terhadap rombongan pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya pada Rabu (9/9/2026) petang.
Saat kejadian, rombongan tersebut tengah menjalankan tugas untuk menyalurkan bantuan pangan kepada masyarakat di Kampung Muliama.
Dalam insiden itu, Alfan bersama dua pegawai lainnya dilaporkan meninggal dunia.
Dua korban lainnya yakni Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Jayawijaya Aprida Rafi (49) dan ASN Dinas Pertanian Wili Mbuik (24).
Alfan mengalami luka tembak pada bagian belakang kepala dan tangan kiri. Ia dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian.
Aprida Rafi juga meninggal di tempat setelah mengalami luka tembak di bagian perut.
Baca juga: Biodata Sontang Coin Manurung, Kepala BPN Bogor yang Kantornya Digeledah, Segini Harta Kekayaannya
Sementara Wili Mbuik mengalami luka tembak di pinggang kanan. Ia sempat dibawa ke RSUD Wamena untuk mendapatkan penanganan medis, tetapi nyawanya tidak tertolong.
Sebelum kejadian, rombongan pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya berangkat dari Wamena menuju wilayah Jayawijaya untuk meninjau kegiatan cetak sawah.
Wamena sendiri merupakan ibu kota Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.
Dalam perjalanan pulang, rombongan yang terdiri dari 11 orang tersebut diduga dihentikan oleh kelompok bersenjata.
Berdasarkan informasi yang dihimpun petugas, delapan warga asli Papua yang berada dalam rombongan, termasuk seorang anak, diduga dipisahkan dari tiga pegawai yang merupakan warga pendatang.
Ketiga pegawai tersebut kemudian diduga menjadi sasaran penembakan.
Sementara lima orang lainnya berhasil menyelamatkan diri dan kemudian berlindung di Puskesmas Muliama.
Muliama merupakan salah satu distrik di Kabupaten Jayawijaya. Wilayah tersebut berada pada ketinggian sekitar 1.780 meter di atas permukaan laut.
Wakil Kepala Operasi Damai Cartenz-2026, Kombes Adarma Sinaga, meminta masyarakat tidak terpancing oleh informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya.
"Kami mengimbau seluruh masyarakat untuk tetap tenang dan mempercayakan proses penanganan perkara ini kepada petugas keamanan. Satgas Kepolisian Operasi Damai Cartenz bersama Polres Jayawijaya akan mengusut tuntas aksi penembakan ini dan berupaya semaksimal mungkin mengungkap serta menangkap para pelaku sesuai dengan ketentuan hukum," tuturnya.
Alfan Mehan disebut berasal dari Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Pria berusia 34 tahun tersebut bertugas sebagai dokter hewan di Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.
Meski demikian, informasi mengenai kehidupan pribadi, keluarga, maupun domisilinya belum disampaikan secara lengkap oleh aparat.
Kepergian Alfan turut mendapat perhatian dari Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI).
Ketua PDHI Cabang Jawa Barat V, drh Mirjawal MM, menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Alfan bersama dua rekannya.
Menurut Mirjawal, gugurnya Alfan ketika sedang menjalankan tugas merupakan kehilangan besar bagi dunia profesi dokter hewan.
Ia mengatakan dokter hewan yang bertugas di lapangan, khususnya di wilayah dengan tantangan geografis dan keamanan, menghadapi risiko yang tidak sedikit.
Tugas mereka tidak hanya berkaitan dengan kesehatan hewan, tetapi juga mendukung kesehatan masyarakat, produksi pangan, ketahanan pangan, serta pelayanan kepada masyarakat di daerah yang sulit dijangkau.
"drh. Alfan Mehan gugur bukan ketika meninggalkan tugasnya, tetapi justru ketika sedang menjalankan pengabdian. Di balik pelayanan peternakan dan kesehatan hewan sampai ke pelosok, ada dokter hewan dan petugas lapangan yang meninggalkan keluarga, menempuh medan yang tidak mudah, dan menghadapi berbagai risiko agar pelayanan negara tetap hadir bagi masyarakat," katanya.
Mirjawal menilai kejadian tersebut kembali menunjukkan pentingnya jaminan keamanan bagi dokter hewan yang bekerja di lapangan.
Menurutnya, perlindungan terhadap profesi tidak hanya menyangkut kesejahteraan dan kepastian hukum, tetapi juga hak untuk bekerja dengan rasa aman saat memberikan pelayanan kepada masyarakat dan negara.
"Hari ini keluarga besar dokter hewan Indonesia berduka. Kita kehilangan seorang sejawat yang memilih hadir dan bekerja untuk masyarakat hingga akhir pengabdiannya. Semoga pengabdian drh. Alfan Mehan menjadi amal kebaikan dan tidak pernah dilupakan oleh profesi maupun negara," kata Mirjawal.
"Selamat jalan, sejawat drh. Alfan Mehan. Pengabdianmu untuk masyarakat dan profesi akan selalu kami kenang," ujarnya.
Kelompok bersenjata pro-kemerdekaan Papua, Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) - Organisasi Papua Merdeka (OPM) Kodap III Ndugama Darakma, mengklaim berada di balik penembakan tiga pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya.
Klaim tersebut disampaikan Manajemen Markas Pusat Komnas TPNPB melalui juru bicaranya, Sebby Sambom, dalam keterangan tertulis kepada Tribun-Papua.com pada Rabu malam.
TPNPB menuduh ketiga korban yang berstatus ASN sebagai agen intelijen militer pemerintah Indonesia.
"Kami bertanggung jawab atas penembakan tiga orang agen intelijen militer pemerintah Indonesia yang berprofesi sebagai ASN di Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya," ujar Sebby.
Kelompok tersebut memiliki versi berbeda mengenai awal kejadian.
Menurut klaim mereka, kendaraan rombongan dihentikan di Jalan Trans Wamena–Tiom untuk diperiksa. Para penumpang disebut diminta tetap berada di dalam kendaraan.
TPNPB kemudian mengklaim ketiga korban berusaha meninggalkan lokasi setelah merasa panik.
"Karena panik dan kaget ketiga korban akhirnya melarikan diri, oleh sebab itu kami tembak mati," klaim kelompok tersebut.
TPNPB menyebut tindakan tersebut dilakukan karena mereka khawatir keberadaan pasukannya diketahui aparat keamanan.
Selain itu, kelompok tersebut juga mengklaim terjadi kontak senjata dengan aparat keamanan di sekitar lokasi pada pukul 17.00 WIT.
Mereka mengaku belum mengetahui apakah terdapat korban dari pihak aparat dalam kontak tembak tersebut.
Sementara itu, klaim TPNPB mengenai ketiga korban sebagai agen intelijen militer maupun detail kronologi penembakan belum terverifikasi secara independen.
Pihak keamanan masih melakukan penanganan dan pendalaman terkait insiden yang menewaskan tiga pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya tersebut.
(Tribun Papua/Surya.co.id/Pos Belitung)