Membedah Cara Berpikir Murthalamuddin yang tidak Biasa
Amirullah September 10, 2026 05:38 PM

 

Oleh: Bukhari M Ali *)

Ada sebuah kebahagiaan yang hampir selalu terasa istimewa di banyak rumah tangga Indonesia:  ketika seorang anak berhasil diterima menjadi PNS.

Telepon berdering. Kabar disampaikan kepada keluarga. Senyum merekah. Mungkin ada syukuran kecil. Orang tua merasa lega. Masa depan anak, pikir mereka, sudah berada di jalan yang aman.

Memang  tidak ada yang salah dengan kebahagiaan itu. Menjadi aparatur negara adalah pekerjaan mulia. Negara membutuhkan guru, dokter, birokrat, polisi, tentara, dan berbagai profesi lainnya untuk menjalankan roda pemerintahan dan melayani masyarakat.

Tetapi ada sebuah pertanyaan yang barangkali perlu kita ajukan lebih jauh: Mengapa cita-cita anak-anak muda kita seolah-olah berhenti pada satu kata: PNS?

Pertanyaan itulah yang menarik ketika kita mendengar cara berpikir Murthalamuddin, Kepala Dinas Pendidikan Aceh, yang disampaikan saat penutupan kegiatan FLASH Perseverrance 2026 di SMAN Modal Bangsa, Rabu (09/09/2026) perang.

Bagi lelaki kelahiran Baktiya, Aceh Utara, 30 November 1970 ini, ukuran kesuksesan seseorang tidak semata-mata terletak pada nilai akademik, atau keberhasilan menembus sekolah kedinasan. Ia justru melihat sesuatu yang berbeda. 

Seseorang, menurut Murthalamuddin, baru benar-benar hebat ketika mampu menciptakan pekerjaan untuk dirinya sendiri sekaligus membuka lapangan kerja bagi orang lain.

Pikiran seperti ini mungkin terdengar sederhana. Tetapi sesungguhnya ia sedang mengetuk pintu cara berpikir kita yang sudah terlalu lama terkunci.

Menjadi pencipta kerja

Selama bertahun-tahun, pendidikan sering kali dibayangkan sebagai tangga menuju sebuah pekerjaan.
Anak belajar dengan rajin. Nilainya bagus, masuk perguruan tinggi, mendapat ijazah, lalu mencari pekerjaan.

Semakin bagus pekerjaan yang diperoleh, semakin dianggap berhasil. Puncak dari semuanya, bagi sebagian keluarga, adalah ketika anak berhasil menjadi PNS.

Seolah-olah perjalanan panjang pendidikan berakhir ketika seseorang memperoleh nomor induk pegawai. Padahal, ada pilihan lain yang jauh lebih menantang sekaligus menarik: menjadi entrepreneur.

Entrepreneur tidak memulai hidup dengan pertanyaan, “Di mana saya bisa bekerja?” Ia memulai dengan pertanyaan yang berbeda: “Apa yang bisa saya ciptakan?”

Perbedaannya kecil dalam kalimat, tetapi besar dalam akibat. Pencari kerja membutuhkan lapangan pekerjaan. Entrepreneur menciptakan lapangan pekerjaan. Pencari kerja menunggu kesempatan. Entrepreneur berusaha menciptakan kesempatan. 

Pernyataan Murthalamuddin bahwa negeri ini tidak akan maju jika semua orang berorientasi menjadi PNS memang terdengar keras.
Namun, kalau kita lepaskan sejenak dari pilihan kata-katanya, ada persoalan besar yang patut direnungkan.

Sebuah negara tentu tidak mungkin seluruh penduduk usia kerjanya menjadi pegawai pemerintah. Negara membutuhkan pengusaha, petani, nelayan, pedagang, pengembang teknologi, pelaku ekonomi kreatif, pemilik restoran, pemilik bengkel, pengembang aplikasi, dan pengusaha muda di desa maupun kota.

Mereka adalah bagian dari mesin ekonomi yang membuat uang terus berputar. 

Bayangkan sebuah daerah yang hanya menghasilkan lulusan untuk kemudian mencari pekerjaan. Lalu siapa yang membuka perusahaannya? Siapa yang mendirikan pabriknya? Siapa yang membangun usaha kulinernya? Siapa yang mengembangkan produk lokalnya? Siapa yang merekrut tenaga kerjanya?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat dunia entrepreneur menjadi penting. Ada satu kekeliruan yang sering terjadi ketika kita berbicara tentang entrepreneur. Kita membayangkan pengusaha besar, gedung bertingkat, mobil mewah,  perusahaan dengan ribuan karyawan. Padahal, entrepreneur bisa dimulai dari sesuatu yang sangat kecil.

Seorang anak SMA membuat kue lalu menjualnya melalui media sosial. Anak muda di kampung mengembangkan usaha kopi. Seseorang membeli hasil pertanian petani lokal, mengemasnya dengan baik, lalu memasarkannya ke kota.

Ada yang membuka bengkel kecil. Ada yang membuat pakaian. Ada yang menjadi fotografer. Ada yang membuat aplikasi. Ada yang menjadi content creator. Ada pula yang mengembangkan usaha peternakan.

Semua bermula dari satu keberanian sederhana: berani mencoba. Karena itu, pendidikan kewirausahaan seharusnya tidak hanya mengajarkan bagaimana menghitung laba dan rugi. Yang jauh lebih penting adalah mengajarkan keberanian melihat peluang.

Memilih jalan berbeda

Sejarah bisnis Indonesia memberikan banyak contoh bahwa kesuksesan tidak selalu lahir dari jalur pekerjaan yang dianggap paling aman.

Chairul Tanjung, misalnya, memulai usaha sejak masih menjadi mahasiswa. Dari berbagai usaha kecil, perjalanannya kemudian berkembang menjadi salah satu kelompok usaha besar di Indonesia.

William Tanuwijaya juga memberikan pelajaran menarik. Ia datang ke Jakarta setelah lulus SMA, kuliah sambil bekerja sebagai penjaga warnet. Dari kedekatannya dengan dunia internet, muncul gagasan yang kemudian berkembang menjadi Tokopedia.

Mereka memiliki jalan masing-masing. Tetapi ada satu benang merah: Mereka tidak menunggu masa depan datang mengetuk pintu. Mereka mencoba mengetuk pintu masa depan lebih dahulu. Itulah mental entrepreneur.

Murthalamuddin juga menyampaikan sesuatu yang tak kalah penting: kesuksesan tidak cukup diukur dari prestasi akademik. 

Sekolah memang mengajarkan matematika, bahasa, ilmu pengetahuan, dan berbagai disiplin ilmu lainnya. Tetapi kehidupan memiliki ujian yang tidak selalu tersedia dalam buku pelajaran. 

Murthalamuddin juga menyebutkan bahwa diterima di sekolah kedinasan bukanlah sesuatu yang membanggakan dibandingkan menjadi CEO sebuah perusahaan terkesan memang kontroversial.

Tetapi justru karena kontroversial, kalimat itu menarik untuk direnungkan. Sebab ia sedang mengajak kita mengubah ukuran keberhasilan. Bukan berarti menjadi PNS tidak sukses. Sama sekali bukan!

Tetapi menjadi PNS bukan pula satu-satunya definisi sukses. Seorang guru yang mengabdikan hidupnya mendidik ribuan anak adalah orang sukses. Seorang dokter yang menyelamatkan kehidupan adalah orang sukses.

Seorang birokrat yang bekerja jujur dan melayani masyarakat adalah orang sukses.Tetapi seorang anak muda yang membangun perusahaan dari nol, mempekerjakan puluhan atau ratusan orang, membayar pajak, dan menghidupi banyak keluarga juga jelas merupakan orang sukses.

Bahkan dari perspektif ekonomi, entrepreneur memiliki posisi strategis. Ia bukan sekadar mencari penghasilan. Ia malah menciptakan nilai. Ia menciptakan pekerjaan. Ia membeli bahan baku. Ia membayar upah, dan is membayar pajak.

Dan ketika bisnisnya tumbuh, roda ekonomi ikut bergerak. Karena itu, gagasan Murthala bahwa entrepreneur bisa menjadi penyumbang pajak, bukan hanya penerima manfaat dari pajak, sebenarnya menyentuh persoalan yang lebih besar: tentang posisi seseorang dalam ekosistem ekonomi sebuah negara.

Karena itu, mungkin sudah waktunya kita mengubah sedikit cara berbicara kepada anak-anak SMA. Jangan hanya bertanya: Setelah lulus mau kuliah di mana?
Setelah kuliah mau kerja di mana?

Sudah daftar CPNS belum?

Sesekali tanyakan pula: Kamu punya ide bisnis apa? Kalau kamu punya modal Rp5 juta, apa yang akan kamu lakukan?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu dapat membuka jendela yang berbeda di kepala seorang anak muda. Sebab entrepreneurship pada akhirnya bukan hanya persoalan bisnis, melainkan ia juga adalah bagaimana cara berpikir?

*) PENULIS adalah Ketua Komite SMA Negeri Modal Bangsa, Aceh

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.